Pertempuran Bandung Lautan Barah - Perintah Pengosongan Kota Bandung

Pertempuran Bandung Lautan Barah - Perintah Pengosongan Kota Bandung

Indonesia memiliki sejarah panjang dalam meraih kemerdekaannya. Salah satu nan membekas ialah peristiwa pertempuran Bandung Lautan Barah . Peristiwa besar nan terjadi di tanah Pasundan itu membekaskan sebuah cerita sejarah besar bagi masyarakat Bandung khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya.

Siapa nan takkenal peristiwa pertempuran Bandung Lautan Api? Peristiwa dahsyat itu tercatat dalam buku-buku sejarah. Mengajarkan para generasi muda tentang sebuah perjuangan dalam arti nan sesungguhnya. Bahwa kebebasan memang harus diupayakan, sekalipun dengan mempertaruhkan nyawa.

Perjuangan masyarakat Indonesia saat itu merata. Dari ujung barat hingga timur. Begitupun dengan masyarakat Bandung. Merasa menjadi bagian dari negara Indonesia, sudah lelah dengan segala tindak penindasan nan dilakukan oleh penjajah ialah alasan mendasar. Kemerdekaan akan didapat ketika masyarakat Indonesia bersatu. Semangat seperti itulah nan kira-kira membara di dada. Hal itu kemudian mendasari terjadinya peristiwa pertempuran Bandung Lautan Barah nan melegenda.

Pertempuran Bandung Lautan Barah atau Peristiwa Bandung Lautan Barah ialah peristiwa pembumihangusan Kota Bandung pada bulan Maret 1946. Pembumihangusan nan dilakukan pejuang Republik Indonesia tersebut dilakukan buat mencegah tentara sekutu dan Belanda memanfaatkan fasilitas-fasilitas di kota nan ditinggalkan pihak Republik tersebut.

Latar belakang terjadinya pertempuran Bandung Lautan Barah niscaya berkaitan dengan keinginan buat lepas dari belenggu para penjajah. Saat itu, memanfaatkan segala kesempatan ialah sebuah keharusan. Melawan penjajah tak mesti harus berhadapan satu versus satu. Dengan strategi dan kecerdikan serta sigap memanfaatkan kesempatan juga merupakan cara nan efektif.



Cerita Awal Mula Terjadinya Pertempuran Bandung Lautan Api

Peristiwa pertempuran Bandung Lautan Barah terjadi pada bulan Oktober 1945. Saat itu tentara sekutu mulai memasuki Kota Bandung. Hal tersebut tentu saja mengusik ketenangan dan rasa nasionalisme para pemuda Bandung. Bersamaan dengan datangnya para tentara sekutu, para pemuda dan pejuang di Bandung juga sedang berjuang merebut senjata dari tangan tentara Jepang.

Tentara sekutu nan sesuka hati memasuki wilayah Bandung kemudian menuntut agar senjata-senjata nan telah direbut para pemuda diserahkan kepada mereka. Permintaan tentara sekutu, tentu menjadi hal nan mustahil. Mengingat semangat pemuda Bandung dan pejuang Bandung nan sangat tinggi buat mempertahankan wilayahnya. Peristiwa tersebut menjadi latar belakang terjadinya pertempuran Bandung Lautan Api.

Tentara sekutu memberikan ultimatum pertama pada 21 November 1945. Dengan alasan buat menjaga keamanan, mereka menuntut agar Kota Bandung bagian utara dikosongkan oleh pihak Indonesia selambat-lambatnya pada 29 November 1945. Ancaman-ancaman seperti itu semakin membuat pejuang Indonesia nan ada di daerah Bandung merasa geram. Tanpa disadari oleh pihak sekutu, hal tersebutlah nan menjadi penyebab terjadinya pertempuran Bandung Lautan Api.

Pihak sekutu membatasi wilayah di tanah nan jelas-jelas bukan milik mereka. Pihak sekutu memerintahkan warga Bandung mengosongkan wilayah Bandung. Batas kota bagian utara dan selatan nan harus dikosongkan ialah rel kereta barah nan melintasi Kota Bandung. Para pejuang Republik Indonesia tak mau mengindahkan ultimatum Sekutu tersebut. Sejak saat itu, sering terjadi insiden antara pasukan sekutu dan pejuang Republik. Insiden tersebut seperti sebuah rangkaian peristiwa pertempuran Bandung Lautan Api nan jauh lebih dahsyat.

Beberapa hari sebelumnya, tepatnya pada 25 November 1945, rakyat Bandung ditimpa musibah, yakni banjir besar dampak meluapnya Sungai Cikapundung. Bala alam tersebut menelan ratusan korban nan dihanyutkan derasnya arus sungai. Ribuan penduduk Bandung juga kehilangan loka tinggal. Musibah banjir ini "melengkapi" dahsyatnya peristiwa Bandung Lautan Api.



Pertempuran Bandung Lautan Barah - Agresi Tentara Sekutu dan Belanda

Rangakaian cerita pertempuran Bandung Lautan Barah pun berlanjut. Keadaan jelek rakyat Bandung tersebut justru dimanfaatkan tentara sekutu dan Belanda atau NICA (Netherland Indies Civil Administration). Mereka menyerang rakyat nan sedang tertimpa musibah.

