Menjaga Akhlak Sebagai Bentuk Kesiapan Terhadap Kematian

Menjaga Akhlak Sebagai Bentuk Kesiapan Terhadap Kematian

Kehidupan manusia di global ini dapat diibaratkan seperti sebuah siklus nan tak terputus. Kenapa? Karena pada dasarnya manusia berasal dari tanah, dan nantinya akan kembali ke tanah. Berikut ialah klarifikasi nan lebih mendalam. Seperti nan kita tahu, saripati nan ada pada sperma laki-laki sebenarnya berasal dari makanan nan berasal dari tanah. Saat kemudian manusia dilahirkan, menginjak usia anak-anak, remaja, menikah, mempunyai anak, menua, dan meninggal dunia, pada akhirnya manusia dikuburkan pula di tanah.

Dengan kata lain, manusia ialah makhluk nan berasal dari tanah, nan nantinya juga akan kembali lagi ke tanah. Lebih lanjut, sifat manusia pun sebenarnya seperti sebuah siklus nan tak terputus. Kenapa? Hal ini disebabkan sebab saat kecil manusia bersikap kekanak-kanakan. Meskipun akhirnya manusia bisa mempunyai sifat dewasa, kelak saat usia tua menjemput, sikap manusia akan kembali lagi menjadi kekanak-kanakan.

Lebih lanjut, kematian dapat dikatakan ialah seperti sebuah kesimpulan. Seluruh hayati manusia, berapa tahun pun dia hayati di dunia, seolah-olah disimpulkan pada detik-detik terakhir tersebut. Sakaratul maut seolah menjadi rangkuman atau esensi dari seluruh isi buku kehidupan nan kita tulisi. Indikasi dari kematian nan baik ataupun kematian nan jelek terlihat dari " the last words " alias "kata-kata terakhir" nan diucapkan si pelaku.

Hal ini tentunya sering kita dengar di berbagai ceramah, orang nan ketika nyawanya dicabut sedang dalam keadaan menyebut asma Allah, maka orang tersebut akan masuk surga Allah.

Maka dari itu, artikel ini akan membahas seputar akhlak Nabi Muhammad SAW dan bagaimana cara beliau menghadap kematiannya. Menarik bukan? Artikel ini secara generik akan dibagi menjadi tiga bagian, yaitu detik-detik menjelang kematian Rasulullah, Do'a Rasulullah Ketika Ajal Menjemput dan juga Menjaga Akhlak Sebagai Bentuk Kesiapan Terhadap Kematian.



Detik-Detik Menjelang Kematian Rasulullah

Dengan kata lain, baik buruknya akhlak seseorang akan tergambarkan pada detik-detik kematiannya; tergambar pada kata-kata terakhir nan diucapkannya; atau tergambar dari sedang apa ketika dia meregang nyawa —sedang taatkah atau sedang maksiatkah. Bagaimana dengan Rasulullah SAW? Citra tentang akhlak Nabi tersimpulkan dengan jelas pada akhir kehidupannya.

Syaikh Shafiyyurahman Mubarrakfury dalam Shirah Nabawiyyah mengungkapkan bahwa sekitar waktu Dhuha, Rasulullah SAW memanggil Fathimah, putri kesayangannya. Beliau kemudian membisikan sesuatu kepadanya hingga Fathimah menangis. Kemudian, beliau mendoakan buah hatinya tersebut. Setelah itu, beliau membisikkan sesuatu kepadanya hingga Fathimah tampak tersenyum bahagia.

Apa nan beliau bisikkan ketika itu? Fathimah mengatakan, "Rasulullah SAW membisiki saya bahwa beliau sebentar lagi akan wafat, lalu saya pun menangis. Kemudian, beliau membisiki saya lagi dan mengabarkan bahwa akulah anggota keluarga beliau nan pertama kali akan menyusul beliau, sehingga saya pun tersenyum." Dalam sebuah keterangan, beliau pun mengabari Fathimah bahwa dia ialah pemimpin para wanita semesta alam.

Perasaan Fathimah sangat sedih dan tak menentu. Hatinya sangat sedih melihat penderitaan ayahandanya nan sangat dicintainya itu. Ia pun berkata, "Alangkah menderitanya engkau wahai ayah?"

Nabi Muhammad SAW menjawab, "Tidak ada penderitaan atas ayahmu setelah hari ini." Setelah mengatakan hal tersebut, Nabi Muhammad SAW kemudian memanggil dua cucu kesayangannya, yaitu Hasan dan Husain. Setelah kedua cucu Nabi Muhammad tersebut datang, Nabi Muhammad lalu memberikan serangkaian nasihat indah.

Lebih lanjut, Rasulullah tak hanya memanggil putri tercintanya, Fatimah, dan kedua cucu kesayangannya, hasan dan Husein. Beliau pun memanggil istri-istri dan anggota keluarganya buat memberikan nasihat dan peringatan kepada mereka. Pada saat-saat terakhir itu, Rasulullah SAW masih sempat mengingatkan para sahabat agar menjaga shalat dan menyayangi orang-orang lemah.

Tergambar jelas, bukan, bagaimana akhlak Nabi Muhammad SAW nan tak hanya menyayangi keluarganya, akan tetapi juga dengan tulus menyayangi umatnya?



