Proses Terjadinya Pulau Jawa

Proses Terjadinya Pulau Jawa

Pulau Jawa merupakan salah satu pulau terbesar ke tiga belas di dunia. Pulau nan menjadi pusat pemerintahan Negara Republik Indonesia ini merupakan pulau terpadat di dunia. Lima kota terbesar dan terpadat di Indonesia berada di Pulau Jawa, yaitu Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, Semarang dan Bandung.



Keadaan Geografis Pulau Jawa

Secara geografis wilayah Jawa di sebelah barat berbatasan dengan Pulau Sumatera, di sebelah timur berbatasan dengan Pulau Bali. Sementara di sebelah utara dengan Borneo dan Pulau Chrismast di selatan.

Jawa memiliki luas wilayah lebih kurang 138.793,6 kilometer persegi dan dengan kepadatan penduduk sekitar 979 jiwa per kilometer persegi. Memiliki satu sungai terpanjang dan cukup terkenal yaitu Sungai Bengawan Ssolo dengan panjang mencapai 600 km. Sungai ini bersumber dari mata air di kaki Gunung <awu, Jawa Tengah. Mengalir ke utara kemudian ke timur dan akhirnya bermuara di Bahari Jawa.

Pulau ini juga memiliki banyak gunung dan pegunungan sebagai dampak proses vulkanik nan diyakini para pakar sebagai salah satu pemicu terbentuknya pulau ini. Salah satu di antaranya ialah gunung berapi teraktif di Indonesia yaitu Gunung Merapi (2.968 m). Sementara gunung paling tinggi di jawa ialah Gunung Semeru dengan ketinggian mencapai 3.676 m.

Dengan suhu rata-rata 22 derajat Celcius - 29 derajat Celcius dan kelembapan rata-rata 75% sepanjang tahun, pulau ini cukup nyaman buat didiami. Suhu daerah sepanjang pantai utara biasanya lebih panas, mencapai 34 derajat Celcius.



Penduduk Pulau Jawa

Mayoritas penduduk Pulau Jawa ialah dari suku Jawa dan sunda. Pada umumnya suku Jawa menghuni wilayah bagian timur sementara suku Sunda di wilayah bagian barat. Meskipun tak dipungkiri, saat ini jawa sudah dipadati oleh berbagai etnis/suku dari seluruh penjuru dunia.

Menurut para pakar sejarah, nenek moyang suku Jawa ialah ‘ Homo Erectus ’. Hal ini ditandai dengan ditemukannya fosil Homo Erectus di sepanjang genre sungai Bengawan Solo sekitar 1,7 juta tahun nan lalu. Homo Erectus kemudian dikenal juga dengan sebutan ‘manusia Jawa’.



Proses Terjadinya Pulau Jawa

Ada banyak pendapat para pakar nan berkembang tentang proses terjadinya Jawa. Pendapat generik mengatakan bahwa pulau ini bagian tidak terpisah dari gugusan kepulauan Sunda Besar dan Gambaran Sunda, nan nota bene merupakan ujung benua Asia sebelum es mencair.

Menurut para ahli, terjadinya gempa sekitar 20 juta tahun Sebelum Masehi menyebabkan tubrukan antara lempeng Benua Asia dan Australia ialah salah satu pemicu terbentuknya pulau ini. Peristiwa ini disebut dengan peristiwa vulkanik. Patahan-patahan nan awalnya aktif melakukan konvoi sebagai imbas gempa nan hebat. Namun lama-kelamaan konvoi itu semakin stabil dan konfigurasi serta bentuk-bentuk pulau Jawa dan pulau sekitarnya mulai terlihat jelas.

Sementara itu, teori geologi antik menyebutkan proses pembentukan Jawa ialah sebagai dampak dari konvoi anak benua India ke utara. Anak benua ini kemudian bertabrakan dengan lempengan sebelah utara dan selanjutnya melahirkan Gunung Himalaya. Menurut beberapa sumber, proses ini terjadi sekitar 20-36 juta tahun nan lalu.

Dalam proses selanjutnya lempengan bumi raksasa bagian selatan sebagian terendam air bahari dan sebagian muncul di permukaan. Bagian lempengan bumi nan muncul di permukaan ini kemudian dikenal sebagai gugusan pulau nan tidak lain ialah mata rantai gunung berapi. Sekarang rangkaian gunung berapi aktif masih banyak kita temui di sepanjang pulau Sumatera, Jawan dan gugusan Kepulauan Nusantara.

Kepulauan Nusantara (Nuswantoro) pada masa dahulu terkenal dengan istilah Sweta Dwipa . Sweta Dwipa merupakan gugusan pulau nan banyak bahkan mencapai ribuan pulau. Salah satu dari pulau tersebut dikenal dengan sebutan Jawata yang selanjutnya lebih dikenal dengan sebutan Jawa.



