Pengaruh Cuaca dan Iklim terhadap Tanaman Tebu

Pengaruh Cuaca dan Iklim terhadap Tanaman Tebu

Dalam setiap usaha perkebunan, termasuk di dalamnya perkebunan tebu, faktor iklim dan cuaca memberikan pengaruh nan sangat besar. Ya, iklim dan cuaca serta pengaturan air sangat menentukan keberhasilan usaha perkebunan tebu. Untuk itu, para petani tebu disarankan buat melakukan pemeliharaan dan perawatan tanaman tebu secara berkala.

Perlu diketahui bersama, penanaman tebu dimulai dari menanam bibit hingga rembang atau tebang tebu memerlukan waktu sekitar 11 hingga 14 bulan. Pada bulan-bulan pertama, tebu membutuhkan air nan cukup. Air ini dibutuhkan buat mempercepat tumbuhnya mata, memperbanyak anak, juga buat menyuburkan tanaman tebu itu sendiri. Dengan terpenuhinya kebutuhan air, rumpun tebu akan semakin banyak dan batangnya akan semakin panjang, tebal, serta kuat.

Masa-masa tebu membutuhkan air nan cukup ialah saat awal penanaman hingga mencapai usia 8 bulan. Air nan dibutuhkan dapat didapat dari air irigasi atau air hujan. Setelah melewati usia 8 bulan, petani harus mulai mengurangi air sebab pada usia tebu nan sudah tua, air tak lagi dibutuhkan. Dengan demikian, petani harus senantiasa melakukan pengontrolan secara berkala agar tebu nan ditanam tak kebanyakan air.

Pada tebu nan sudah berusia tua, air tak lagi dibutuhkan mengingat batang tebu harus meningkatkan kadar gula pada batangnya. Kadar gula atau saccharose ini akan bertambah jika kadar air nan terdapat dalam batang berkurang.



Pengawasan Gangguan Iklim dan Cuaca pada Perkebunan Tebu

Anda selaku petani tentu tak menginginkan jika tebu nan dipanen memiliki kadar gula nan rendah, bukan? Untuk menghindari itu semua, petani haruslah melakukan supervisi terhadap gangguan alam. Gangguan alam nan seringkali menjadi penghambat keberhasilan usaha perkebunan tebu ialah air dan angin. Untuk itu, perlu dilakukan supervisi terhadap kedua “pengganggu” tersebut.



1. Supervisi terhadap Gangguan Air

Gangguan alamiah dalam usaha tebu nan pertama ialah air. Pada saat usia tanam, tebu memang membutuhkan pasokan air nan cukup. Namun saat memasuki usia panen, air menjadi salah satu musuh tanaman tebu nan paling berbahaya. Ya, bila tebu sudah memasuki masa panen, sementara hujan mulai turun, petani harus segera terjun ke kebun. Petani wajib melihat keadaan tanaman dan galengannya.

Bila tanaman tebu masih kokoh berdiri, petani boleh sedikit lega. Namun, jangan lantas menghentikan pengecekan ini. Hal selanjutnya nan harus dilakukan petani tebu ialah melakukan pengecekkan terhadap genangan air. Jika ada air nan menggenang, petani harus segera mengalirkan air tersebut sehingga tak mengendap dalam tanah.

Hal ini perlu petani lakukan sebab petani harus menjaga agar jangan sampai panenan tebu tersebut mendapatkan hasil nan kurang memuaskan. Sebagaimana nan telah disebutkan di atas, tebu tua nan telah masak jika kebanyakan terkena air akan mengakibatkan turunnya kadar gula/randemen. Jika hal ini terjadi, petani tersebut tentunya tak akan mendapatkan keuntungan.



2. Supervisi Terhadap Gangguan Angin

Gangguan alamiah nan seringkali menyerang tebu ialah angin. Angin nan bertiup dengan kencang akan menyebabkan tanaman tebu tumbang. Jika ada angin kencang, terlebih dibarengi dengan turunnya hujan, mau tak mau petani harus segera memeriksa kondisi perkebunannya. Hal pertama nan dilakukan ialah mengecek tanaman tebu nan tumbang, lalu memeriksa genangan airnya.

Jika dalam perkebunan kita terdapat tanaman tebu nan tumbang, tindakan nan sebaiknya harus segera dilakukan ialah mengikat tanaman tebu nan tumbang tersebut ke beberapa tanaman tebu lain nan masih berdiri kokoh, kemudian berusaha buat menegakkannya kembali. Perlu diketahui, jika tanaman miring atau tumbang tadi dibiarkan, akan menyebabkan tumbangnya tanaman tebu nan lain. Makin lama, tentunya tanaman nan tumbang tadi akan bertumpang tindih dengan tanaman lainnya.

