Manjakan Penonton nan Datang ke Stadion

Manjakan Penonton nan Datang ke Stadion

Sepak bola merupakan salah satu olahraga nan sangat popular di global ini. Dari mulai Negara-negara Asia, Afrika, Amerika hingga negara negara Eropa mengenal olahraga ini. Lihat saja kalau ada perhelatan Piala Dunia, semua orang niscaya terfokus dan tertuju ke event empat tahunan ini. Saking populernya hampir di seluruh negara niscaya terjadi demam sepak bola jika ada piala dunia.



Persepakbolaan Negara Negara Eropa

Semua orang rela bangun tengah malam buat menonton olahraga ini. Sekarang ini, kiblat sepak bola telah tertuju ke negara negara Eropa . Banyak pemain dari benua selain Eropa bermimpi buat bermain di liga-liga profesional nan ada di benua tersebut.

Mengapa dapat seperti itu? Banyak alasan kenapa mereka ingin ke sana, di antaranya kemampuan liga-liga di negara itu sudah profesional dan fasilitas nan ditawarkan sudah sangat berbeda. Sepak bola sudah menjadi industri sekaligus hiburan. Tiap akhir pekan niscaya digelar pertandingan-pertandingan sepak bola.

Salah satu alasan kenapa pertandingan digelar di akhir pekan ialah sebab saat itu merupakan waktunya libur dan berkumpulnya warga bersama keluarga. Industri sepak bola menawarkan satu tontonan nan mengasyikan hingga hampir setiap klub nan bertanding niscaya stadion diisi banyak penonton.



Eksistensi Perserikatan Inggris di Negara Negara Eropa

Setiap klub nan berlaga di Perserikatan Inggris selalu saling sikut di lapangan demi memperbaiki tabel klasemen Perserikatan Inggris. Beberapa tahun ke belakang, klasemen Perserikatan Inggris memang selalu didominasi oleh empat klub raksasa, nan dikenal dengan sebutan the big four , yakni Manchester United, Arsenal, Chelsea, dan Liverpool.

Namun, dalam dua tahun terakhir, penguasaan the big four sedikit terganggu dengan kemunculan klub mega kaya, sekaligus rival sekota dari Manchester United, yakni Manchester City, dan kemunculan klub Tottenham Hotspur nan sedikit lebih konsisten dalam dua tahun belakangan ini. Siapa nan tersingkir? Tampaknya Liverpool harus sedikit berbesar hati lengser dari tampuk klasemen empat teratas di Perserikatan Inggris.

Berbeda dengan liga-liga Eropa lainnya nan cenderung mudah ditebak berdasarkan lokasi pertandingan, Perserikatan Inggris tidaklah demikian. Jika di Perserikatan Eropa lain tuan rumah cenderung memiliki peluang besar buat menang, maka di Perserikatan Inggris pemenang pertandingan hanyalah tim nan benar-benar siap, tak peduli tuan rumah atau pun tamu.

Kunci kemenangan di Perserikatan Inggris lebih banyak ditentukan oleh konsistensi sebuah klub dalam menjalani setiap laga. Sebut saja Chelsea. Di awal musim mereka menunjukkan penguasaan nan begitu kuat, bahkan superior terhadap klub peserta lain. Namun, di tengah musim, mereka kehilangan konsistensi sehingga tim gurem sekalipun dapat mencuri poin dari mereka.

Lain halnya dengan rival mereka, Manchester United, nan di awal musim terlihat terseok-seok, tapi mampu membuang jauh-jauh penampilan inkonsisten mereka, sehingga menjadi sebuah klub nan selalu menang di hampir semua laga nan dimainkan. Oleh sebab konsistensi nan ditunjukkan Manchester United, tidaklah mengherankan jika akhirnya mereka sukses meraih tampuk kampiun Perserikatan Inggris musim 2010-2011.

