Episode Akhir Rezim Presiden Suharto nan Tragis

Episode Akhir Rezim Presiden Suharto nan Tragis

Siapa nan tak kenal dengan Presiden Soeharto? Masyarakat Indonesia dan Global tentu tahu beul siapa beliau. Ya, inilah Soeharto sang penguasa Orde Baru, nan menduduki tampuk kepresidenan di Indonesia selama 32 tahun. Mantan Presiden Soeharto telah menoreh catatan sejarah Indonesia, dengan mambawa angin perubahan, nan dulu diselimuti kelamnya situasi politik Orde Lama dengan ancaman bebarapa kali aksi perebutan kekuasaan nan syahdan hasil konsiparisi barat dengan menunggangi aksi petualangan Partai Komunis Indonesia.

Di tangan beliaulah Indonesia menemukan jati dirinya sebagai negara agraris dan maritim beranjak menjadi negara swasembada pangan. Keberhasilan program swasembada pangan beliau terlihat dengan adanya kegiatan mengekspor beras ke pasar mancanegara. Semua ini tidak terlepas dari peran serta pemikiran Presiden Soeharto nan ingin rakyat Indonesia sejahtera nan meliputi sandang, pangan dan papan. Untuk mencukupi semua itu, harus didasari stabilitas keamanan dalam negeri.



Sejarah Singkat Presiden Soeharto

Tepatnya di Dusun Kemusuk, Kecamatan Argomulyo inilah saksi bisu lahirnya sosok calon pemimpin nan disegani dunia, Soeharto, pada 1921 dari pasangan Kertosudiro dan Sukirah nan merupakan pasangan petani sederhana di Kemusuk. Soeharto dibesarkan dalam perbedaan makna pedesaan tradisional khas Jawa serta pendidikan Islamnya nan kental.

Sewaktu kecil Soeharto dibesarkan oleh Mbah Kromo, sebab kedua orangtua Soeharto ini cerai selang tidak berapa lama melahirkan soeharto. Semasa Sekolah Rendah (SR) atau setara dengan sekolah dasar, Soeharto beberapa kali pindah sekolah sebab ikut saudaranya.

Awalnya memasuki sekolah dasar di sebuah SD Godean, tapi tidak lama kemudian sebab ikut pamannya ke Wonogiri, maka Soeharto pindah ke SD Pedes nan ada di Wuriyantoro, Kabupaten Wonogiri.

Di Wuriyantoro inilah jiwa agraris atau petani pun muncul sebab memang lingkungan desa ini ialah pertanian. Di desa ini Soeharto timbul ketertarikan tarhadap pertanian maka dia pelan-pelan belajar cara bercocok tanam, mengolah sawah, mengenal musim, jenis palawija. Pengetahuan inilah nan kemudian diimplementasikan dalam planning pembangunan Indonesia.

Setelah menuntaskan pendidikan rendah, Soeharto melanjutkan ke jenjang sekolah nan lebih tinggi lagi. Soeharto muda kembali lagi ke loka kelahirannya di dusun Kemusuk, Bantul dan melanjutkan ke SMP Muhamadiyah di sana.

Tiga tahun kemudian setelah menyelesaikan pendidikan SMP, sebab orang tuanya tidak punya uang, Soeharto urung melanjutkan pendidikannya ke SMA. Tapi dia tertarik masuk militer, waktu itu dia mendaftarkan diri masuk KNIL, korps tentara kerajaan Belanda. Inilah awal karier Soeharto di militer nan akhirnya membawa beliau menjadi seorang negarawan dan tentu Presiden Indonesia nan dihormati rakyatnya dan disegani oleh negara-negara tetangga sebab militernya nan solid.



Prestasi Mantan Presiden Soeharto

Dunia mencatat karier poltik Soeharto sebagai sebuah sejarah. Mantan Presiden Soeharto merupakan salah satu pemimpin global kedua nan terlama menduduki tampuk kepresidenan. Beliau menjabat presiden selama 32 tahun, nomor dua setelah Fidel Castro, pemimpin Cuba.

Soeharto ini menjabat tampuk kepresidenan Republik Indonesia (RI 1) berkat jasanya nan telah mengembalikan dan mengamankan Indonesia dari ancaman perebutan kekuasaan nan dimotori oleh PKI dengan master mind DN Aidit, Nyoto, dan Letkol Untung sebagai pemimpin lapangan. Lantas berkat tindakan nan tepat dari Soeharto nan waktu itu menjabat Pangkostrad TNI, menumpas aksi busuk PKI dan mengganyang antek-anteknya di seluruh Indonesia.

Sebelumnya, pada masa pendudukan Belanda, tepatnya pada tanggal 1 Maret 1949, Atas prakarsa dan planning matang dari Hamengkubuwono IX dan Panglima Soedirman dan dilaksanakan di lapangan oleh Soeharto dan Tentara Rakyat Indonesia sukses merebut Yogyakarta dari cengkeraman Belanda. Agresi itu dikenal sebagai Agresi Generik Satu Maret.

