Pahlawan dari Jawa - Hati nan Teguh

Pahlawan dari Jawa - Hati nan Teguh

Ada puluhan atau bahkan ratusan pahlawan dari Jawa . Nama mereka ada nan cukup dikenal, tetapi niscaya lebih banyak nan menjadi pahlawan tanpa tanda jasa apapun. Tanah Jawa menjadi satu barometer Indonesia hampir di semua bidang kehidupan. Pusat politik dan pusat pendidikan telah membuat Pulau Jawa dipenuhi oleh orang-orang hebat nan tahu bagaimana membuat wilayahnya tumbuh menjadi lebih sejahtera.



Pahlawan dari Jawa - Hati nan Teguh

Tanah Jawa nan telah menjadi pusat pendidikan itu seolah menjadi muara ilmu di tanah air. Berbagai universitas terkemuka ada di Jawa. Begitu juga dengan guru-guru nan hebat. Tidak mengherankan kalau dikatakan semua itu ialah hasil dari usaha para pahlawan dari Jawa. Siapa nan tak kenal dengan RA. Kartini. Pahlawan wanita satu ini hingga kini tetap dikenang dan ajarannya terus digali.



Kartini

Hidup Kartini nan singkat tak membuat jiwa dan perjuangannya wafat dalam waktu singkat. Walaupun ada nan mengatakan bahwa kepahlawanan Kartini itu dibentuk oleh global politik, masyarakat hanya tahu bahwa Kartini ialah sosok nan memang patut dicontoh. Pemikirannya nan melampaui zamannya membuat sisi kritis ini tetap mampu dilihat dengan logika oleh masyarakat kini.

Mereka tetap mengatakan bahwa apa nan dikatakan oleh Kartini itu ada benarnya. Bahwa pendidikan bagi kaum wanita itu sangat penting. Wanita ialah tiang negara. Kalau tiang ini tak bagus, bagaimana membentuk negara nan bagus. Wanita ialah guru pertama dan primer bagi anak-anaknya. Pendidikan nan baik dari rumah akan membuat generasi muda berkembang dengan seutuhnya sehingga dapat diandalkan dalam pembangunan negeri.

Bayangkan kalau para wanita tak mempunyai ilmu. Anak akan tumbuh dengan seadanya. Ilmunya pun tak banyak. Lalu apa nan dapat diharapkan dari generasi nan lemah. Tuntunan agama mengajarkan buat tak meninggalkan keturunan nan lemah. Artinya ialah pendidikan nan berkualitas menjadi satu kunci nan harus dipegang dengan kuat.



KH. Ahmad Dahlan

Hati para pahlawan nan berasal dari tanah Jawa ini memang cukup teguh. KH. Ahmad Dahlan, contohnya. Beliau nan diawal kemunculannya banyak disepelekan bahkan dicaci, dengan semangat berjihad memerangi kemudharatan dan syirik, kini dianggap sebagai Sang Pencerah. Ajarannya tetap dipertahankan. Bahkan perguruan Muhammadiyah dan organisasi nan bergerak dengan azas nan sama, telah berkembang pesat.

Pemikiran nan kritis ini telah melahirkan banyak generasi nan mumpuni. Mereka bergerak dengan ikhlas dan tak ingin hayati dari Muhammadiyah. Mereka menjadi tulang punggung penggerak tetap hidupnya Muhammadiyah. Pangeran Diponegoro nan juga mempunyai hati nan teguh tak mudah dipatahkan perlawanannya. Ia bergerak dan terus bergerak demi kemerdekaan bangsanya. Ia tak mau menyerah pada antek Belanda.

Baginya perjuangan itu ialah jalan kudus nan harus ditempuh. Semut saja akan melawan walaupun bayarannya ialah nyawanya sendiri. Begitu juga dengan lebah nan akan wafat setelah menyengat manusia. Bahwa menunjukan perjuangan itu ialah satu hal nan absolut sebelum akhirnya harus berakhir dengan lepasnya ruh dari badan. Pantang menyerah dan terus mencari jalan melahirkan generasi nan dapat melanjutkan perjuangan ialah satu konsep nan terus digalakan.

Tidak mengherankan kalau pahlawan dari tanah Jawa pun semakin banyak. Pada saat ini pun, para peraih penghargaan dari banyak bidang, berasal dari Pulau Jawa. Tradisi keilmuan nan kuat dan jiwa darma nan luar biasa nan terlihat menjadi teladan nan hebat, telah membuat banyak anak bangsa tumbuh bercermin pada tokoh nan ia kagumi.



