Ganggang dan Cadangan Makanan

Ganggang dan Cadangan Makanan

Dalam kajian Ilmu Biologi, ganggang niscaya bukan merupakan tumbuhan nan asing. Tumbuhan ini justru menonjol dibandingkan dengan tetumbuhan nan lain. Tidak seperti pohon kelapa, pohon mangga, pohon jambu, ataupun pohon jati, tumbuhan vegetatif ini tumbuh di permukaan air. Baik air tawar maupun air dengan kadar garam tinggi seperti air laut.

Penyebutan ganggang memang merujuk pada semua jenis tumbuhan nan sifatnya vegetatif dan tak tumbuh di daratan melainkan di atas permukaan air. Bentuknya juga lumayan besar dan membentuk seperti koloni tumbuhan. Hal ini ternyata cukup membantu para nelayan sebagai tanda bahwa perairan nan tertutup oleh tumbuhan vegetatif ini biasanya sulit dilalui.



Mengenal Ganggang

Sebagai sebuah tumbuhan, rasanya aneh buat membayangkan ada jenis tumbuhan nan tak membutuhkan tanah sebagai media tanamnya. Faktanya, memang ada jenis tumbuhan seperti itu. Ganggang memang merupakan salah satu jenis tumbuhan. Tapi, berbeda dengan jenis tetumbuhan pada umumnya nan daun, batang dan akar sejati, tumbuhan ini belum mempunyai. Atau tak mempunyai.

Uniknya, meskipun tak memiliki “syarat-syarat” sebagai tumbuhan nan normal, tumbuhan ini bisa memproduksi klorofil sehingga digolongkan sebagai tumbuhan nan bersifat autotrof. Secara pembagian sel, tumbuhan ini dibedakan menjadi dua. Yaitu, bersel tunggal dan bersel jamak, uniseluler atau multi seluler.

Untuk membedakan apakah tumbuhan ini bersel tunggal atau jamak sangat mudah. Jika dengan mata telanjang, Anda masih dapat melihat bentuk dari tumbuhan itu, maka bisa dipastikan tumbuhan nan Anda lihat ialah ganggang bersel jamak atau multi seluler. Sebaliknya, tumbuhan jenis ini nan bersel satu atau uniseluler, hanya dapat dilihat melalui mikroskop.

Meskipun tak hayati di daratan, tumbuhan ini tetap memiliki pigmen. Bahkan, ganggang bisa dibedakan berdasarkan pigmennya. Antara lain:

  1. Pigmen Hijau (Clorophyta). Pigmen hijau nan ada pada tumbuhan ini mengandung klorofil.
  1. Pigmen Keemasan (Chrysophyta). Pigmen keemasan pada tumbuhan ini memiliki kandungan karoten dan sedikit klorofil.
  1. Pigmen Coklat (Phaeophyta). Pigmen coklat pada tumbuhan ini dampak dari kandungan fikosantin dan klorofil nan ada di dalamnya. Biasanya, tumbuhan jenis ini nan berpigmen coklat, hayati di dalam perairan (laut).
  1. Pigmen Merah (Rhodophyta). Pigmen fikoeritrin merupakan pembentuk primer dari tumbuhan jenis ini. Selain itu, klorofil juga ikut membantu pembentukkan.

Selain keempat pigmen, masih ada dua jenis pigmen, yaitu ganggang berpigmen kuning dan biru. Tumbuhan jenis ini nan berpigmen biru, dibentuk dari fikosianin, sementara nan berpigmen kuning terbentuk dari xantofil.

Masing-masing pigmen memiliki ratusan bahkan ribuan jenis. Untuk tumbuhan ini dengan pigmen merah ada sekitar 6000 jenis, pigmen coklat sebanyak 2000, dan terakhir berpigmen hijau nan ada sekitar 1200 jenis.



Habitat Orisinil Ganggang

Secara umum, tumbuhan ini memang memiliki habitat di tempat-tempat nan basah. Menjadi tak heran jika kemudian Anda banyak melihat ganggang hayati di atas permukaan air. Seperti danau, rawa, pantai atau laut. Selain itu, tumbuhan ini juga tumbuh fertile di tempat-tempat dengan taraf kelembapan nan cukup tinggi.

Hal nan membuat ganggang berbeda dari tumbuhan lain ialah habitat tempatnya hidup, yaitu air. Sementara tumbuhan ini juga tetap membutuhkan sinar matahari buat membantu proses fotosintesisnya. Habitat nan dirasa pas buat kehidupan tumbuhan ini ialah tepian permukaan dari air laut, atau permukaan bahari dengan banyak karang.

Selain wilayah-wilayah tersebut, Anda juga bisa menemukan tumbuhan ini di wilayah Intertidal Zone atau daerah pasang surutnya air. Bukan hanya di permukaan, ternyata tumbuhan berpigmen banyak ini juga dapat ditemui di dalam air, sejarak 40 meter. Intinya, selama daerah tersebut masih tersinari matahari sekaligus lembap, tumbuhan ini akan tumbuh di sana.

Permukaan bahari dengan banyak karang, menjadi habitat primer dari tumbuhan vegetatif ini. Terutama buat jenis alga merah atau coklat atau alga nan datang dari genus facus, secara awam dikenal sebagai rumput laut. Alga ialah istilah padanan buat tumbuhan berklorofil nan hayati di air ini.

Secara garis besar, berikut ialah pembagian jenis ganggang berdasarkan habitatnya:

  1. Jenis Subbaerial. Merupakan tumbuhan jenis ini nan bisa hayati pada permukaan air.
  1. Jenis Intertidal. Merupakan tumbuhan jenis ini nan hidupnya mengikuti pasang surut air laut.
  1. Jenis Subritorsal. Merupakan tumbuhan jenis ini nan bisa hayati di bawah permukaan air.
  1. Jenis Edafik. Merupakan tumbuhan jenis ini nan hanya bisa hayati di dasar air.


