Bagaimana Film Ditemukan?

Bagaimana Film Ditemukan?

Seberapa sering kita menonton sebuah film dalam sehari? Rasanya di jaman seperti ini, film akan selalu menemani hayati Anda di setiap detiknya, baik disadari ataupun tidak. Mengapa dapat begitu? Karena nan namanya film tak dapat difokuskan pada tayangan cerita berdurasi satu-dua jam nan tayang di bioskop atau televisi. Sebuah iklan di televisi nan durasinya sepuluh detik ialah film, acara talkshow di televisi juga merupakan film, begitupun dengan videoklip lagu nan Anda lihat di layar kaca, dan banyak lagi.

Jadi, apakah film itu harus tampil lewat layar kaca atau layar lebar saja? Tidak juga, sebab kadang Anda menemukan bentuk-bentuk film pada layar bigscreen di perempatan jalan, dan juga di situs-situs internet.



Film Sama Dengan Foto

Definisi Film secara sederhana ialah gambar nan bergerak. Inilah nan membedakan film dengan foto meski dua-duanya dihasilkan dari alat bernama kamera (bahkan tak sporadis dua karya ini dapat berasal dari kamera nan sama.).

Walaupun secara fundamental film itu berbentuk foto juga. Tapi jika sebuah foto terdiri dari satu benda nan diam, sebuah film ialah hasil dari ratusan foto nan dijajarkan sedemikian rupa hingga terlihat bergerak. Foto-foto ini disebut frame . Untuk melakukan gerakan nan mulus dalam film berdurasi satu detik Anda akan memerlukan duapuluh empat frame, artinya duapuluh empat foto. Jadi, silahkan bayangkan berapa jumlah foto nan diperlukan buat film berdurasi dua jam. Bukankah akan sangat banyak sekali?

Mungkin ada nan bertanya, mengapa harus dua puluh empat foto? Karena setelah diteliti, jumlah itulah nan dapat menghasilkan mobilitas dengan kecepatan normal seperti mobilitas Anda sehari-hari. Jadi bila melihat gerakan slow motion , maka dapat dipastikan jumlah frame per detiknya di bawah duapuluh empat, begitupun kebalikannya dengan film nan dipercepat.



Bagaimana Film Ditemukan?

Seperti nan dijelaskan di atas bahwa global film akrab dengan global fotografi. Itu sebab film pun ditemukan oleh seorang fotografer. Pada tahun 1878, seorang fotografer Inggris bernama Eadweard Muybridge melakukan percobaan menggunakan 24 kamera nan menghasilkan gambar kuda nan sedang berlari. Ini dapat disebut film nan pertama, meski saat itu tak langsung diberi nama "movie".

Pada masa itu sebuah susunan gambar menggunakan engkol nan diputar menggunakan tangan, hingga sulit mencapai kecepatan 24 frames per detik. Kecepatan film pada masa itu hanya sekitar 5-10 frames per detik tergantung seberapa cepat engkol diputar. Sementara nan benar-benar diakui sebagai film pertama ialah sebuah rekaman gambar taman Roundhay nan dibuat oleh Louis Le Prince pada tahun 1888.

Lalu, setelah itu film terus mengalami perkembangan, mulai dari era film bisu, sampai akhirnya ada kamera nan mampu menangkap suara. Mulai dari kamera nan tidak aktif hingga kamera masa kini nan mampu memperbesar gambar, mengatur fokus, mengambil gambar dengan ketajaman nan hebat, dan banyak lagi. Begitu juga komponen-komponen film lainnya seperti skenario, setting tempat, kostum pemain, bentukan tim produksi, kamera, aktor, penonton, storyboard, dan musik terus mengalami perkembangan hingga akhirnya muncullah film 3D, film animasi, ataupun film digital seperti nan kita kenal sekarang.

Tapi tetap saja, apapun bentuk komponennya, Semua tetap mengacu pada definisi film nan Anda kenal. Dua puluh empat gambar nan bergerak dalam satu detik.

Itulah bentuk film nan sebenarnya.