Hasil tanaman tebu nan roboh atau miring ini tak akan sebaik tanaman nan berdiri tegak. Tanaman tebu miring atau tumbang akan membuang terlalu banyak energi buat menunjang kehidupannya, sedangkan energi nan dibuang percuma ini dapat saja digunakan tanaman nan tegak buat menambah jumlah kadar gula.



Pengaruh Cuaca dan Iklim terhadap Tanaman Tebu

Merawat tebu nan telah ditanam merupakan pekerjaan nan tak kalah ribet dengan merawat atau menjaga bayi. Perawatan tebu nan sudah diatanam ini memerlukan penanganan tersendiri. Setiap hari atau paling tak dua hari sekali, kita harus melihat dan turun ke kebun supaya mengetahui bagaimana keadaan bibit nan kita tanam.

Kemudian, jika cuaca panas, kurang lebih tiga hari sekali kita harus melakukan penyiraman. Namun, jika kebetulan ada curah hujan, kita pun tak boleh langsung merasa bahagia sebab pekerjaan menyiram tak perlu lagi dilakukan. Pada saat turun hujan, justru pekerjaan kita semakin banyak sebab kita harus memastikan agar tak terdapat air nan menggenang. Adanya genangan air akan menimbulkan kerusakan pada bibit, bahkan terjadi pembusukan bibit.

Untuk itu, dalam mengusahakan agar tanaman tebu kita bisa berproduksi dengan baik, tanaman dan panennya pun harus disesuaikan dengan keadaan cuaca dan iklim. Di daerah Jawa, setidaknya terdapat tiga penentuan waktu menanam tebu. Adapun penentuan waktu menanam tebu tersebut akan dipaparkan dalam uraian berikut.



1. Penanaman Tebu di Sawah

Di sawah nan memiliki pengairan cukup, tebu paling baik ditanam pada bulan-bulan akhir April hingga Juli atau lebih tepatnya lagi pada musim kemarau. Pada musim kemarau, keperluan air buat pertumbuhan maupun pembiakan bisa diperoleh dari pengairan atau irigasi. Kemudian, pada waktu pertumbuhannya bisa disiram oleh alam dengan air hujan.

Untuk tebu-tebu nan ditanam pada musim kemarau, biasanya akan dipanen pada musim kemarau di tahun berikutnya. Pemanenan pada musim kemarau dirasa akan menguntungkan sebab sulitnya air tentu akan menyebabkan tanaman tebu tak mendapatkan air. Hal ini justru akan sangat menguntungkan dalam usaha perkebunan tebu



2. Penanaman Tebu di Tegalan Cara Satu

Teknik penanaman ini biasanya dilakukan oleh pabrik-pebrik gula dan juga petani-petani tebu di daerah Klaten, Blitar, dan Kediri. Penanamannya dilakukan pada musim mareng, yaitu jatuh pada bulan Maret hingga Mei. Pada bulan-bulan tersebut, masih ada hujan sedikit-sedikit. Air hujan inilah nan diandalkan buat menyiram tebu di masa pertumbuhannya.

Penanaman nan paling cocok dilakukan pada musim mareng ini ialah bibit pucuk atau bibit rayungan. Namun bahayanya, jika sampai kita menanam di saat itu dan tak terjadi hujan, risiko primer nan akan dihadapi ialah kematian bibit dampak kekurangan air atau paling sedikit tebu akan mengalami kekeringan dan tumbuhnya menjadi tak sehat. Tebu-tebu tersebut akan mengalami kemacetan nan menyebabkan ruas-ruas batang tebu menjadi pendek, pertumbuhan batangnya kurus, serta tak panjang.

Tebu-tebu nan ditanam pada musim mareng akan dipanen pada bulan Oktober hingga Desember di tahun nan sama. Jika ditilik dari usianya, tentunya masih sangat muda. Namun sebab selama proses pertumbuhannya sempat mengalami musim kemarau, maka kadar gulanya pun sudah lumayan banyak.



3. Penanaman Tebu di Tegalan Cara Dua

Pada cara kedua ini, tanah buat media tanam tebu tersebut sudah dipersiapkan pada musim kemarau dan tebu akan diatanam pada musim tabuhan, yaitu pada saat hujan pertama turun. Kemudian tanaman tebu ini akan dipanen pada bulan September hingga November di tahun berikutnya.

Nah, itulah sekilas klarifikasi tentang penyesuaian iklim dan cuaca dalam usaha perkebunan tebu. Hal ini tak boleh dilupakan agar usaha perkebunan tebu nan Anda lakukan akan mendatangkan laba nan maksimal. Semoga bermanfaat!