Sejarah Gereja dan Periodisasi

Sejarah Gereja dan Periodisasi

Masyarakat Indonesia seperti sudah terbiasa dengan keanekaragaman sistem kepercayaan. Mereka hayati berdampingan secara sosial. Tidak begitu asing dengan wahana peribadatan nan berbeda dari mereka. Gereja , masjid, pura, dan wihara, ialah tempat-tempat ibadah nan tidak sporadis berdiri berdekatan.

Indonesia merupakan sebuah negara beragam nan memiliki keanekaragaman tentang apapun di dalamnya. Adat istiadat, mata pencaharian, dan sistem kepercayaan. Kepercayaan di Indonesia nan diakui absah secara hukum ada lima yaitu Islam, Kristen Katholik, Protestan, Hindu, dan Budha. Itulah sebabnya, di Indonesia cukup banyak terdapat berbagai loka ibadah, seperti Masjid, Gereja, Vihara dan Pura.

Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral ialah dua loka ibadah dari dua kepercayaan berbeda nan memiliki jeda berdekatan. Dua bangunan kudus itu berada di dalam satu wilayah nan sama. Bahkan, ketika Masjid Istiqlal tengah ramai dikunjungi, Gereja Katedral rela membiarkan parkirannya digunakan buat umat muslim nan tak kebagian loka buat parkir.

Jarak nan berdekatan antara dua bangunan itu sekaligus juga dapat melambangkan keharmonisan interaksi antara dua umat beragama. Masing-masing saling menghargai, membantu dan bertoleransi tanpa saling memengaruhi keyakinan satu dan lainnya. Sebuah simbol Pancasila, yaitu sila pertama, sekaligus simbol Berbeda-beda Tunggal Ika.

Keberadaan dua bangunan megah nan masing-masing berfungsi sebagai loka ibadah dua kepercayaan terbesar nan dimiliki Indonesia itu seharusnya menjadi acuan para umat buat berlaku damai. Bahwa gereja dan masjid justru dapat saling melengkapi di luar fungsinya sebagai loka beribadah dua kepercayaan nan berbeda.

Masing-masing dari kita juga takjarang saling mengagumi bentuk dari loka ibadah masing-masing. Gereja dengan pilarnya nan kokoh, tinggi dan megah, masjid dengan kubahnya nan besar, juga tulisan kaligrafi nan menawan, juga vihara dan pura nan khas dengan bangunannya nan juga cantik dan sakral. Semuanya latif dan mengagumkan, perlambang kepercayaan itu sendiri.



Gereja dan Artinya nan Universal

Kata Gereja berasal dari bahasa Portugis, igreja , atau dalam bahasa Yunani ekklesia. Ek artinya ialah 'keluar' dan klesia berakar dari kata kaleo nan artinya 'memanggil'. Jadi, ekklesia dapat diartikan sebagai 'sekumpulan orang nan dipanggil ke luar dari dunia'. Jika dilihat berdasarkan arti dari akar katanya, pengertian gereja sangat jauh dari "tempat ibadah".

Gereja bisa ditafsirkan ke dalam beberapa arti. Dalam ajaran agama Kristen, gereja bukan hanya mempunyai arti sebagai loka beribadah dan berdoa, namun lebih dari itu.

  1. Arti gereja nan pertama ialah komplotan umat Kristen.

  2. Gereja ialah sebuah serikat atau rendezvous umat Kristen. Serikat ini dapat dilakukan dimanapun, di hotel, loka rekreasi, atau di lapangan terbuka.

  3. Gereja ialah mazhab atau aliran. Selama ini kita mengenal ajaran Kristen terbagi dalam dua denominasi, Protestan dan Katholik. Maka dari itu dikenal istilah Gereja Protestan dan Gereja Katholik.

  4. Gereja ialah sebuah forum administratif dari agama Kristen.

  5. Gereja ialah rumah ibadah umat Kristen.

Arti gereja nan universal, bahkan bgi umat Kristennya sendiri, menunjukkan bahwa gereaja bukan hal nan kaku, apalagi bersifat memaksa. Semuanya berkembang, sinkron dengan apa nan dibutukan oleh umat Kristen itu sendiri.



Sejarah Gereja dan Periodisasi

Hal nan menarik ialah membicarakan sejarah berkembangnya gereja itu sendiri. Gereja takmungkin lepas pengaruhnya dari para tokoh-tokoh Agama Kristen. Mereka ialah pejuang nan mempertahankan Kristen, memperjuangkan berdirinya gereja sebagai wahana pengokohan posisi Kristen di masyarakat.

Gereja mulai dirasa krusial ketika pelayanan rasul Petrus dimulai. Cerita tentang kisah Yesus dan bertibatnya Kaisar Konstantinus I menjadi semacam "materi" nan dikhotbahkan. Pada masa awal terbentuknya kumpulan ini, tokoh-tokoh gereja banyak mengalami penganiayaan, terutama segi fisik.

