Legenda Pohon Natal

Legenda Pohon Natal

Selain ditandai dengan hujan buat wilayah Indonesia, bulan Desember juga akan diramaikan dengan suasana natal terutama minggu terakhir menjelang seremoni Natal. Silakan mampir di supermarket atau departemen store, semua menyulap display mereka dengan suasana natal. Pohon natal menjadi pemandangan nan tidak asing lagi menjelang dan sesudah seremoni natal ini.

Pohon natal dapat dijumpai dalam majemuk bentuk dan ukuran. Di beberapa negara nan mayoritas penduduknya beragama Kristen, selalu saja ada pohon natal raksasa. Bahkan tidak sporadis pohon natal nan dibuat dari coklat, kue dan hiasan buah-buahan sehingga selalu menerbitkan decak kagum dari nan melihatnya dan tentu saja menumbuhkan suasana haru bagi pemeluk agama Kristen.



Pohon Natal dan Muasal

Pemasangan pohon natal nan mengambil inspirasi dari pohon cemara, sudah ada sejak abad ke-16 dan menurut catatan pemasangan pohon natal dari pohon cemara sebagai dekorasi ruangan ini dimulai dari Jerman.

Ketika warga Jerman ini migrasi ke berbagai penjuru global termasuk ke Amerika, tradisi memasang pohon natal dari pohon cemara lengkap dengan berbagai hiasan khas natal itu, juga ikut dibawa-bawa. Misalnya saja warga Jerman nan datang di Pennsylvania, Amerika Serikat, pada sekitar 1830 sudah ada nan mulai memajang pohon cemara menjadi dekorasi pohon natal di rumahnya.

Dari sinilah Norma ini kemudian menular dengan sendirinya dan menjadi tradisi massal. Pohon natal dari pohon cemara menjadi bagian tidak terpisahkan dari seremoni natal.

Pemilihan pohon cemara sebagai pohon natal tidak lepas dari simbol tentang keabadian. Pohon cemara nan dikenal sebagai pohon nan selalu hijau ini, menumbuhkan suasana batin bagi kaum nasrani tentang kehidupan nan abadi.

Pada saat musim salju hampir seluruh pohon daunnya akan rontok kecuali pohon cemara. Inilah pohon evergreen . Dari sanalah simbol tentang kehidupan nan abadi ini mendapatkan loka nan semestinya dengan mengadaptasi pohon cemara sebagai bagian tidak terpisahkan dari seremoni natal. Pohon cemara sebagai pohon natal pun tidak bisa dipisahkan.

Tapi pemasangan pohon natal sebenarnya hanya tradisi nan bukan merupakan kewajiban dalam agama nasrani. Namun sebab terlanjur kuat pengaruh, seolah pemasangan pohon natal menjadi bagian tidak terpisahkan dari kegiatan seremoni natal.



Tradisi Pohon Natal dalam Seremoni Natal

Pemasangan pohon natal pun berubah dari nan tadinya tradisi menjadi bagian krusial dari seremoni keagamaan tersebut. Hasilnya, setiap menjelang natal, pemasangan pohon natal baik nan orisinil dari pohon cemara hayati maupun imitasi menjadi pemandangan khas baik di gereja, rumah, perkantoran, pusat belanja bahkan di pusat-pusat kota terutama nan mayoritas penduduknya beragama Kristen.

Perubahan tradisi pemasangan pohon natal dari pohon cemara, telah pula mengubah pola pikir para pengusaha. Sejak akhir abad ke-19, setelah Norma pemasangan pohon natal menjelang seremoni natal marak di Amerika dan Inggris, industri pohon natal dan aksesoris nan menyertainya menjadi ladang usaha nan menjanjikan.

Para produsen pohon natal, hiasan bola-bola nan digantung, tali berumbai nan selalu melilit pohon natal, pernak-pernik Santa Claus dalam majemuk bentuk dan bahan, tumbuh menjadi industri besar. Tradisi memasang pohon natal lengkap dengan gemerlap lampu khas eropa dan amerika itu, kemudian dengan cepat merambah pula ke Indonesia dan Filipina. Tentu saja industri pohon natal dan aksesorisnya tersebut menjadi semakin membesar.

Namun demikian tidak semua negara mengadopsi pemasangan pohon natal dari pohon cemara tersebut. Sampai sekarang misalnya di India, setiap menjelang pohon tidak ada pohon natal dari cemara sebab mereka lebih bahagia menggunakan pohon pisang dan mangga, begitu pula di Afrika Selatan, memasang pohon natal dari cemara baik nan orisinil maupun imitasi, bukan sesuatu nan akrab dalam tradisi seremoni natal.



