Cara Tepat Menghindari Plagiasi

Cara Tepat Menghindari Plagiasi

Penelitian ilmiah biasanya dilakukan oleh mahasiswa nan sedang menyusun tugas akhir kuliah (skripsi, tesisi, dan disertasi). Atau biasa juga dilakukan lembaga-lembaga kajian dan penelitian secara swadaya. Penelitian ilmiah memang suatu perkerjaan nan cukup sulit sebab ia meliputi langkah metode ilmiah nan ketat dan baku. Penyusunan dari awal penelitian hingga akhir, bahkan penulisan daftar pustaka disusun berdasarkan peraturan ilmiah nan sudah ditetapkan.



6 Langkah Metode Ilmiah

Untuk menyusun bagian-bagian dalam penelitian ilmiah diperlukan beberapa langkah metode ilmiah nan sistematis dari awal hingga akhir penulisan. Berikut ini ialah langkah-langkah dalam penelitian ilmiah.



Langkah Pertama: Menentukan Tema

Buatlah tema penelitian semenarik mungkin agar penelitian Anda bisa dipertimbangkan, baik oleh pembimbing Anda di kampus maupun oleh forum donor nan akan membiayai penelitian ilmiah Anda. Tema biasanya dibentuk dalam sebuah judul dengan menggunakan dua variabel.

Di dalam langkah metode ilmiah pertama ini, dua variabel nan digukana mesti berhubungan, namun interaksi itu tak selamanya harus merupakanhubungan karena akibat. Contohnya, “Lambang Partai A Ditinjau dari Pendekatan Semiotika”. Lambang partai A sebagai variabel pertama, sedangkan semiotika sebagai varibel kedua.

Sedangkan nan menunjukkan karena dampak misalnya, “Pengaruh Iklan Terhadap Minat Membeli Suatu Produk”, “Manfaat Pengawasan dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan”.



Langkah Kedua: Menyusun Pendahuluan

Sudah jamak diketahui, langkah metode ilmiah kedua nan selalu dilakukan ialah menyusun pendahuluan. Karena itu, susunlah pendahuluan dengan menggunakan argumentasi nan menarik. Pendahuluan ini lazim disebut sebagai latar belakang masalah.

Anda tak perlu panjang lebar menyusunnya, nan terpenting ialah dengan pendahuluan itu Anda bisa menjelaskan maksud dari tema penelitian ilmiah nan Anda angkat. Anda dapat juga menampilkan contoh kasus nan konkret sebagai perbandingan dalam pedahuluan tersebut.



Langkah Ketiga: Identifikasi Masalah

Untuk menjawab tema nan akan Anda angkat, maka perlu ada identifikasi masalah penelitian. Inilah langkah metode ilmiah nan ketiga. Identifikasi ini biasanya disusun dengan menggunakan kalimat pernyataan (seperti judul, kemudian diikuti dengan bagian pertanyaan).

Identifikasi nan baik bukan berarti nan disusun dengan banyak pertanyaan. Paling tidak, Anda dapat menyusun dua pertanyaan identifikasi masalah, sehingga penelitian Anda tak terlalu memakan banyak waktu dan biaya. Setelah identifikasi, biasanya dilanjutkan dengan kegunaan serta tujuan penelitian.



Langkah Keempat: Kajian Teoritis

Menyusun kerangka teori. Jika dalam penelitian itu Anda menggunakan teori semiotika, maka Anda harus menjelaskan bagaimana teori itu membedah suatu persoalan. Apa keunggulan penelitian dengan menggunakan teori tersebut, juga teori semiotika dari sapa saja nan akan Anda gunakan. Seperti inilah langkah metode ilmiah dalam hal kajian teoritis.

Kerangka teori ini berguna buat menjelaskan seluruh argumentasi nan akan Anda susun dalam penelitian ilmiah sehingga argumen Anda bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah pula. Bagian ini juga bertugas buat menjelaskan tema serta judul nan Anda angkat dalam penelitian.



Langkah Kelima: Metode Penelitian

Metode penelitian nan akan digunakan. Secara generik metode itu dibagi menjadi dua, yakni kuantitafi dan kualitatif. Dalam menggunakan meteode kuantitatif, Anda wajib menguji variabel nan ada dalam tema penelitian Anda. Jika Anda menulis judul penelitian “Pengaruh Iklan Terhadap Minat Membeli Suatu Produk”, maka Anda harus sampai pada putusan apakah ada interaksi atau tak antara iklan dengan minat membeli.

Metode kualitatif sendiri lebih pada penyusunan argumentasi rasional dalam mengkaji tema penelitian. Tidak ada uji variabel seperti kuantitatif, metode kualitatif membuka kemungkinan bahwa hasil dari penelitian nan Anda lakukan bisa dikembangkan dengan penelitian nan lain. Inilah langkah metode ilmiah kelima nan mesti ada.



Langkah Keenam: Penyusunan Kesimpulan

Langkah metode ilmiah nan terakhir ialah penyusunan kesimpulan. Konklusi biasanya ditulis berdasarkan poin per poin dengan kalimat lugas. Tidak ada lagi argumentasi dalam kesimpulan, cukup hanya afirmasi (penegasan) atas temuan nan Anda peroleh.

