Perlu Koordinasi dan Konsolidasi Kerja

Perlu Koordinasi dan Konsolidasi Kerja

Agenda primer dalam global pendidikan ialah meningkatkan kualitas lulusan secara maksimal. Agenda ini merupakan jawaban atas menurunnya kualitas hasil proses belajar. Sementara pada taraf dasar buat meningkatkan Prestasi Belajar Siswa SD , salah satu cara nan ditempuh ialah dengan menerapkan sistem belajar guru vak.



Pengoptimalan Guru Vak

Sekolah dasar merupakan jenjang pertama bagi seseorang buat menapaki perjalanan menuntut ilmunya di forum formal. Di taraf dasar ini seorang murid akan mengenal berbagai mata pelajaran nan baru baginya. Misalnya seperti Bahasa Indonesia, IPS, dan IPA. Tentu saja pondasi pembelajaran bagi murid ini menentukan nasib mereka di level nan lebih tinggi. Oleh sebab itu perlu adanya pencerahan bersama di tanah air buat meningkatkan prestasi dari para murid di taraf dasar.

Di era pendidikan sekarang output sebuah forum pendidikan dilihat dari seberapa besar nilai kelulusan siswanya pada ujian nasional. Memang sistem ujian nasional tak bisa disalahkan sepenuhnya dalam menilai prestasi seorang murid. Akan tetapi berdampak pada metode pembelajaran nan ada di berbagai sekolah di Indonesia. Para guru akan terus menggenjot siswa-siswinya buat mahir dalam mengerjakan soal, akibatnya sisi pendidikan nan terpenting terlupakan begitu saja. Yaitu peningkatan kualitas belajar pada anak, anak nan terus dipaksa buat mengerjakan soal akan menganggap belajar ialah sebuah kegiatan nan membosankan.

Disamping pembelajaran nan bersifat behaviouristik atau tradisional nan membuat jemu para peserta didik. Kemampuan seorang guru sekolah dasar juga menyebabkan mata pelajaran ditempuh dengan kurang variasi dan kreatif. Maka muncullah sistem pembelajaran di sekolah dasar nan memakai guru spesifik pada satu mata pelajaran, tak seperti sebelumnya dimana wali kelas bertanggung jawab atas beberapa mata pelajaran sekaligus.

Pembelajaran guru vak ialah proses pembelajaran nan dilakukan dengan menugaskan satu guru buat satu mata pelajaran. Selama ini nan terjadi di sekolah dasar ialah penerapan guru kelas. Akibatnya, beban kerja dan tanggung jawab guru menjadi sedemikian berat karena guru harus mempunyai kemampuan buat memberikan pembelajaran sebanyak sembilan mata pelajaran.

Dengan cara seperti ini, maka upaya meningkatkan prestasi belajar siswa SD seringkali terganjal. Banyak sekolah dasar nan prestasi belajar siswanya pas-pasan, bahkan kurang dari ketentuan.

Sebagai manusia biasa, kemampuan guru sangatlah terbatas. Jika harus menjalankan tugas sebanyak itu, tentunya kesulitan. Apalagi jika kita menelaah perubahan pola kehidupan nan sedemikian rupa, maka tugas guru SD semakin berat jika menjadi guru kelas. Seperti kita ketahui, pola kehidupan anak sekarang sangat jauh dibandingkan anak jaman dulu.

Anak jaman dahulu begitu penurut sehingga proses belajar bisa dilakukan dengan sebaik-baiknya, tetapi anak-anak sekarang sungguh berbeda. Mereka telah menjadi pribadi nan lain sehingga prestasi belajar siswa SD tak sebagaimana prestasi anak jaman dahulu.

Untuk mengantisipasi rendahnya prestasi belajar siswa SD akhir-akhir ini, maka beberapa sekolah menerapkan pola pembelajaran guru vak. Dengan cara seperti ini, diharapkan proses pembelajaran bisa lebih efektif karena guru benar-benar kompeten di bidangnya.

Dengan menerapkan guru memegang mata pelajaran sinkron dengan kompetensinya, atau tak sebanyak guru kelas, maka taraf konsentrasi guru menjadi lebih tinggi. Harapannya, dengan kondisi seperti ini, maka hasil pembelajarannya bisa lebh maksimal.