Ganggang dan Cadangan Makanan

Ganggang mendapatkan asupan makanan dari sinar matahari. Terjadinya proses fotosintesis ialah citra bahwa tumbuhan ini juga membutuhkan makanan buat bertahan hidup. Tumbuhan berpigmen hijau misalnya. Tumbuhan jenis ini menyimpan makanan dalam bentuk pati.

Proses fotosintetis nan terjadi pada tumbuhan ini juga menjadi sumber penghasil oksigen nan dibutuhkan oleh tumbuhan ini. Jadi, jelas, bahwa sekalipun tumbuhan ini diragukan sebagai salah satu genus tumbuhan, ganggang faktanya tetap membutuhkan makanan seperti makhluk hayati lainnya, dalam hal ini ialah tumbuhan.



Struktur Sel pada Ganggang

Sebenarnya, secara kasat mata, Anda sudah bisa mendeskripsikan seperti apa bentuk ganggang sesungguhnya. Eceng gondok, ialah salah satu bentuk ganggang nan rasanya paling banyak dikenali oleh masyarakat awam. Bentuknya membulat, berbentuk lembaran, dan ada nan cukup tinggi seperti layaknya tumbuhan nan hayati di daratan.

Dalam struktur sel ganggang, terdapat sel inti dan plastida. Di dalam plastida, terdapat zat-zat seperti klorofil, nan dibedakan menjadi klorofil a, b, maupun keduanya. Selain klorofil, ada zat pembentuk lainnya nan juga dominan muncul. Dan zat inilah nan kemudian menjadi pembeda pigmen antar tumbuhan ini.

Tumbuhan ini memiliki dinding sel nan berbentuk koloni dan filament. Baik koloni nan membentuk filament, ataupun tidak. Ganggang berkoloni nan membentuk filament memiliki ukuran nan cukup besar.

Pada ganggang jenis ini, di bagian bawah terdapat sel nan berfungsi buat menempelkan tubuhnya pada media nan digunakan buat hidup, dapat berupa batu, kayu, maupun karang. Sementara itu, buat ganggang nan tak membentuk filament, biasanya akan berbentuk pipih dan tak inheren pada permukaan apapun.



Perkembangbiakan Ganggang

Layaknya makhluk hidup, ganggang juga berkembang biar. Secara umum, perkembangbiakan tumbuhan ini ialah fragmentasia, yakni terpecahnya sebuah koloni besar menjadi beberapa bagian nan lebih kecil. Dalam fragmentasia tersebut, perkembangbiakan dibedakan lagi menjadi dua, aseksual dan seksual.

Perkembangan secara aseksual, terjadi pada ganggang berpigmen hijau dan keemasan. Pada proses perkembangbiakan secara aseksual ini, zoospore dibentuk lengkap dengan flagel berambut. Sementara nan terjadi pada ganggang hijau adalah, gamet jantan berjumpa dengan gamet betina, kedua gamet tersebut berjumpa secara kemotaksis.



Plus Minus Ganggang bagi Ekosistem

Dalam proses kehidupan, semua makhluk hayati niscaya memiliki plus dan minus bagi lingkungannya. Begitupun nan terjadi dengan ganggang ini. Dalam Ilmu Biologi, ganggang nan termasuk dalam kategori tumbuhan berperan besar dalam ekosistem. Lalu, apa-apa saja plus minus ganggang bagi ekosistem?

  1. Ganggang bisa berperan sebagai plankton.
  1. Menjadi salah satu komponen cukup krusial pada rantai makanan di habitat air tawar.
  1. Dapat dimanfaatkan sebagai bahan makanan. Ternyata, manusia juga dapat merasakan kegunaan langsung dari tumbuhan jenis ini.
  1. Merupakan penghasil primer oksigen dari proses fotosintetis nan dilakukannya, sehingga membantu menyuplai oksigen pada hewan-hewan nan ada di dalam air.

Ada plus niscaya ada minus. Karena apapun di global ini, sudah diciptakan satu pasang. Yang baik, dan nan buruk, siang dan malam, berat dan ringan. Masing-masing memiliki padanannya. Untuk ganggang, nilai minus nan dimiliki ialah terkadang, apabila terlalu tumbuh subur, ganggang akan mengganggu luas wilayah perairan, selain itu perairan di sekitar habitat tumbuhan ini akan cenderung berubah rona dan berbau.

Lihat saja, banyaknya eceng gondok nan biasa ditemukan di perairan-perairan. Hamparan eceng gondok merupakan habitat konkret dari tumbuhan ganggang ini. Perhatikan saja, air nan ada di bawah tumbuhan ini, warnanya niscaya berbeda dengan air nan tak tertutupi eceng. Air nan tertutupi oleh tumbuhan ini akan berubah menjadi cenderung lebih keruh, dan akan muncul aroma nan tak sedap.

Seperti nan telah disebutkan di atas, bahwa ganggang dapat digunakan sebagai salah satu bahan makanan. Hal itu benar. Masyarakat di Negara Jepang sudah menjadi pengonsumsi ganggang. Menurut mereka, tumbuhan ini merupakan sumber vitamin C serta mineral. Selain tentu saja, sebab citarasanya nan cukup lezat.

Selain dapat dikonsumsi, ganggang, dalam hal ini eceng gondok, dapat digunakan sebagai bahan standar pembuatan kerajinan. Sentra-sentra perajin tanaman ini sudah mulai banyak di Indonesia. Melalui proses kreatif, ganggang dapat berubah menjadi tas, topi, serta beberapa perlengkapan lainnya.