Golongan Generik Kuliner Khas Jepang

Golongan Generik Kuliner Khas Jepang

Masakan khas Jepang alias Japanese Cuisine kini menjadi primadona di berbagai negara dunia, termasuk di Indonesia. Kuliner Jepang memiliki cita rasa nan khas dan sehat. Oleh sebab itu banyak orang Indonesia menyukai kuliner Jepang. Semakin hari, semakin banyak restoran nan menyediakan majemuk menu kuliner Jepang.

Bahkan, sekarang gerai-gerai kecil nan menyajikan kuliner khas Jepang kaki lima pun sudah banyak, seperti menu sushi, tempura, dan terayaki. Mendadak, masyarakat kita mahir menggunakan sumpit saat menyeruput mie dari mangkok. Dan, penggila masakan Jepang pun kian banyak.



Mengenal Kuliner Khas Jepang

Seperti kuliner Indonesia, kuliner Jepang menggunakan nasi sebagai makanan pokoknya. Lauk pauknya beragam, berupa menu primer dan menu tambahan. Nasi dan menu biasanya dilengkapi dengan sup miso bening dan acar. Kuliner Jepang sehari-hari lazimnya dihidangkan dengan 3 jenis kuliner dan 1 jenis sup, karenanya muncul istilah ichiju-sansai nan berarti "satu sup, tiga hidangan".

Nasi biasanya dihidangkan terpisah di dalam sebuah mangkuk kecil sedangkan lauk pauk disuguhkan dalam piring atau mangkuk kecil dengan porsi perorangan. Baik kuliner rumahan maupun restoran disuguhkan seperti ini; setiap individu memiliki porsinya tersendiri. Berbagai hidangan dan nasi tak dicampurkan, sebab menurut orang Jepang hal tersebut akan mengubah cita rasa murni makanan tersebut.



Keunikan Kuliner Khas Jepang

Setiap kuliner berbagai kebudayaan memiliki keunikan tersendiri, begitu juga dengan kuliner Jepang. Ini dia beberapa keunikan kuliner Jepang.



1. Bahan makanan musiman

Keempat musim nan ada di Jepang memberi laba pada cita rasa kulinernya. Di Jepang, ada bahan-bahan makanan nan hanya dapat (atau hanya lezat) jika didapatkan pada musim tertentu, misalnya kastanye musim gugur dan tunas bambu musim semi. Hal ini menyebabkan masakan khas Jepang menjadi semakin kaya akan rasa.



2. Serba ikan-ikanan

Sebagai negara kepulauan, masyarakat Jepang akrab dengan daging ikan. Makanan bahari di Jepang selalu melimpah. Dari situlah muncul Norma memakan ikan dan rumput laut. Ikan bahari di Jepang bisa diolah langsung dan dimakan mentah sebab masih sangat segar. Beberapa pihak menyatakan bahwa bahan makanan primer orang Jepang ialah sayuran dan rumput laut, kemudian hewan laut, kemudian daging unggas, kemudian sedikit daging mamalia (sapi, babi, atau hewan lain). Orang Jepang nan menganut agama Buddha bahkan tak memakan daging makhluk berkaki empat.



3. Tidak banyak minyak

Masakan khas Jepang tradisional tak menggunakan banyak minyak saat dimasak. Kebiasaan menggoreng makanan dalam minyak dalam jumlah banyak ialah pengaruh Norma memasak ala Barat dan Cina. Kebiasaan ini baru muncul di Zaman Edo. Makanan Jepang nan digoreng dengan banyak minyak di antaranya ialah tempura, katsu, dan sebagainya.



4. Bumbu-bumbu penambah rasa

Orang Jepang suka sekali mengkombinasikan dashi , kecap, sake, mirin , cuka, gula, dan garam buat menambah rasa pada makanan. Bumbu-bumbu penyedap rasa tersebut paling sering digunakan buat membumbui makanan nan dipanggang dan dikukus. Beberapa bumbu lain seperti jahe, lada merah, dan sebagainya terkadang ditambahkan sedikit buat mengurangi aroma amis pada makanan.



Golongan Generik Kuliner Khas Jepang

Secara umum, masakan Negeri Samurai ini bisa dikategorikan menjadi empat golongan, yaitu Nabemono (makanan nan berkuah), Yakimono (makanan nan dibakar atau dipanggang), Nimono (makanan nan dikukus/direbus), Nerimono (makanan nan digoreng).



1. Nabemono (makanan berkuah)

Jenis masakan ini dimasak menggunakan kuah dengan bahan sayuran primer terdiri dari sayuran, lobak, jamur. Juga ikan bahari terdiri dari cumi-cumi, udang, tripang, dan ikan cakalang. Kuliner dalam kategori nabemono ini ialah sukiyaki, shabu-shabu, mie oden .

Penyajiannya biasanya menggunakan steamboat nan sudah berisi kuah kaldu ikan dengan nampan nan berisi variasi sayuran dan daging ikan segar disertai nori atau rumput laut. Anda tinggal mencelupkan sayuran satu per satu ketika akan makan.