Boleh dibilang kalsemen Perserikatan Inggris merupakan klasemen terpanas nan dimiliki Perserikatan Eropa. Setiap pekan selalu saja ada nan berubah di tabel klasemen ini. Di Perserikatan Inggris, sudah bukan menjadi keanehan lagi jika tim medioker mampu mengalahkan tim raksasa.

Di Perserikatan Spanyol misalnya. Ketika Hercules mengalahkan Barcelona, ini ialah peristiwa nan luar biasa. Namun, ketika di Perserikatan Inggris, tepatnya ketika Manchester United dikalahkan oleh Charlton Atletic, ini ialah peristiwa nan biasa-biasa saja. Tak ada nan istimewa, sebab hampir semua tim medioker dapat mengalahkan tim raksasa.

Yang lebih menarik dari klasemen Perserikatan Inggris , klub kampiun biasanya baru dapat diketahui beberapa pekan sebelum perserikatan berakhir, bahkan bukan mustahil jika klub kampiun baru dapat diketahui di pekan terakhir. Setiap klub nan berlaga di Perserikatan Inggris ialah klub nan pantang menyerah.

Mereka yakin, sebelum wasit meniupkan peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan, semua masih dapat terjadi, termasuk dalam hal meraih kemenangan. Sebagai contoh, mungkin moment final Perserikatan Champions Eropa 1999 ialah moment nan tak mungkin dapat dilupakan oleh para penggemar Perserikatan Inggris, khususnya penggemar Manchester United.

Kala itu, MU bertanding melawan Bayern Munchen. Menit 89, Kedudukan masih 1-0 buat kemenangan Munchen. Namun, dalam tempo 2 menit saja MU sukses membalikkan kedudukan hingga akhirnya menjadi juara. Menakjubkan.

Di musim 2011/2012. Semua tim hampir sama kuatnya. Terlihat istilah The Big Four sekarang berubah menjadi The Big Six . Ya telah disebutkan tadi klub kaya raya nan dimiliki oleh Syekh Mansour nan berkebangsaan Uni Emirat Arab, Manchester City, serta klub Tottenham Hotspur asal London Utara, sekligus rival Arsenal.

Manchester United, klub nan ditukangi oleh Sir Alex Ferguson ini, selalu sukses menduduki puncak klasemen 2 musim terakhir. Dengan materi pemain nan berkualitas, Sir Alex Ferguson mampu meracik taktik dengan lihai. Dan nan terpenting dalam skuat The Red Devils terdapat komposisi pemain muda dan tua.

Nama-nama seperti Ryan Giggs, Paul Scholes, Edwin Van der Sar terbukti memiliki kontribusi nan sangat luar biasa. Mereka telah mempersembahkan gelar perserikatan Inggris, perserikatan champion, piala FA, piala carling, serta piala global antar klub.

Arsenal, klub nan tampil luar biasa di awal musim, kemudian sempat menduduki peringkat 6 klasemen. Ya, klub nan di arsiteki professor Arsene Wenger ini hanya finish di urutan ke 3. Penampilan luar biasa Robin Van Persie tak mampu mengejar ketertinggalannya dengan Manchester United.

Klub ini dapat dibilang inkonsisten sebab sang arsitek sering melakukan blunder , baik dalam membeli pemain maupun dalam strategi. Terbukti setelah kalah 8-2 oleh Manchester United, Arsenal seperti kehilangan jati dirinya. Arsenal pun langsung membeli 5 pemain sekaligus, seperti Per Mertesacker, Andre Santos, Mikel Arteta, Yossi Benayoun, dan Park Chu Young.

Manchester City, kedatangan sekaligus kepemilikan Syekh Mansour, berdampak positif. Terbukti klub ini membeli pemain-pemain kelas wahid, seperti Carlos Teves, Sergio Aguero, Edin Dzeko, Yaya Toure, Kolo Toure, Gareth Barry, Gael clichy, Mario Ballotelli, Joleon Lescott, dan Samir Nasri.