Bung Tomo

Bung Tomo dari Surabaya nan mengobarkan semangat berjuang itu, tak lahir dengan serta merta. Orangtuanya dan lingkungannya terus membuatnya tumbuh menjadi laki-laki sejati nan tidak mampu disurutkan semangatnya hanya sebab ada moncong senjata mengancam dadanya. Ia dengan kekuatan iman nan luar biasa mampu membuat jiwa-jiwa orang nan ada dihadapannya terguncang dan ikut menjadi pendukungnya.



Kepahlawanan dari Hati nan Ikhlas

Tidak ada seorang pahlawan nan menganggap dirinya seorang pahlawan. Tidak ada pahlawan nan meminta gelar pahlawan. Mereka berjuang dengan hati nan ikhlas sebab mereka tahu bahwa akhir hayati di global ini ialah di dalam kubur. Sedangkan akhir kehidupan nan sesungguhnya ada di surga. Mendapatkan surga itu tak mudah. Hanya orang-orang pilihan nan menghadapkan jiwanya dengan ikhlas kepada Sang Khalik nan akan terpilih.

Orang-orang ikhlas ini rela mengorbankan apapun nan ada dalam diri mereka demi kesejahteraan orang lain. Sukarno , misalnya. Ia ialah proklamator bangsa ini nan baru saja dianugerahi gelar pahlawan nasional. Masa mudanya dihabiskan dari satu tanah perjuangan ke tanah perjuangan lainnya. Ia nan pandai berpidato dan memberikan semangat juang hebat kepada rakyatnya memang seorang pejuang sejati.

Kelemahannya terhadap wanita cantik memang menjadi satu ‘cacat’ nan disayangkan. Tetapi tak ada orang nan sempurna. Perjuangan nan hebat dari seorang Sukarno sudah sepatutnya dihargai dengan sewajarnya. Seperti penghargaan nan diberikan kepada Jenderal Sudirman nan namanya menghiasi jalan-jalan besar di seluruh negeri. Nama Sukarno pun seharusnya mendapatkan loka nan sama.

Jenderal Sudirman, sama dengan RA. Kartini, tak mempunyai perjalanan hayati di global nan panjang. Tetapi jiwa dan darma mereka tetap ada hingga sekarang. Jenderal Sudirman nan mendapatkan gelar 5 bintang ini dianggap sebagai salah satu simbol hati nan teguh dan pantang menyerah. Dalam sakitnya ia tak terlena dan hanya mengerang.

Ia tetap bangkit dan mengatur taktik perjuangan. Orang seperti inilah nan akan menjadi panutan sehingga orang akan mengikuti apa nan ia katakan selama kata-kata itu tak bertentangan dengan ajaran agama. Dalam hujan dan panas ia terus berusaha tetap hayati demi bangsanya. Ia ialah sosok muda dengan jiwa nan sangat besar. Anak zaman sekarang seharusnya memang diberikan ajaran tentang jiwa pahlawan nan hebat agar mereka merasa ada panutan nan dapat dijadikan sandaran kala jiwa merasa kendur dalam berjuang.

Tak banyak gegalauan nan dirasakan oleh para pahlawan nan tetap berjuang dalam kondisi apapun. Mereka mempunyai tujuan. Visi dan misi hidupnya jelas. Kalau tak mempunyai tujuan, visi dan misi pun tak ada, maka gegalauan dan kegelisahan itu akan menjadi sesuatu nan sering mampir ke dalam hati. Seseorang nan tahu kalau ia akan mati, tak akan melakukan hal-hal nan akan membuat kematiannya menjadi sesuatu nan diinginkan oleh semua orang.

Orang nan mempunyai visi dan misi nan jelas itu akan selalu berpikir apa nan dapat dilakukan buat menambah pundi-pundi amalnya. Ia akan merasa sedih ketika apa nan diterimanya dari orang lain lebih banyak dari apa nan diberikannya. Ia akan mencari dan terus berdoa agar hidupnya penuh dengan keberkahan dan membawa kebaikan bagi banyak orang. Pemikiran ini pula nan membuat para pahlawan dari Jawa terus melakukan apa nan diyakininya. Mereka patut diberikan posisi nan baik di hati setiap anak bangsa Indonesia .