Peristiwa menghebohkan

Peristiwa menghebohkan



Gelegar Selebritas

Ada memang beberapa seniman nan menciptakan sensasi bagi dirinya sendiri agar ia masuk warta atau paling tak menjadi bahan pembicaraan. Kalau ia dibicarakan orang, artinya ia dikenal dan dianggap menarik. Jangan heran kalau seniman nan penuh sensasi ini malah semakin ngetop dan laku. Bahkan ia dapat tampil setiap hari di televisi. Ada nan tampil beberapa kali di beberapa stasiun televisi. Hebat sekali. Pundi-pundinya semakin penuh.

Lihat apa nan terjadi dengan Dewi Perssik, Julia Perez, Nikita Mirzani. Semuanya ialah contoh selebritas sensasional. Mungkin saja mereka tak berusaha membuat sensasi, namun, akhirnya mengikuti sensasi itu dan entah sengaja atau tak sengaja mereka malah membuat barah semakin tinggi. Tentu saja hal ini semakin membuat pemburu warta senang. Mereka akan meminta konfirmasi dan akan menunggu si seniman sejak pagi hingga pagi lagi.

Artis nan berasal dari Indonesia saja dibuat seperti itu, apalagi seniman dari Hollywwod. Paparazzi malah lebih gila lagi menguntit para seniman nan dianggap mempunyai nilai jual sangat tinggi ini. Peristiwa seorang paparazzi nan tertabrik sebuah mobil hingga meninggal dunia, menjadi sesuatu nan harus diperhatikan. Sang paparazzi mengira bahwa nan mengendarai mobil mewah milik Justin Bieber itu ialah sang seniman sendiri. Ia mengejarnya. Sayang ia tertabrak mobil lainnya.

Ketika Lady Diana dari Inggris masih hidup, ia pun harus main kucing-kucingan dengan para awak media. Hingga akhirnya ia pun meninggal global dalam sebuah kecelakaan dampak dikejar oleh paparazzi. Ia tak sendirian dalam peristiwa itu. Ada Doddy Al Fayed nan juga meninggal di loka di dalam mobil mewah mereka. Kisah ini tentu saja sangat mengejutkan dan sangat menyedihkan. Kematian Lady Diana ini mengundang kontroversi namun akhirnya semua harus mengakui kalau kecelakaan itulah nan telah menyebabkan kematian sang puteri nan begitu dicintai banyak orang.

Kalau ingin menjadi seorang seniman nan dipuja, memang siap dibicarakan dan siap digosipkan. Lelaki nan sebenarnya ialah anak kandung saja dapat dikira pacar. Lalu dibuatkan kisah nan menarik tentang keduanya. Awalnya misalnya judul arikelnya, ‘Si seniman anu tertangkap basah bersama dengan seorang laki-laki’. Warta ini diberi bumbu tentang romansa si seniman sebelumnya dan tak lupa juga citra laki-laki nan dibawa oleh sang artis.

Setelah ada pernyataan resmi dari sang artis, barulah beritanya dibuat dengan lebih menis dan menyatakan bahwa sang seniman bersama dengan adiknya. Sudah berapa artikel nan hadir sebab keberadaan sang seniman nan terlihat dekat dengan keluarganya itu. Herannya, penonton bahagia saja melihat dan membaca warta ringan nan belum tentu memberikan kegunaan tersebut. Tetapi itulah para penggemar. Mereka akan berkorban apapun bagi para seniman nan disenanginya.

Ariel NOAH nan telah konkret berbuat tak senonoh saja masih dicinta oleh banyak orang. Sungguh luar biasa kekuatan nan dimiliki oleh para seniman ini. Itulah mengapa ketika ada seniman nan tersangkut narkoba, BNN cepat-cepat menangkap sang artis. BNN takut para penggemar sang seniman akan ikut menjadi pemakai narkoba. Aksi meniru perbuatan para seniman ini memang sangat mengerikan. Mulai dari cara berpakaian nan tak pantas hingga cara bicara dan kata-kata nan diucapkan oleh mereka.



Panutan dan Tuntunan

Kata-kata nan disebut dengan bahasa alay, bahasa cadel, kalau dahulu ada bahasa slang baru, semuanya dimulai oleh para seniman cukup terkenal. Selanjutnya diikuti oleh para penggemar mereka hingga masyarakat bosan dan tak menggunakannya lagi. Setelah itu akan muncul tren baru nan juga dimulai oleh para artis. Penggunaan celana pendek juga berasal dari seniman wanita nan tak sadar dan tak malu memamerkan tubuhnya. Dapat saja mereka dikatakan menjual tubuhnya demi uang. Belum lagi pergaulan mereka nan bebas. Sporadis ada seniman nan benar-benar menjaga diri dari semua hal nan dilarang. Mereka semua terlihat menikmati kebersamaan dengan orang-orang nan non mahramnya.



