Khawatir Gara-Gara Pikiran Negatif

Khawatir Gara-Gara Pikiran Negatif

Setiap orang niscaya pernah mengalami nan namanya khawatir. Berdasarkan apa nan ada di kamus The Concise of Oxford Dictionary , rasa risi ialah perasaan tak nyaman akan kesulitan hayati nan akan dialami atau dibayangkan akan terjadi di kemudian hari. Melalui artikel motivasi Kristen ini, semoga umat Kristiani lebih mampu mengatasi perasaan risi nan sering menghinggapinya.

Merasa risi memang sangat manusiawi, sebab sebagai manusia, tentunya kita selalu mengharapkan semuanya baik-baik saja. Tapi ada kalanya apa nan terjadi tak sinkron dengan keinginan dan harapan. Karena itulah muncul perasaan khawatir. Selama kekhawatiran itu masih dalam termin wajar dan tak sampai mengganggu kehidupan, apalagi sampai mengganggu iman kita, hal itu masih dapat ditoleransi.

Rasa risi nan masih dapat ditoleransi ialah rasa risi nan justru menimbulkan suatu tindakan positif. Misalnya, kita risi hayati susah di masa tua nanti. Maka dari sekarang, kita sudah mempersiapkannya dengan memiliki investasi atau asuransi.

Kita juga risi pasangan akan selingkuh dengan orang lain, sehingga kita selalu berusaha memperbaiki diri dalam kehidupan berkeluarga. Dapat juga risi dipecat sehingga selalu mengerjakan pekerjaan di kantor dengan sebaik-baiknya. Dalam artikel motivasi Kristen, rasa risi akan menyebabkan seseorang sulit buat istirahat dengan baik.

Rasa risi akan menjadi musuh nan sangat menakutkan jika dia sudah sampai menghilangkan perasaan damai dalam hidup, bahkan sampai melemahkan iman. Itulah nan disebut dengan rasa risi nan berlebihan. Perasaan risi itu justru membuat kita tak dapat berbuat apa-apa, itulah bahayanya.

Mereka nan mengalami rasa risi hiperbola mungkin lupa bahwa Tuhan sendiri telah meminta kepada umat-Nya agar tak merasa risi terhadap apa nan akan terjadi di dalam hayati ini. Dalam surat Santo Paulus kepada umat di Filipi dikatakan, ”Janganlah hendaknya kamu risi tentang apa pun juga, tapi nyatakanlah dalam segala hal kepada Allah di dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur” (Filipi 4: 6).

Dalam hal tersebut, Santo Paulus menegaskan bahwa Tuhanlah pegangan terhadap apa pun nan akan terjadi, sehingga kita sebenarnya tak perlu merasa risi secara berlebihan. Dalam Perjanjian Lama juga Daud pernah menyatakan mengatakan mengenai rasa risi ini dalam Mazmur 37: 5. Katanya, ”Serahkanlah segala kekhawatiranmu kepada-Nya, karena Dia nan memelihara kamu.”

Bahkan sejak zaman dahulu pun, para abdi Allah telah menyatakan bahwa rasa risi itu sebetulnya tak perlu. Selain dapat mengurangi iman kita akan kekuasaan dan kasih Allah, hal itu juga hanya buang-buang tenaga . Seseorang bernama John Lubbock pernah mengatakan, ”Sebuah hari nan penuh kekhawatiran lebih melelahkan daripada sebuah hari nan penuh pekerjaan.”



Khawatir Gara-Gara Pikiran Negatif

Perasaan risi muncul sebab pikiran negatif. Jadi, hal nan muncul dalam pikiran hanyalah sesuatu nan akan membuat kecewa dan putus asa. Dampak tak mengetahui mengenai apa nan akan terjadi itulah, maka kita merasa khawatir. Seolah-olah kita lupa bahwa Tuhan selalu menyertai hayati kita. Dialah nan mengatur kehidupan ini.

Perasaan ini sebetulnya dapat dihilangkan jika kita bersikap pasrah, mengandalkan Tuhan sepenuhnya. Seperti nan pernah dilakukan oleh Maria, ibu Yesus. Saat Malaikat Gabriel datang kepadanya, memberikan kabar suka cita kepadanya bahwa dia akan mengandung dari Roh Kudus, Maria hanya mengatakan, ”Aku ini ialah hamba Tuhan. Terjadilah padaku menurut perkataanmu itu.” (Lukas 1: 38).

Alangkah nikmatnya hayati ini, jika semua orang dapat bersikap pasrah seperti Maria. Padahal bukan tak mungkin Maria juga sempat merasa cemas. Bagaimana tidak, saat itu Maria ialah seorang perawan nan belum menikah. Apa jadinya kalau tiba-tiba dia hamil, padahal belum bersuami. Bisa-bisa dia dianggap berzinah, nan pada waktu itu hukumannya ialah dilempari batu sampai wafat (hukum rajam).

Tapi, toh Maria dapat menerimanya dengan hati nan gembira. Hal ini hanya dapat terjadi sebab imannya nan begitu besar kepada Tuhan. Maria tak terjebak oleh kekhawatirannya. Apa jadinya kalau saat itu Maria hanya mengandalkan rasa khawatirnya, bukan berpegang kepada imannya kepada Allah? Tentu Yesus, Sang Juru Selamat, tak akan hadir di tengah-tengah kita.