Sejarah gereja kemudian berlanjut pada masa kekaisaran Romawi. Cerita sejarah gereja ini dimulai dengan tobatnya Kaisar Konstantinus I, dan Kristen menjadi agama resmi nan diakui Romawi. Pada akhir masa pemerintahan kaisar-kaisar Romawi, periode Kepausan kemudian mulai berkembang. Umat Kristen tak lagi mengalami penganiayaan nan kejam.

Pada masa ini, agama dan politik bercampur menjadi satu, dan memengaruhi keberadaan serta fungsi dari gereja itu sendiri. Pada masa inilah, alkitab mulai dikenal, Perjanjian Baru dan Lama mulai dikanonisasi. Atau proses diskusi buat menentukan kitab mana nan berwibawa dan tidak.

Sejarah gereja kemudian berlanjut pada masa abad pertengahan. Periode ini terjadi pada 476 hingga seremoni Natal pada 800 M. Pada periode ini, kaum gereja mengalami kemunduran moral. Disebabkan sebab pencampuradukan urusan politik dan agama, para Paus dipaksa buat berkecimpung di global politik nan penuh dengan hal-hal "kotor".

Periodesasi nan terjadi pada gereja selanjutnya ialah periodesasi awal mula Eropa. Periode ini dimulai dari runtuhnya kekuasaan Romawi Timur dan penasbihan Karel Agung sebagai Kaisar Eropa Barat. Pada periode ini, keadaan gereja juga takkalah memburuk. Para biarawan ialah mereka nan berjuang atas hal ini.

Kristen pun berkembang, reformasi Protestan menjadi periodesasi selanjutnya nan terjadi di daratan Eropa. Pada masa ini, lahir tokoh-tokoh gereja seperti Martin Luther, Yohanes Calvin, dan John Knox. Periode berkembangnya gereja terjadi pada abad 17. Saat itu, Kristen mulai berkembang ke berbagai wilayah dunia.



Gereja sebagai Rumah Ibadah Umat Kristen

Awalnya, umat Kristen hanya berkumpul di rumah ketika akan beribadah secara bersama-sama. Pada masa itu dikenal istilah Gereja Rumah. Setelah melalui beberapa waktu dan pertumbuhan umat Kristen semakin diakui, akhirnya sebuah bangunan pun dibangun spesifik buat beribadah.

Waktu nan dibutuhkan sangat lama. Berlangsung 11 hingga 14 abad sampai akhirnya gereja "diberikan" loka khusus. Pertumbuhan bangunan katedral serta gereja-gereja paroki pun berkembang di wilayah Eropa Barat. Selain digunakan sebagai loka buat beribadah, gereja juga difungsikan sebagai loka perjamuan.

Sejarah berkembangnya sejarah gereja ini menjadi krusial mengingat peran gereja nan bukan hanya sebagai loka buat berdoa, tetapi juga mengadakan serikat nan pastinya berkenaan dengan hal-hal keagamaan.

Gereja nan hadir pada saat itu ialah gereja dengan gaya nan tradisional. Memiliki salib dan menara atau kubah. Kini, berdasarkan bentuk bangunannya, gereja dibedakan menjadi dua, Gereja Basilika dan Katedral.



Gereja Basilika

Kata Basilika berasal dari bahasa Yunani, Basilike Stoa . Bangunan ini pada awalnya diciptakan buat menggambarkan kegagahan kerajaan Romawi. Tak heran jika gereja dengan gaya bangunan Basilika terbilang megah. Biasanya memiliki kubah dengan pilar-pilar besar penopang. Resminya Basilika digunakan sebagai bagunan gereja ialah saat Kaisar Romawi resmi menganut ajaran agama Kristen.



Gereja Katedral

Umat Kristiani nan menggunakan jenis bangunan Gereja Katedral buat beribadah banyak terdapat di Roma, Katholik Anglikan, Ortodoks Oriental atau Ortodoks Timur. Katedral sendiri berasal dari kata cathedra . Dalam bahasa Latin, cathedra artinya ialah Bishop Tahta.

Gereja dengan tipe Katedral selalu identik dengan bangunan gereja nan besar. Jika Basilika identik dengan kubah dan pilar-pilar besar, Katedral selalu identik dengan tinggi gedung nan menjulang tinggi, gedung cenderung berujung runcing.

Keidentikan Katedral dengan gedung nan besar sebenarnya tak sepenuhnya benar. Gereja dengan gaya Katedral tak harus selalu berbentuk besar. Contoh Gereja Katedral dengan ukuran nan tak terlalu besar terdapat di Inggris, Amerika Serikat, dan Swiss. Sebuah Kristus gereja Katedral di Oxford Inggris, Sacred Heart Cathedral di Raleigh, Amerika Perkumpulan dan Chur Cathedral di Swiss.