Kembalinya Sang Tokoh Seni Rupa ke Tanah Jawa

Kembalinya Sang Tokoh Seni Rupa ke Tanah Jawa

Indonesia mempunyai tokoh seni rupa nan sangat terkenal sampai ke mancanegara dan dianggap mestro seni rupa pada zamannya. Tidak ada nan menyamai keterampilan seni rupanya di bidang lukisan nan bahkan mampu menyihir para pencinta seni dari berbagai negara. Beliau ialah Raden Saleh Syarief Bustaman. Raden Saleh ialah pelukis nan mendalami seni lukis genre naturalis, genre nan mampu menampakkan objek nan dilukis seolah-olah konkret dan tampak begitu hidup.

Tokoh seni rupa Indonesia ini mempunyai kemampuan nan sangat mengagumkan. Beliaulah pencetus seni lukis modern pertama di Indonesia pada abad ke-19. Bentuk ciri lukisannya berbeda dengan seni lukis nan bersifat tradisional di Indonesia. Seni lukis Raden Saleh banyak dipengaruhi oleh seni lukis mancanegara loka beliau menimba ilmu semasa mudanya. Bahkan, seni lukis nan dibuatnya mampu memukau sesama pelukis lain dari berbagai negara.

Raden Saleh membuat bangga Indonesia dengan kemampuan seni lukisnya. Beliaulah tokoh seni rupa nan mampu menjajarkan karya anak bangsa di global Internasional kala itu dan sampai saat ini. Lukisannya dipamerkan di berbagai museum nan ada di Eropa, padahal hanya lukisan masterpiece nan dapat dipamerkan di sana, di antaranya ialah Museum Lovre di Prancis, Museum Rijkmuseun di Amsterdam Belanda, dan Museum Puri Lukisan Taman Fatahillah Jakarta.



Kelahiran Tokoh Seni Rupa Indonesia

Raden Saleh Syarief Bustaman lahir di Terboyo dekat daerah Semarang pada 1807. Ibunya bernama Raden Ayu Sarif Husen dan ayahnya brenama Sayid Husen bin Alwi bin Awal. Beliau berasal dari keluarga berdarah biru nan berasal dari silsilah Sultan Kerajaan Mataram. Beliau pun masih masih memiliki pertalian darah dengan pejuang kemerdekaan Pangeran Diponegoro.

Tokoh seni rupa ini ketika masih kecil diasuh oleh pamannya nan pada waktu itu menjabat sebagai Bupati Semarang. Ia diasuh pula oleh atasan pamannya nan seorang Belanda di Batavia pada umur 10 tahun. Raden Saleh mendapat pendidikan di Sekolah Rakyat. Di sekolah inilah, kemampuan melukisnya mulai terlihat menonjol.

Pada suatu saat, ada seorang pelukis Belanda keturunan Belgia nan bernama A.A.J. Payen nan melihat talenta dan keahlian Raden Saleh dalam melukis. A.A.J. Payen berjumpa dengan Raden Saleh nan waktu itu sedang mendapatkan ikatan kerja di departemen pimpinan Prof. Caspar Reinwardt, Direktur Kesenian, Ilmu Pengetahuan, dan Kesenian Pulau Jawa nan juga Pioner Pendirian Kebun Raya Bogor.

A.A.J. Payen didatangkan dari Belanda buat melukis alam di sekitar Pulau Jawa sebagai hiasan di salah satu kantor departemen pemerintahan di Belanda. Melihat talenta nan dimiliki Raden Saleh, A.A.J. Payen mengajari dasar seni melukis selama 3 tahun, antara tahun 1817 dan 1820. Sambil menjalankan tugasnya berkeliling Jawa, A.A.J. Payen mengajari Raden Saleh berbagai teknik lukis gaya barat, seperti melukis dengan menggunakan cat minyak.