Legenda Pohon Natal

Merayakan natal tidak hanya memasang pohon natal lengkap dengan aksesoris pendukungnya. Tradisi natal dan pemasangan pohon natal dari pohon cemara orisinil maupun imitasi, ternyata memiliki legenda nan berbeda-beda. Namanya juga legenda, faktanya dapat saja benar-benar ada atau hanya berasal dari khayalan pencipta legenda tersebut.

Salah satu legenda nan terkait dengan pohon natal ialah Santo Bonifacius. Siapa dia? Menurut legenda, dialah rohaniawan Inggris nan menjadi pemimpin beberapa gereja krusial di Jerman dan Perancis.

Menurut catatan legenda, pada suatu hari Santo Bonifacius berjumpa dengan beberapa orang dekat pohon Ek. Mereka ini sedang melakukan persembahan kepada Dewa Thor nan memberikan seorang anak sebagai bentuk sesajinya. Penyembahan nan dilakukan menjadi bagian dari sejarah pohon natal.

Tentu saja Santo Bonafacius tidak ingin seorang anak tersebut benar-benar dijadikan persembahan. Saat itu juga Santo Bonafacius memukul pohon Ek dan ajaibnya dapat sampai roboh. Orang-orang nan sedang melakukan sesembahan pun dibuatnya keheranan. Belum selesai rasa heran membalut sekelompok orang ini, dari bekas pohon Ek kemudian tumbuh sebuah pohon cemara. Sejak saat itulah dimulainya pemasangan pohon natal dari pohon cemara.

Ada lagi kisah tentang pemasangan pohon cemara sebagai pohon natal ini. Kisah ini terkait dengan tokoh nan melakukan reformasi terhadap gereja, Martin Luther. Konon, pada suatu hari Martin berjalan-jalan di dalam hutan. Pada saat berjalan-jalan di malam hari, Martin demikian terpesona dengan gemerlap bintang di langit, lalu sinar keemasannya membias pada dedaunan pohon cemara.

Keesokan harinya, Martin menebang salah satu pohon cemara kecil lalu membawa ke rumah. Untuk menciptakan gemerlap cahaya bintang seperti nan ia lihat pada malam hari saat berada di hutan, Martin memasang belasan lilin pada setiap cabang pohon cemara tersebut. Suasananya memang tak persis seperti nan ia saksikan malam itu, tapi telah menerbitkan asa spritualitas di hatinya. Upaya Martin menjadi cikal bakal lahirnya pohon natal.

Pemasangan pohon natal tak menjadi tradisi seluruh golongan dalam agama Kristen ini. Ada sekelompok penganut nasrani nan justru melarang memasang pohon natal dari pohon cemara sebab dianggap sebagai bagian dari tradisi pemujaan terhadap dewa matahari.

Pelarangan pemasangan pohon nalat ini terkait dengan tradisi masyarakat Romawi nan selalu mamakai pohon cemara dalam seremoni Saturnalia. Sama dengan Norma masyarakat Kristen sekarang, orang-orang Romawi pun menghiasi pohon cemara dengan aneka macam topeng kecil.

Bagi kepercayaan Romawi, tanggal 25 Desember pun dianggap sebagai kelahiran Mithras, sang dewa matahari. Dari kisah ini umat kristiani nan menolak pemasangan pohon cemara sebagai pohon natal. Namun pemahaman tersebut mulai meluntur setelah media Londn News menerbitkan sebuah illustrasi dimana Ratu Victoria dan anak-anaknya dengan latar belakang pohon cemara.

Hal nan sama dilakukan pula oleh Pangeran Albert dari Jerman pada illustrasi tersebut. Popularitas Ratu Victoria dan Pangeran Albert dengan latar belakang pohon cemara sebagai pohon natal, merubah persepsi orang termasuk mereka nan pada awalnya menolak pemasangan pohon cemara sebagai pohon natal.



Galeri Pohon Natal

Pohon natal dan hiasan nan menyertainya selalu diburu umat kristiani setiap menjelang natal. Tidak mengherankan bila kondisi ini menjadi ladang usaha nan menjanjikan keuntungan. Beberapa toko bahkan menjadikan souvenir pohon natal ini sebagai ladang bisnis.

Beberapa produk khas dari toko-toko tersebut ialah pohon natal ukuran mini, thinker belle, corona, Santaklaus mini, rusa, snowboy, bulan sabit, putri salju dan hiasan lainnya. Produk-produk tersebut dijual dengan harga grosir, sehingga masih terbuka kesempatan buat menjualnya kembali.

Selain produk nan disebut tadi, toko-toko nan menjual perlengkapan buat menghias pohon natal juga menyediakan flannel candle , sepatu kecil, tongkat, sepatu besar, corona kecil, corona besar, peri kecil, beruang natal, tongkat muka, gadis pohon natal, kue jahe, dompet kaus kaki, kaos kaki boneka natal dan produk lainnya.