Iman, ialah kunci menghadapi rasa risi nan berlebihan. Dengan iman, kita akan merasa bahwa Tuhan memiliki segala sesuatu nan positif. Keinginan dalam diri kitalah sebagai manusia nan sering membuat kita merasa ingin melawan Tuhan. Inilah pangkal munculnya rasa khawatir.

Mungkin hati kita sudah mengatakan bahwa Tuhan akan menjaga kita sampai akhir perjalanan hayati di global ini. Namun, pikiran sebagai manusia mengatakan sebaliknya. Apalagi dengan banyaknya hal-hal negatif nan terjadi di luar sana, nan semakin membuat kita kadang-kadang meragukan penyertaan dan penyelenggaraan Tuhan di dalam hayati ini.

Di sinilah kita harus meniru Tuhan, yaitu berpikir positif. Memang banyak hal negatif nan ada di global ini. Pikiran negatif kita sering menjebak dengan memikirkan ”itu terjadi sebab Tuhan’”. Padahal Tuhan hanya selalu menghendaki nan terbaik. Kehendak bebas nan dianugerahkan kepada manusialah nan menyebabkan seorang manusia menjadi dursila dan menimbulkan hal-hal nan tak baik.

Oleh sebab itu, baiklah jika kita melihat lagi nasihat dari Santo Paulus kepada umat di Roma, ”Karena itu saudara-saudara, demi kemurahan Allah saya menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan nan hidup, nan kudus, dan nan berkenan kepada Allah; itu ialah ibadahmu nan sejati.

Janganlah kamu menjadi serupa dengan global ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu bisa membedakan manakah kehendak Allah; apa nan baik, nan berkenan kepada Allah dan nan sempurna.” (Roma 12: 1-2).



Kekhawatiran nan Berlebih Itu Merusak

Untuk lebih menguatkan akan firman Tuhan mengenai tak perlunya kita mengkhawatirkan sesuatu secara berlebihan, ada hasil penelitian dalam artikel motivasi Kristen, nan membuktikan bahwa kekhawatiran nan berlebih itu bisa merusak kehidupan latif nan telah diberikan oleh Tuhan.

Beberapa pakar pernah mengadakan penelitian mengenai perasaan cemas ini, yaitu dari sampel darah nan diambil dari orang nan selalu gembira dan penuh syukur, serta dari mereka nan selalu mengalami perasaan cemas berlebih, diperoleh konklusi bahwa rasa risi hiperbola itu bisa lebih cepat tua. Studi itu dilakukan para peneliti di Boston Brigham and Women Hospital.



Janganlah Menjadi Orang Egois dan Rajinlah Berdoa

Kenapa? Karena orang egois dan sering mementingkan diri sendiri ialah orang nan lebih sering merasakan cemas nan berlebihan. Ini ialah hasil peneliti dari University of Kassel, Jerman. Mereka nan lebih berfokus kepada ”aku” lebih mudah merasa cemas.

Akhirnya, mereka lebih sering terserang depresi dibandingkan mereka nan lebih fokus kepada ”kita”. Mereka nan berfokus kepada ”kita” hidupnya lebih sehat dan gembira sebab lebih banyak teman.

Bukankah, Tuhan sendiri telah menyuruh umat-Nya buat saling berbagi dengan saling melayani. Kisah ”Orang Samaria nan Baik Hati” ialah perintah Tuhan agar kita tak berlaku seperti orang-orang egois.

Selain tak menjadi orang nan hanya mementingkan diri sendiri, perasaan risi hiperbola dapat dihalau dengan banyak berdoa. Doa ialah kekuatan dan nafas hayati bagi orang-orang beriman.

Doa memiliki kekuatan nan kadang-kadang di luar akal sehat kita sebagai manusia. Zaman dahulu, nabi Elia bisa mempengaruhi cuaca dengan doanya (1 Raja-raja 17). Doa puasa nan dilakukan Esther juga mampu menyelamatkan bangsanya.

Satu nan sering dilupakan, kadang-kadang kita tak mau bertekun dalam doa. Bahkan ada nan menganggap bahwa doa hanyalah sesuatu nan buang-buang waktu. Padahal, kita diberi waktu 24 jam sehari. Masa tak dapat meluangkan waktu sejenak buat berkomunikasi dengan Tuhan?

Yesus pernah memberikan perumpaan mengenai pentingnya kita bertekun dalam doa, yaitu lewat perumpaan tentang janda nan meminta keadilan. Ajaran nan disampaikan dalam Injil Lukas 18 itu menceritakan tentang janda nan tak pernah lelah meminta keadilan kepada seeorang hakim, sampai akhirnya hakim nan lalim itu mengabulkan permintaannya.

Kalau hakim nan kejam saja akhirnya luluh pada permintaan si janda ini, apalagi Tuhan nan penuh kasih itu kepada umat-Nya nan tekun memohon kepada-Nya kan? Jadi, tak perlu lagi risi berlebihan. Berdoalah saja kepada Tuhan. Selain itu, Anda bisa membaca artikel motivasi Kristen nan isinya bisa mencerahkan pikiran Anda.