Setelah menjabat menjadi orang nomor satu di negeri ini, beliau terus menerus berkonsilidasi dengan para menteri dan pejabat-pejabat terkait merencanakan agar Indonesia nan keluar dari negara miskin. Kemudian Soeharto mencanangkan pembangunan dalam negeri khususnya pertanian dan stabilitas keamanan nasional.

Pada awalnya, sektor pertanian beliau utamakan dengan sasaran swasembada beras, agar tidak lagi mengimpor beras dari negara tetangga. Semua ini disusun dalam program pembangunan lima tahun atau lebih populer dengan sebutan PELITA. Fungsi program ini ialah buat merencanakan dan menargetkan pembangunan perlimatahunan.



Episode Akhir Rezim Presiden Suharto nan Tragis

Sayangnya akhir dari kepemimpianan beliau sering berpihak pada golongan pemodal / konglomerat dan menganaktirikan ekonomi rakyat kecil. Selain itu, hutang negara begitu banyaknya hingga menggoyahkan perekonomian dalam negeri. Akumulasi ini muncul sebab tidak kuat menghadapi tekanan krisis moneter nan melanda Asia Tenggara.

Maka timbullah people power nan dimotori oleh eksponen mahasiswa angkatan 97-98 menggulingkan rezim orde baru nan dipimpin Soeharto tua. Soeharto lolos dari tuntutan hukum sebab komplikasi penyakit nan mendera tubuh tuanya nan ringkih. Soeharto mati pada tanggal 28 Januari 2008 sebab komplikasi penyakit nan mendera. Soeharto dimakamkan di pemakaman keluarga tepatnya di Astana Mangadeg, Kabupaten Karanganyar.



Keluarga Presiden Suharto

Presiden Suharto resmi menikahi Raden Ayu Siti Hartinah (dikenal dengan sebutan Ibu Tien) pada 26 Desember 1947 di Solo. Saat menikah, Presiden Suharto masih berusia 26 tahun, sedangkan Siti Hartinah (Ibu Tien) berusia 24 tahun. Dari pernikahan tersebut, Presiden Suharto dan Ibu Tien dikarunia 6 anak. Keenam anak Presiden Suharto dan Ibu Tien ialah Siti Hardijanti Rukmana (Mba Tutut), Sigit Harjojudanto (Sigit), Bambang Triatmodjo (Bambang), Siti Hediati Hariyadi, Hutomo Mandala putra (Tommy), dan Siti Hutami Endang Adiningsih (Mamiek).



Karier Militer Presiden Suharto

Sebelum menjabat sebagai presiden, Presiden Suharto mengawali kariernya dalam bidang militer. Dalam bidang militer, Presiden Suharto memulai karier militernya dari pangkat sersan tentara KNIL. Karier Presiden Suharto terus meningkat dengan menjadi hulubalang tentara PETA, hulubalang resimen dengan pangkat Mayor, dan hulubalang batalyon dengan pangkat Letkol (Letnan Kolonel).

Pada 1949, saat masih aktif sebagai militer, Suharto sukses memimpin pasukannya buat merebut kembali Kota Yogyakarta dari tangan penjajahan kolonial Belanda. Selain itu, karier militer Suharto pun pernah menjadi pengawal Panglima Besar Sudirman dan pernah menjadi Panglima Mandala (Operasi Pembebasan Irian Barat).

Pada 1 Oktober 1965, meletus G-30-S/PKI. Untuk emnanggulangi gerakan tersebut, Suharto diangkat sebagai Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib). Jabatan tersebut memberikannya wewenang besar buat melakukan pemberantasan para pelaku G-30-S/PKI. Pada era tersebut, Suharto pun mengambil alih pimpinan Angkatan Darat.

Pada Maret 1966, Suharto menerima Surat Perintah 11 Maret dari Presiden Sukarno. Surat tersebut berisi buat memerrintahkan Suharto buat mengembalikan keamanan dan ketertiban negara pasca meletusnya G-30-S/PKI. Karena situasi semakin memburuk pasca G-30-S-/PKI, pada Maret 1967, sidang istimewa MPRS menunjuk Suharto sebagai pejabat Presiden dan dikukuhkan sebagai presiden Indonesia kedua pada Maret 1968.

Presiden Suharto telah memerintah Indonesia lebih dari 30 tahun. Selama memerintah, banyak jasa Presiden Suharto buat bangsa ini antara lain Indoneswia menjadi negara swasembada beras. Akan tetapi, dibalik kesuksesan Presiden Suharto sebagai presiden Indonesia, ada juga kejelakan nan ditinggalkan Presiden Suharto ini, yaitu krisis moneter 1998 dan korupsi. Akhirnya, Presiden Suharto lengser dari jabatannya sebab desakan demonstran pad 21 Mei 1998.