Enam langkah di atas ialah susunan generik nan biasa dilakukan dalam penelitian ilmiah. Hal nan lebih teknis dan berbagai disparitas langkah biasanya tergantung institusi masing-masing. Setelah Anda memahami langkah-langkah tersebut, mulailah mencoba melakukan penelitian nan sederhana.



Bentuk Plagiarisme dalam Karya Tulis Ilmiah

Meski sudah mempelajari 6 langkah metode ilmiah nan biasa dilakukan dalam penulisan karya ilmiah, namun tidak sedikit juga terjadi plagiasi. Memang, hal nan tidak dapat dihindarkan dalam penulisa karya ilmiah adalah, mengadopsi pikiran dan tulisan orang lain. Bahkan terkadang, hal mesti dilakukan. Tujuannya adalah, buat memperkuat teori nan dikembangkan.

Sejatinya, buat menyelamatkan karya tulis atau hasil penelitian ilmiah kita dari plagiasi, jika harus mengadopsi pikiran orang maka nan mesti dilakukan ialah dengan menyebutkan nama penulisnya dan karyanya. Jika ini dilakukan, maka kita tak tergolong plagiasi. Alasannya, kita tetap menghargai dan menghormati gagasannya.

Secara umum, ada tiga bentuk plagiasi nan kerap terjadi di dalam karya tulis ilmiah.

1. Mengambil teks

Mengambil teks maupun menggunakan teks dan data nan terdapat pada hasil penelitian orang lain kerap terjadi di karya tulis ilmiah. Pengambilan teks nan dilakukan tidak pernah memunculkan pengakuan ihwal pengutipan sumber orisinil dengan sahih dan lengkap.

2. Menyajikan Struktur Gagasan

Dalam penyajian struktur gagasan juga kerap terjadi plagiasi. Ia mengakui bahwa struktur gagasan nan ditorehkannya di dalam karya tulisnya dengan tetap mengikuti langkah metode ilmiah nan ditetapkan ialah gagasannya sendiri. Padahal, struktur gagasannya tersebut diambil dari milik orang lain, ia hanya mengubah surat keterangan nan digunakannya.

3. Menggunakan Kode Program

Penelitian nan dilakukan dalam format pengembangan, umumnya menghasilkan produk. Produknya dapat saja sofware, program, atau bahkan hasil penilitian nan dilakukan dengan menggunakan langkah metode ilmiah menghasikan audio visual. Umumnya, plagiasi nan terjadi dengan cara tak menyebutkan sumber aslinya. Ditampilkannya produk tersebut begitu saja seolah-olah karyanya sendiri.



Cara Tepat Menghindari Plagiasi

Untuk menghindari plagiasi, cara nan tepat dilakukan ialah dengan mengutip. Namun, dalam mengutip juga dibutuhkan trik, sehingga karya ilmiah nan dihasilkan dari langkah metode ilmiah nan baik memberikan hasil nan baik.

Jik ditanya kapan melakukan pengutipan nan tepat? Sejatinya, tak ada anggaran standar dalam hal kapan pengutipan dilakukan. Semuanya tergantung pada pertimbangan peneliti sendiri. Fungsi kutipan langsung dalam karya ilmiah adalah,

  1. Untuk Memperkuat Gagasan

Umumnya, kutipan langsung digunakan manakala kata-kata orisinil nan digunakan pengarang sudah sangat ringkas dan meyakinkan. Sehingga, tidak ada kesempatan orang lain buat menyanggah atau membatah kata-kata nan digunakannya. Sehingga kutipan langsung dalam penulisan ilmiah kerap digunakan buat memperkuat gagasan atau membantah gagasan lain nan keliru.

  1. Kutipan langsung digunakan sebagai dokumentasi dalam bentuk karya ilmiah nan membolehkan penggunaan footnote . Dalam hal ini, kata-kata nan dikutip juga mesti memiliki batasan. Yaitu, nan memang krusial buat dicantumkan.
  1. Kutipan langsung boleh digunakan dalam hal nan sudah dipatenkan, tak dapat diubah-ubah lagi frase kata-katanya. Misalnya saja undang-undang dasar. Bahkan ini menjadi cara terbaik buat tak terjadinya salah penafsiran.
  1. Kutipan langsung nan wajib dilakukan ialah ketika menampilkan rumus-rumus, seperti rumus matematika, fisika, dan kimia. Sungguh tak mungkin dilakukan perubahan kata. Pasalnya, rumus-rumus tersebut juga bagian dari nan dipatenkan.

Setelah mengerti fungsi kutipan langsung, maka anggaran mengutip juga mesti dipahami.

  1. Pengutipan dilakukan seperti apa adanya atau the exact word . Sehingga kata-kata nan digunakan sama. Begitu juga dengan tanda baca, ejaan, penggunaan huruf dan sebagainya.
  1. Jika keterangan waktu nan dikutip sudah cukup lama sehingga tak sinkron dengan konteks penulisaan saat akan ditulis, maka dapat digunakan tanda interpolation . Yaitu, semua sisipan mesti ditandai dengan dua kurung persegi.
  1. Jika kutipan terlalu panjang, peniliti nan melakukan pengutipan boleh memotong katanya. Inilah nan dikenal dengan elipsis .

Inilah sekilas tentang langkah metode ilmiah dalam penilitian dan penulisan karya ilmiah. Semoga dengan adanya tambahan masalah pengutipan membuat pemahaman kita menjadi jelas dan terang benderang.