A.A.J. Payen sangat membantu Raden Saleh dalam memahami seni lukis barat. Walau A.A.J. Payen ialah seorang Guru Besar Akademi Seni Rupa dari Doornik nan tak begitu menonjol di antara para pakar seni di Belanda, pengaruhnya sangat besar membantu Raden Saleh buat menjadi seorang pelukis nan mumpuni dan disegani. Dalam perjalanan dinasnya, A.A.J. Payen selalu menyuruh Raden Saleh buat melukis berbagai karakter orang-orang pribumi nan mereka datangi.

A.A.J. Payen begitu kagum akan talenta Raden Saleh dan berisiniatif membawa anak didiknya ini buat belajar ke Belanda. Usulnya ini mendapat dukungan penuh dari Gubernur Jenderal G.A.G.Ph. Van Der Capellen nan menjadi penguasa kala itu (1819-1826). Sang Gubernur mendukung sebab begitu terkesan setelah melihat lukisan nan dibuat oleh Raden Saleh.



Perjalanan Belajar ke Eropa Sang Tokoh Seni Rupa

Pada tahun 1929, ada seorang pejabat inspektur keuangan Belanda nan bernama Jean Baptiste de Linge nan pulang ke Belanda. Raden Saleh pun diberangkatkan bersama dengannya. Perjalanan ke Belanda dibiayai sendiri oleh Gubernur Jenderal G.A.G.Ph. Van Der Capellen. Selama perjalanan itu, Raden Saleh ditugaskan mengajari De Linge tentang kultur masyarakat, adat istiadat, dan bahasa Jawa maupun Melayu. Kepercayaan nan diberikan ini menunjukkan kecerdasan Raden Saleh.

Selama di Belanda, Raden Saleh mendalami bahasa Belanda terlebih dahulu selama kurun waktu 2 tahun. Selain itu, Raden Saleh juga menggunakan waktunya buat belajar seni cetak menggunakan batu. Kurun waktu 5 tahun digunakannya buat belajar melukis. Atas saran A.A.J. Payen, guru pertamanya, Raden Saleh belajar kepada para pelukis Belanda nan ada di Den Haag, antara lain A. Schelfhouf dan C. Kruseman.

Lukisan kedua pelukis ini dipandang sebagai lukisan nan dapat memenuhi gaya seni lukis bermutu pada zamannya. Gurunya nan bernama C. Kruseman mempunyai jabatan sebagai pelukis istana. Lukisannya selalu digemari oleh pemerintah Belanda maupun keluarga kerajaan. Raden Saleh belajar seni lukis alam dari gurunya Andreas Schelfhouf serta belajar melukis potret dan sketsa kepada gurunya C. Kruseman.

Selama perjalanan belajar itu, tak sporadis Raden Saleh mendapatkan halangan dan hinaan sebagai kaum primitif dari daerah jajahan nan tak mempunyai kemampuan sebagai pelukis. Namun, Raden Saleh dengan talenta nan dimilikinya mampu menepis semua asumsi miring nan dialamatkan kepadanya. Karena kemampuannya nan berkembang begitu pesat, Raden Saleh dianggap sebagai saingan para pelukis muda nan juga sama-sama belajar seni lukisan kala itu.

Pernah suatu ketika, Raden Saleh diperlihatkan lukisan kembang nan mampu membuat beberapa kupu-kupu buat hinggap di atasnya sebab kemiripinnya dengan kembang nan asli. Lalu, sebab merasa dilecehkan, Raden Saleh membalas hal itu dengan melukis dirinya nan sedang terbaring berlumuran darah di lantai.

Saking miripnya, sampai-sampai mereka mengira lukisan itu sebagai Raden Saleh dan Raden Saleh tiba-tiba muncul di samping mereka dengan tersenyum penuh kemenangan. Para pelukis muda itu pun merasa malu sebab pernah meremehkan Raden Saleh selama ini.