Dibutuhkan Jumlah Guru Lebih Banyak

Pada umumnya, di setiap sekolah dasar terdapat tenaga pendidikan sebanyak 8 (delapan) orang, yaitu enam guru kelas dan dua guru vak, yaitu guru agama dan guru olahraga. Tetapi, ada juga sekolah nan guru olahraganya tak ada sehingga guru kelas harus merangkap sebagai guru olahraga. Tentunya hal seperti ini sangat berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa SD.

Sementara itu, jumlah mata pelajaran nan harus diberikan kepada anak didik sinkron dengan kurikulum nan berlaku ialah sebanyak sembilan mata pelajaran. tentunya, seorang guru harus benar-benar menjadi seseorang nan mumpuni dalam segala pelajaran. Dalam pola pembelajaran guru kelas, seorang guru harus menguasai pelajaran matematika, bahasa Indonesia, IPS, IPA, PKn, dan sebagainya.

Hal ini menyebabkan guru kesulitan saat harus mempersiapkan atau membuat persiapan proses pembelajaran dan menyebabkan rendahnya prestasi belajar siswa SD.

Jika kita menerapkan pola pembelajaran guru vak, maka setiap guru hanya memberikan pembelajaran satu mata pelajaran saja. Artinya kita harus menyediakan guru sebanyak sembilan guru. Dalam konteks ini, buat meningkatkan prestasi belajar siswa SD, kita tak menyediakan sembilan guru buat setiap tingkatan, tetapi sembilan guru vak itu buat seluruh tingkatan.

Satu guru vak memberikan pembelajaran buat setiap taraf pada mata pelajarannya. Misalnya guru mata pelajaran IPA, maka dia harus memberikan pembelajaran IPA dari kelas rendah hingga kelas tinggi.



Perlu Koordinasi dan Konsolidasi Kerja

Orang bilang bahwa dengan sistem pembelajaran guru vak ini, maka proses pembelajaran dilakukan secara keroyokan. Artinya, buat setiap strata kelas, buat setiap jam pelajaran, sinkron dengan jadwal pelajaran nan berlaku, siswa harus berjumpa dengan guru nan baru.

Oleh sebab itu, mereka harus beradaptasi dengan guru tersebut agar bisa mengikuti pola nan digunakan sang guru. ini merupakan langkah konkrit buat meningkatkan prestasi belajar siswa SD. Dengan berganti guru, setidaknya siswa mendapatkan kondisi nan berbeda dan tentunya hal tersebut menjadikan pikiran fresh.

Agar tim pengajar ini bisa bekerja dan mencapai tujuan nan diharapkan, yaitu meningkatkan prestasi belajar siswa SD, maka sine qua non koordinasi dan konsolidasi semua pihak. Para guru harus selalu berkoordinasi dan konsolidasi agar kondisi siswa selalu terpantau semuanya. Dengan koordinasi dan konsolidasi ini diharap bisa saling sharing kondisi siswa.

Koordinasi dan konsolidasi sangat krusial dilakukan karena kita menyadari bahwa kemampuan setiap anak sangatlah berbeda. Ada siswa nan begitu cepat menerima pelajaran, tetapi ada anak nan lambat belajarnya.

Ada anak nan mempunyai kelebihan pada pelajaran IPA, tetapi nan lain pada pelajaran IPS. Setiap guru harus memahami kondisi ini agar prestasi belajar siswa SD ini bernar-benar terkontrol dan bisa ditingkat dengan pola pembelajaran guru vak ini.

Faktor lain nan sangat mempengaruhi kesuksesan belajar seorang siswa ialah orang tua mereka sendiri. Orang tua merupakan panutan sehari-hari dalam beraktivitas, maka jangan memarahi anak suka nonton tv bila orang tua sendiri doyan sinetron atau acara hiburan televisi lainnya. Meningkatkan kualitas belajar anak berarti sang orang tua harus mempunyai komitmen buat berubah menjadi tauladan nan baik di rumah. Dengan kondisi tersebut memungkinkan anak akan mencintai aktivitas belajar di rumah dan sekolah. Otomatis prestasi mereka akan naik dengan cepat.

Lantas, jika pola seperti ini bisa memberikan hasil maksimal, kenapa kita tak melakukan terobosan dalam pola pembelajaran guru kelas menjadi guru mata pelajaran? Ini merupakan penemuan global pendidikan nan harus kita lakukan agar prestasi belajar siswa SD bisa meningkat secara signifikan. Ayo!