Peristiwa menghebohkan

Peristiwa menggemparkan terjadi di depan apartemen tua di Dakota, New York, pada 8 Desember 1980 malam. John Lennon, bintang rock paling terkenal, terbaring setengah sadar dengan empat lubang peluru menembus punggungnya. Beberapa menit sebelum peristiwa nahas itu terjadi, John dan istrinya, Yoko Ono, sedang berjalan pulang kembali ke apartemennya. Ketika sampai di depan apartemen, tiba-tiba terdengar suara memanggil. Sejurus kemudian, terdengar suara pistol menyalak beberapa kali. Selebritas global ini pun langsung roboh bersimbah darah.

Dengan tenang, Mark David Chapman, kemudian duduk di anak tangga. Pembunuh John ini tak mencoba melarikan diri. Ketika polisi datang dan menangkapnya, dia sedang membaca The Carthcer in the Rye, sebuah novel karangan JD Salinger.

Teori Konspirasi
Teori-teori persekongkolan lantas bermunculan, beberapa di antaranya bahkan ada nan kejam menuduh Yoko Ono sebagai otak dari tragedi ini. Paul McCartney ialah salah seorang nan percaya dengan penalaran ini, mengingat Yoko Ono pernah melakukan rekayasa penangkapan terhadap John di Jepang, dalam kasus ganja.

Tesis dari Bresler, menyatakan bahwa Chapman ialah seorang pembunuh nan dikendalikan. Pikirannya dimanipulasi oleh beberapa elemen sayap kanan nan mungkin terhubung dengan nan baru terpilih saat itu (baca: Ronald Reagan). Tesis itu didasarkan pada fenomena bahwa FBI dan CIA telah menguntit John Lennon sejak dari konser Free John Sinclair pada 1969 hingga 1976 sebab keterlibatannya dalam aktivitas politik dan masalah imigrasi.


Sebenarnya, saat itu John telah memenangkan konkurensi keimigrasiannya dan berhenti dari aktivitas politik. Dia bahkan menarik diri dari kehidupan publik. Namun, apartemennya tetap diawasi. Ke mana pun pergi, dia selalu diikuti, bahkan teleponnya tetap disadap. Inti dari temuan Bresler ialah pemerintah mengelompokkan John Lennon kepada orang-orang nan berbahaya. Dia dipandang sebagai seorang radikal harus segera dihentikan.

Dalam cara pandang resmi semacam itu, timbulnya paranoid mungkin dapat dipahami. Sebab, hal itu dapat mempermalukan dan meruntuhkan wibawa pemerintah. Terlebih, kharisma John disinyalir dapat mempengaruhi remaja nan sangat mengelu-elukannya.

Pemerintah Diduga Terlibat
Dalam membangun kasusnya, Bresler tetap optimis dengan menyusun beberapa titik kunci buat mencari jawab atas pertanyaan, "Siapa nan ingin membunuh bintang rock tua?" Pemerintahan Richard Nixon dan politisi ultrakonservatif sayap kanan, seperti Senator Storm Thurmond, entah dengan alasan apa selalu terpaku pada angapan bahwa John ialah suatu masalah.

Bagi mereka, pernyataan vokal dan aktivitas politik dari penyanyi serta penulis lagu ini sangat berbahaya. Selain itu, aktivitas John juga dipahami sebagai subversif paling buruk. Terlebih sebab John sangat terkenal dan dicintai banyak orang.

FBI dan John Lennon
J. Edgar Hoover menunjukkan satu halaman arsip FBI tentang John Lennon. Judulnya ditulis dengan tulisan tangan dalam huruf modal nan diberi garis bawah, berbunyi SEMUA EKSTREMIS HARUS DIANGGAP BERBAHAYA.

Pemerintah berusaha habis-habisan buat menolak keinginan John Lennon buat menjadi warga negara AS agar dia dapat tetap tinggal di Amerika. Bahkan, Senator Storm Thurmond pernah mengirim memo kepada Jaksa Agung John Mitcell buat mendeportasi John Lennon. Arsip FBI tentang John Lennon tebalnya hampir tiga ratus halaman. Menurut Hoover, John berada di bawah supervisi dan pengintaian secara terus-menerus. Bahkan, terkadang supervisi ini dilakukan dengan cara nan sangat melecehkan.


Salah satunya, dengan mendadak seseorang nan patut diduga sebagai agen FBI atau CIA, mendatangi apartemen John sekadar buat mengantarkan sebungkus kacang, atau hal sederhana lainnya. Strategi ini mirip dengan strategi nan digunakan FBI pada kasus Martin Luther King, Jr, beberapa tahun sebelumnya.

Pada akhir 1972, ketika supervisi dan pengintaian nan dilakukan FBI telah sampai pada puncaknya, secara bercanda John berkata kepada Paul Krassner, "Dengar, jika terjadi sesuatu padaku dan Yoko, pahamilah bahwa itu bukan suatu kecelakaan!”