2. Yakimono (makanan nan dibakar/panggang)

Yakimono merupakan makanan nan diolah dengan cara dipanggang di atas bara api. Bahan utamanya terdiri dari daging sapi, daging babi, ayam, dan ikan laut. Sedangkan, sayurannya biasanya terdiri dari lobak, wortel, wasabi. Yang termasuk dalam kategori yakimono ialah yakitori (sate ayam), wagyu suteku (steak daging sapi wagyu), teriyaki (bistik), kabayaki (ikan bakar). Bumbu utamanya dari sake dan kecap asin.



3. Nimono (makanan nan dikukus)

Makanan ini dimasak dengan cara dikukus dan direbus. Bahan utamanya ialah sayuran, daging ikan laut, dan mie udon. Nimono tak menggunakan banyak bumbu, biasanya cukup sejumput wasabi, merica, dan nori. Kuliner dalam kategori ini ialah nikuja, kinpira, udon, chawanmushi .



4. Nerimono (makanan nan digoreng)

Jenis makanan ini dimasak dengan cara digoreng menggunakan minyak zaitun, minyak sawit, dan sake. Bahan utamanya ialah udang, cumi, ikan tuna, dan sayuran, antara lain lobak, wortel, dan jamur sitake. Sebelum digoreng, dilumuri tepung dahulu. Kuliner dalam kategori ini ada tempura, kakiage, karaage, dan sebagainya. Sedangkan, cocolannya menggunakan kecap asin dan wasabi nan sudah dihaluskan.

Selain itu, masih ada namamono (makanan mentah), yaitu makanan nan terbuat dari daging ikan mentah seperti sashimi, shushi . Jepang juga mengenal banyak jenis mie seperti, udon, soba, dan ramen .



Mie dalam Ragam Kuliner Khas Jepang

Dalam budaya masakan Jepang, berbagai jenis mie dianggap sebagai makanan pokok pengganti nasi. Oleh sebab itu mie tak disajikan bersama dengan nasi. Beberapa jenis mie tradisional Jepang ialah soba (mie tipis berwarna abu-abu kecokelatan terbuat dari tepung soba) dan udon (mie kenyal dan tebal terbuat dari tepung gandum).

Soba dan udon biasanya disuguhkan sendirian sebagai hidangan utama, tak ditambahkan hidangan-hidangan pendamping lainnya. Mie biasanya disajikan dengan taburan makanan lainnya, seperti tempura udang. Ada dua cara memakan mie, yakni saat panas dan saat dingin. Mie nan dikonsumsi dalam keadaan panas disebut kakesoba atau kakeudon, berupa udon nan disiram air kaldu daging. Sementara itu mie nan dikonsumsi dalam keadaan dingin biasanya jenis soba. Soba dingin dihidangkan tanpa bumbu, hanya dicelupkan ke dalam saus tanpa kaldu.



Etiket Makan Kuliner Khas Jepang

Mengetahui ragam kuliner Jepang kurang lengkap rasanya jika tak dilengkapi pengetahuan tata cara, kebiasaan, dan etiket makan. Kini banyak rumah dan restoran di Jepang dilengkapi dengan satu set meja makan. Padahal secara tradisional orang Jepang makan dengan meja pendek dan menggunakan bantal duduk tanpa kursi. Sebelum makan, orang jepang biasa mengucapkan "itadakimasu" nan berarti "Aku makan" atau "Kuterima makanannya" sambil menangkupkan kedua telapak tangan. Selesai makan, kata "gochisosama" nan diucapkan. Artinya "makanan nan enak".

Di beberapa loka makan khas Jepang, pelayan akan menyediakan handuk panas atau handuk dingin. Handuk tersebut berfungsi buat membersihkan tangan sebelum makan. Di loka makan informal, lelaki Jepang suka menggunakan handuk tersebut buat membasuh wajahnya.

Nasi dan sup disiapkan dalam mangkuk kecil. Untuk memakannya, pegang mangkuk di tangan kiri dan gunakan sumpit di tangan kanan. Ini ialah peraturan konvensional masyarakat Jepang. Jika sisa-sisa nasi sulit diambil dengan sumpit, mangkuk boleh didekatkan ke mulut asalkan tak terkena mulut secara langsung (saat makan nasi). Saat makan sup, justru 'meminum' sup langsung menggunakan mulut dan mengeluarkan bunyi "sluuurp" ialah pujian bagi juru masak. Karenanya hal tersebut dianggap sopan buat dilakukan.

Hal selanjutnya nan harus diperhatikan ialah cara memegang sumpit. Perhatikan etiket berikut ini:

  1. Pegang sumpit di ujung terjauh dari makanan, jangan di tengah atau di ujung dekat makanan.
  2. Saat tak sedang digunakan dan saat sudah selesai makan, baringkan sumpit secara horizontal di sisi mangkuk dengan ujung sumpit mengarah ke kiri.
  3. Jangan mengoper makanan menggunakan sumpit Anda langsung ke sumpit orang lain. Hanya sisa-sisa jenazah nan dikremasi nan dioper dengan cara demikian.
  4. Jangan terlalu banyak menggerak-gerakkan sumpit, apalagi memainkannya.

Itulah sedikit informasi seputar masakan khas Jepang dan etiket memakannya. Selamat berburu masakan khas Jepang!