Pada 5 Desember 1945, pesawat-pesawat tempur Inggris mengebom daerah Lengkong Besar. Selanjutnya, pada 21 November 1945, tentara Sekutu kembali menjatuhkan bom di kota Bandung, tepatnya di daerah Cicadas. Pertempuran Bandung Lautan Barah pun »dimulai".

Dengan segala kelebihan nan dimiliki oleh para tentara sekutu, persenjataan lengkap, semuanya serba terbaru, mereka menyerang warga Bandung nan saat itu tengah dilanda musibah banjir. Peristiwa pertempuran Bandung Lautan Barah sedang dalam "proses". Warga Bandung seperti tengah diuji kesabarannya. Tanpa disadari pihak sekutu hal tersebut seperti bom waktu nan siap meledak kapan saja.

Tentara sekutu mengeluarkan ultimatum kedua pada 23 Maret 1946. Kali ini, mereka menuntut Tentara Republik Indonesia (TRI) mengosongkan seluruh kota Bandung.



Pertempuran Bandung Lautan Barah - Perintah Pengosongan Kota Bandung

Dari Jakarta, Pemerintah Republik Indonesia memerintahkan agar TRI mengosongkan Kota Bandung. Menteri Keamanan Rakyat Mr. Amir Sjarifuddin tiba di Bandung dengan perintah kepada TRI buat mengundurkan diri dari Kota Bandung.

Sementara itu, dari Markas TRI di Jogjakarta datang perintah nan berbeda. Tentara Republik Indonesia dinstruksikan buat tak meninggalkan Kota Bandung.

Walau dengan berat hati, TRI di Bandung akhirnya mematuhi perintah dari Jakarta. Akan tetapi, sebelum meninggalkan Kota Bandung, para pejuang Republik melancarkan agresi ke arah kedudukan-kedudukan tentara Sekutu.

Hal tersebut bukan lantas menghentikan perjuangan warga Bandung buat mempertahankan wilayahnya. Membela dengan cara lain pun dilakukan, pertempuran Bandung Lautan Barah menjadi salah satu cara peristiwa dari cara nan dipilih.



Pertempuran Bandung Lautan Api

Pertempuran Bandung Lautan Barah pun benar-benar terjadi. Selain menyerang kedudukan tentara sekutu, para pejuang juga membumihanguskan Kota Bandung bagian selatan. Pembumihangusan Kota Bandung tersebut diputuskan melalui musyawarah Majelis Persatuan Perjuangan Priangan (MP3) pada 24 Maret 1946.

Keputusan musyawarah tersebut diumumkan oleh Kolonel Abdoel Haris Nasoetion selaku Panglima Divisi III/ Priangan. Beliau juga meminta rakyat buat meninggalkan kota. Pertempuran Bandung Lautan Barah dilakukan dengan banyak pertimbangan, mengingat dampak nan akan dirasakan oleh warganya.

Bersama rakyat, TRI sengaja membakar kota nan mereka cintai. Udara Kota Bandung nan biasanya sejuk dipenuhi asap hitam nan membubung tinggi. Saat itu, listrik di Kota Bandung juga mati. Pertempuran Bandung Lautan Barah benar-benar berdampak jelek bagi masyarakat Bandung dan sekitarnya.

Pasukan sekutu pun mulai menyerang. Pertempuran sengit terjadi sebab para pejuang Republik memberikan perlawanan hebat. Di Desa Dayeuhkolot, sebelah selatan Bandung, pertempuran paling dahsyat terjadi. Di Dayeuhkolot terdapat gudang mesiu nan dikuasai sekutu. Di sanalah, pertempuran Bandung Lautan Barah "bermarkas".

Pihak Republik bermaksud menghancurkan gudang mesiu tersebut. Dua orang pemuda, Muhammad Toha dan Muhammad Ramdan diutus buat meledakkan gudang mesiu di Dayeuhkolot tersebut. Dua pemuda pemberani tersebut sukses melaksanakan tugas berat itu. Dua pemuda hebat tersebut menjadi pahlawan dalam pertempuran Bandung Lautan Api. Mereka meledakkan gudang mesiu dengan granat tangan. Akan tetapi, Muhammad Toha dan Muhammad Ramdan ikut terbakar bersama gudang mesiu nan mereka ledakkan.

Semula, staf pemerintahan Kota Bandung memutuskan akan tetap tinggal di dalam kota. Namun, demi keselamatan mereka ikut keluar kota pada pukul 21.00. Sekitar pukul 24.00 Bandung Selatan telah kosong dari penduduk dan Tentara Republik Indonesia. Akan tetapi, barah masih membakar kota. Kota Bandung telah berubah menjadi lautan api. Pertempuran Bandung Lautan Barah meninggalkan bekas nan "membara".

Peristiwa nan dikenal sebagai “Bandung Lautan Api” tersebut oleh komponis Ismail Marzuki diabadikan dalam sebuah mars perjuangan nan sangat terkenal, “Halo-Halo Bandung”. Semangat pertempuran Bandung Lautan Api turut bisa dirasakan ketika lagu ini dinyanyikan.

Halo, Halo Bandung,
Ibu kota Periangan,

Halo, Halo Bandung ,
Kota kenang-kenangan,

Sudah lama beta,
Tidak bertemu dengan kau,

Sekarang telah menjadi lautan api,
Mari Bung rebut kembali.