Mario Ballotelli, Sergio Aguero, Carlos Tevez, Yaya toure, dan sang kapten Vincent Kompany memberikan peran nan sangat vital bagi The Citizen . Di bawah kepelatihan Roberto Mancini, mereka sanggup menjuarai perserikatan Inggris setelah vakum puluhan tahun lamanya.

Tottenham Hotspur, klub nan hanya mampu finish di urutan ke empat dan harus rela tak ikut perserikatan champion eropa, lantaran Chelsea menjuarai perserikatan champion. Setelah sempat bersaing dengan Arsenal di peringkat tiga, Tottenham akhirnya harus puas di urutan ke empat dibawah Arsenal.

Semenjak di asuh Harry Redknapp, permainan Tottenham pun berubah. Penampilan apik Gareth Bale, Luka Modric, dan Ravael Van der Vaart mampu mengalahkan klub raksasa asal italia, Inter Milan di babak penyisihan Perserikatan Champion.

Pembelian Ravael Van der Vaart ialah pembelian nan berhasil. Pemain Belanda itu ditarik dari klub lamanya Hamburg SV. Steven Pieenar dari Everton, Jermaine Defoe nan balik lagi dari Portsmouth juga menghiasi daftar pembelian pemain musim 2011/2012.

Liverpool, klub ini telah terseok-seok di dua musim terakhir, banyak membeli pemain, tapi seolah tak menghasilkan apa-apa. Nama seperti Stewart Downing, Henderson, Jose Enrique, dan Andy Carrol hanya menipiskan keuangan saja.

Chelsea, klub nan terseok-seok dari awal sampai akhir musim, ternyata membawa kabar mengejutkan. Ya, chelsea menjuarai perserikatan champion setelah mengalahkan Bayern Munchen lewat drama adu pinalti. Di bawah asisten instruktur Roberto di Matteo lah chelsea bisa menjuarai perserikatan champion eropa.



Manjakan Penonton nan Datang ke Stadion

Kita lihat saja perserikatan nan paling memanjakan mata seperti Perserikatan Inggris. Bukan hanya sisi olahraga nan ditampilkan, tetapi sisi entertainment juga di tonjolkan. Aktor-aktor lapangan hijau tersebut selalu menampilkan aksi-aksi terbaiknya. Tidak ada bedanya dengan nonton film di bioskop, inilah sebuah kemajuan nan sudah diraih di negara asal sepak bola tersebut.

Ini nan tak terjadi di Indonesia, fanatisme kedaerahan di Perserikatan Indonesia masih sering muncul. Penonton nan datang pun masih terbatas. Jika dibandingkan antara laki-laki dan perempuan masih terlihat signifikan perbedaannya. Di Inggris sana, baik anak-anak atau pun orang tua dapat nyaman berada di stadion menonton tim kesayangannya.

Semua ini harus diubah. Persepakbolaan di Indonesia harus dapat menarik simpati masyarakat dari taraf bawah hingga kalangan atas. Di akhir pekan, stadion sepak bola belum menjadi wahana hiburan nan menampung banyak minat. Keadaan stadion masih belum bersahabat bagi anak-anak atau orang tua penggila bola di Indonesia.

Kapan sepak bola di Indonesia akan menjadi sebuah Industri seperti di negara asalnya? Bukan mimpi tentunya kalau semua ditata secara profesional. Perserikatan di negara kita niscaya dapat berjalan seperti liga-liga di Eropa sana.

Pembangunan fasilitas sepakbola harus diutamakan buat menjamin kenyamanan para penggila sepak bola nan datang ke stadion. Loyalitas dan fanatisme akan datang dengan sendirinya jika pengurus dan manajemen klub dapat mengelola dengan sebaik mungkin. Bahkan, bukan tak mungkin sepakbola Asia khususnya Indonesia nantinya dapat sejajar dengan sepakbola di negara negara Eropa.