Do'a Rasulullah Ketika Ajal Menjemput

Ketika sakitnya semakin berat, beliau masih menyempatkan diri buat bersiwak dengan dibantu oleh Aisyah. Mungkin ini ialah suatu pertanda bahwa Nabi Muhammad ingin menghadap kekasihnya, Allah Swt, dalam keadaan nan terbaik. Beliau berbaring di pangkuan istrinya itu. Di dekat tangan beliau terdapat sebuah bejana berisi air. Beliau mencelupkan kedua tangannya ke dalam air lalu mengusapkannya ke wajah, sambil bersabda, ' Lâ ilâha illallâh, sesungguhnya kematian itu ada sekaratnya'." (HR Bukhari)

Seusai bersiwak, Nabi mengangkat kedua tangannya atau jarinya-jarinya, mengarahkan pandangan ke langit-langit, dan kedua bibirnya bergerak-gerak. Aisyah nan masih sempat mendengar apa nan beliau katakan, menceritakan bahwa pada saat itu Nabi Muhammad SAW berujar lirih,

" Bersama orang-orang nan Engkau beri nikmat atas mereka dari para nabi, shiddiqin, syuhada, dan shalihin. Ya Allah ampunilah aku; rahmatilah aku; dan pertemukanlah saya dengan Kekasih Yang Maha tinggi. Ya Allah, Kekasih Yang Maha tinggi ." (HR Ad-Darimi)

Beliau mengulang kalimat terakhir tersebut sampai tiga kali lalu tangan beliau lunglai dan beliau kembali kepada Kekasih Yang Maha Tinggi. Fragmen ini menggambarkan betapa mulianya akhlak Nabi SAW. Di tengah sakitnya nan semakin berat beliau masih konsisten dan bersemangat dalam menyampaikan nilai-nilai kebaikan, tanpa manipulasi dan ingin dipuji.

Selain itu, beberapa riwayat pun menyebutkan bahwa Nabi Muhammad sempat berkata "umatku" sebanyak tiga kali. Hal tersebut niscaya telah menjadi bukti bagi siapapun bahwa Nabi Muhammad SAW sangat mencintai ummatnya.



Menjaga Akhlak Sebagai Bentuk Kesiapan Terhadap Kematian

Membaca cerita tentang bagaimana detik-detik saat Nabi Muhammad meninggal dunia, mungkin bisa dikatakan bahwa dalam peta kognitif beliau, nan menjadi memori terdalamnya ialah cita-cita, harapan, dan kesungguhan buat mengabdi kepada Allah Swt. dan menebarkan afeksi kepada manusia. Inilah orientasi paling tinggi nan mendasari seluruh mobilitas laku dalam kehidupan Nabi Muhammad SAW nan tersimpulkan pada detik-detik akhir kehidupan beliau.

Berkaca dari Rasulullah, ada baiknya kita selalu berusaha buat menjaga akhlak kita. Meskipun tak dapat sesempurna akhlak nabi, sebaiknya kita selalu berusaha semaksimal mungkin buat selalu berakhlak baik. Hal ini disebabkan sebab kita tak tahu kapan ajal akan menjemput kita.

Sudah niscaya kita tak ingin amalan kita selama di global sia-sia sebab saat ajal menjemput kita sedang melakukan sesuatu nan tak disukai oleh Allah Swt. Salah satu cerita tentang kematian nan sering diperdengarkan di berbagai pengajian ialah tentang dua saudara.

Masing-masing saudara tersebut, sebut saja A dan B mempunyai kepribadian nan amat berbeda satu sama lain. Alkisah, A ialah orang nan sangat rajin beribadah. Jika anda ingin menemuinya, anda bisa mencari A di masjid atau loka ibadah lainnya.

Hal ini sangat berbeda dengan B. B ialah orang nan sangat sporadis beribadah. Jika anda ingin berjumpa dengan B, maka loka nan harus anda datangi bukanlah loka ibadah, akan tetapi diskotik, klub malam, ataupun loka perjudian.

Suatu hari dikisahkan kedua saudara ini salah berjumpa dan berbincang satu sama lain. Pendek cerita, mereka membuat keputusan buat saling mencoba kehidupan masing-masing. A nan awalnya ialah pakar ibadah nan taat kepada Allah, akan mencoba kehidupan B nan jauh dari agama.

Begitu pula dengan B. B nan biasanya selalu jauh dari agama dan melakukan banyak hal nan tak disukai agama akan berubah menjadi orang nan taat agama dan pakar beribadah. Perjanjian itu akan mereka lakukan selama satu hari.

Akan tetapi, naas tidak bisa ditolak. Ketika mereka sedang bertukar kehidupan dan kebiasaan, ajal menjemput mereka berdua melalui bala alam nan dikirimkan oleh Allah. Maka, seperti nan anda duga, A nan awalnya ialah seorang pakar ibadah, meninggal dalam keadaan melakukan maksiat.

Sedangkan B nan kehidupan biasanya sangat jauh dari agama justru meninggal dalam keadaan sedang menyembah Allah. Karena itulah, meskipun akhlak kita tak dapat sesempurna akhlak nabi, kita harus selalu berusaha buat menjaga akhlak kita agar senantiasa menjadi lebih baik dari hari ke hari.

Lebih lanjut, semoga kita pun dapat mendapati kematian nan latif sebagaimana kematian manusia termulia ini. Selain itu, semoga kita juga akan bisa berkumpul dengan beliau nan terkasih, Nabi Muhammad SAW di surga kelak. Âmîn.