Ketika mendapatkan kesempatan buat memamerkan hasil karyanya di Amsterdam dan Den Haag, Raden Saleh mampu membuat decak kagum masyarakat di sana. Dari sinilah, asumsi bahwa orang jajahan itu tak punya kemampuan hilang seketika. Mereka akhirnya dapat menilai kemampuan tokoh seni rupa ini di bidang seni melukis nan mampu memenuhi selera serta karakter seni lukis Eropa.

Kemampuan tokoh seni rupa ini sudah dianggap sejajar dengan kemampuan para pelukis nan ada saat itu. Itulah nan membuat beliau memantapkan dirinya di bidang seni lukis sebagai jalan hidupnya. Masa belajar Raden Saleh pun usai. Karena keinginannya buat belajar lebih baik lagi, Raden Saleh pun mengajukan permintaan buat dapat belajar dan tinggal lebih lama lagi.

Atas izin dari Raja Belanda, pemerintah Belanda, dan menteri penjajah, Raden saleh diperbolehkan belajar lebih lama lagi, tapi biaya dari pemerintah dihentikan. Selain dalam bidang seni lukis, Raden Saleh melanjutkan pengetahuannya di bidang ilmu ukur tanah, ilmu pasti, dan pesawat.

Raden Saleh tak hanya belajar di negeri Belanda, kehausannya akan seni lukis mengantarkannya sampai ke berbagai negara di belahan bumi Eropa lainnya buat memperdalam pengetahuannya. Salah satunya ialah Weimar, Jerman (1843). Di sini, beliau dianggap sebagai tamu kehormatan kerajaan. Beliau juga bersahabat dengan Raja Riendrich August II kala berkunjung ke Kota Dresden.

Lalu, pada 1844, beliau kembali ke Belanda buat belajar lagi dan mendapat dukungan dari Raja Willem II (1792-1849). Di tahun inilah, beliau diangkat menjadi pelukis kerajaan.

Dalam kunjungan ke berbagai negara di Eropa sebelumnya, gaya seni lukisannya pun berubah dipengaruhi oleh kekagumannya dan perkenalannya dengan tokoh seni rupa Eropa lainnya seperti, F. V. Eugene Delacroix (1798-1863) dan Horace Vernet. Di Belanda, Raden Saleh menikahi V. Winkelman nan kaya raya.



Kembalinya Sang Tokoh Seni Rupa ke Tanah Jawa

Tahun 1851, Raden Saleh memutuskan buat pulang ke tanah Jawa bersama dengan istrinya, V. Winkelman. Beliau tinggal di Batavia dan membangun rumahnya di daerah Cikini dekat dengan Sungai Ciliwung. Rumahnya dibangun berdasarkan rancangannya sebagai pelukis dan diilhami gaya Eropa. Rancangan gedung nan dibuatnya mirip dengan kastil di Callenburg, loka tinggalnya selama berada di Jerman.

Beliau sangat mencintai alam. Kecintaannya kepada alam terlihat dari lingkungan di sekitar halamannya nan sangat luas. Beliau menyumbangkan sebagian halaman itu buat kebun binatang dan selanjutnya menjadi Taman Ismail Marzuki. Rumah beliau kini menjadi sebuah rumah sakit.

Setelah tinggal beberapa lama di Jawa, Raden Saleh pun bercerai dengan istrinya, V. Winkelman, kemudian menikahi putri bangsawan Jawa nan berkerabat dengan Sultan Hamengku Buwono VI bernama Raden Ayu Danudirdjo. Antara tahun 1875-1879, Raden Saleh kembali ke Eropa.

Setelah tinggal beberapa lama di Eropa, Beliau kembali ke tanah Jawa pada 1878. Beliau dan istrinya tak kembali kembali tinggal di rumahnya nan di Cikini, tetapi tinggal di Kota Bogor, tepatnya di rumah bekas Kediaman Sultan dari Banjarmasin nan pernah diasingkan ke Bogor pada 1859 nan bernama Sultan Tamijidilah. Di Kota Bogor inilah, tokoh seni rupa ini meninggal sebab penyakit trombosis pada 23 April 1880 pukul 13.00 WIB.