Ini Alasan Para Wisatawan Memenuhi Pulau Jawa

Seperti diketahui bersama bahwa Jawa merupakan pulau terpadat penduduknya di Indonesia. Tidak hanya itu, Jawa pun menjadi loka perhentian sebagian besar wisatawan, baik itu wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara. Apa nan membuat para wisatawan tersebut memenuhi Jawa? Ini dia alasannya.

Jawa menjadi perhatian banyak wisatawan sebab selain banyaknya jenis serta loka wisata, juga dipengaruhi oleh beberapa hal seperti banyaknya bandara dan hotel, baik hotel berbintang maupun kelas melati. Pulau ini memiliki 9 bandara dengan kapasitas 48,63 juta kursi pesawat. Jumlah ini ialah 48,72% dari jumlah holistik di Indonesia.

Pulau Sumatera memang memiliki lebih banyak bandara, yaitu berjumlah 29, tetapi jumlah kursi pesawatnya hanya 16,88 juta. Pulau Kalimantan memiliki 20 bandara dengan kapasitas kursi pesawat sebanyak 10,51 juta kursi. Lalu, Pulau Sulawesi memiliki 11 bandara dengan kapasitas kursi pesawat berjumlah 10,36 kursi.

Sementara itu, Pulau Bali nan hanya memiliki satu bandara, tetapi berkapasitas 5,7 juta kursi pesawat. Pulau terakhir adalalah Papua nan memiliki 20 bandara dengan kapasitas kursi pesawat sebanyak 3,56 juta.

Jika dijumlah secara total, kapasitas kursi penerbangan domestik pada 2012 lalu berjumlah 99,8 juta kursi. Penerbangan domestiknya melayani 117 kota dan jumlah ini lebih banyak dari tahun sebelumnya nan hanya melayani 104 kota. Hal ini tentunya akan mendongkrak tren baru di masa nan akan datang. Secara perlahan, pesawat baling-baling akan dilupakan dan mulai banyak nan beralih memakai pesawat jet.

Alasan kedua kenapa Jawa banyak dikunjungi oleh para wisataawan ialah sebab banyaknya hotel berbintang dan nan tidak. Jawa menjadi sebuah pulau dengan jumlah hotel paling banyak di Indonesia, yaitu memiliki hotel sebanyak 8.275 hotel dengan kapasitas kamar berjumlah 219.081 kamar. Ini artinya Jawa mampu mengakomodasi sekitar 51,21% kebutuhan para wisatawan di Indonesia.

Setelah itu, diikuti oleh Pulau Sumatera dengan persentase sebesar 16,32%, lalu Pulau Bali dengan persentase 10, 69%, Pulau Kalimantan dengan persentase 8,54%, Pulau Sulawesi, Maluku, Papua dan terakhir Nusa Tenggara dengan persentase 1,79%.

Jumlah akomodasi nan telah diklasifikasi pada 2011 lalu yaitu sebanyak 17.113 hotel dengan kapasitas berjumlah 427.820 kamar. Di sisi lain, wisatawan nusantara nan ada di Jawa berjumlah sekitar 60 persen. Sementara wilayah Maluku harus bekerja sama dengan wilayah-wilayah terdekat buat membuat akomodasi sehingga penyebaran wisatawan bisa merata.



3 Gunung Tertinggi di Pulau Jawa

Gunung-gunung nan tertinggi di sebuah daerah sering dijadikan acuan para pendaki buat mendakinya. Ada rasa kebanggaan tersendiri jiak seorang pendaki gunung mampu menginjakkan kakinya di salah satu puncak gunung paling tinggi di suatu wilayah. Nah, berikut ini ialah 3 gunung tertinggi di Jawa. Ketiga gunung berikut ini dikenal dengan julukan “Triple S” –nya Jawa.



1. Gunung Semeru

Gunung Semeru atau disebut juga dengan Mahameru merupakan gunung tertinggi di Jawa dan termasuk salah satu gunung berapi paling aktif di Indonesia. Salah satu keunikan dari gunung dengan tinggi 3676 meter ini ialah kawahnya nan selalu mengeluarkan letupan setiap 15 sampai 20 menit sekali.



2. Gunung Slamet

Gunung Slamet merupakan gunung berapi nan ada di Jawa. Gunung dengan tinggi 3.428 meter ini terletak di beberapa perbatasan kabupaten di Jawa Tengah seperti Banyumas, Brebes, Pemalang, dan Purbalingga. Gunung paling tinggi kedua di Jawa ini memiliki empat kaldera di bagian puncaknya dan semuanya masih aktif.



3. Gunung Sumbiang

Gunung paling tinggi ketiga di Jawa ialah Gunung Sumbiang. Gunung nan tingginya mencapai 3.371 meter ini berada di tiga kabupaten, yaitu Wonosobo, Magelang, dan Temanggung. Sementara itu, jalur buat mendakinya yaitu di Garung, Cepit, dan Bowongso.

Nah, itulah fakta-fakta seputar Pulau Jawa. Semoga bermanfaat!