Revlon Mendapatkan Hati Wanita-wanita di Dunia

Revlon Mendapatkan Hati Wanita-wanita di Dunia

Revlon ialah perusahaan kosmetik kenamaan asal Amerika Perkumpulan nan kini berhasil di mancanegara, termasuk Indonesia. Revlon dikenal dengan produknya nan sinkron buat berbagai kalangan dan usia.

Divisi Revlon nan paling terkenal di mancanegara mencakup:

  1. Natural Wonder buat kalangan remaja dan dewasa muda,
  2. Ultima 11 buat kelas atas,
  3. Moon Drops buat nan memiliki masalah kulit kering,
  4. Princess Marcella Borghese nan ditujukan spesifik buat pasar internasional, dan
  5. Etherea bagi mereka nan berkulit sensitif.

Perusahaan kosmetik ini dikenal sebagai pionir dan inovator di berbagai bidang, tak hanya kosmetik. Salah satu rintisannya nan banyak ditiru oleh banyak perusahaan kosmetik hingga kini ialah peralihan aplikasi uji coba kosmetik dari uji coba pada hewan ke uji coba dengan metode alternatif lain.



Sejarah Awal Pendirian Perusahaan Revlon

Revlon bukanlah "anak kemarin sore" di bidang produksi kosmetik. Delapan puluh tahun nan lalu, ia berdiri di tengah depresi ekonomi nan melanda Amerika Perkumpulan (tahun 1932). Ide pendirian perusahaan kosmetik ini dimulai saat Charles Revson dan saudara laki-lakinya, Joseph, bekerja sama dengan pakar kimia bernama Charles Lachman buat memproduksi produk cat kuku.

Cat kuku pertama nan dibuatnya menggunakan metode nan unik, yakni dengan memanfaatkan pigmen warna, bukannya bahan pewarna celup. Perusahaan kecil ini memproduksi cat kuku dengan berbagai pilihan warna. Pada 1937, Revlon mulai mencoba peruntungannya dengan menjual cat kukunya di pusat-pusat perbelanjaan. Hasilnya, hanya dalam kurun waktu enam tahun perusahaan industri rumahan ini sukses bertransformasi menjadi perusahaan dengan keuntungan jutaan dolar.

Selanjutnya, pada 1940, perusahaan ini memperbanyak koleksi produknya dengan memproduksi berbagai jenis lipstik. Perang Global II pun dijadikan ajang pemerolehan laba oleh kedua bersaudara pendiri perusahaan ini.

Mereka meluncurkan produk kosmetik dan keperluan perawatan tubuh lainnya spesifik buat para tentara Amerika Serikat. Langkah berani ini menuai sukses, Revlon memperoleh penghargaan Army-Navy E Award atas mutu produknya nan baik di masa Perang Global II.



Berbagai Akuisisi nan Dilakukan Revlon

Revlon semakin cemerlang. Setelah perang usai, perusahaan ini menyandang predikat sebagai salah satu produsen kosmetik terbaik di Amerika Serikat. Untuk memperluas ranah bisnisnya, Revlon membeli sebuah perusahaan bernama Graef & Schmidt nan bergerak di bidang produksi cutlery (peralatan seperti pisau dan gunting).

Graef & Schmidt sendiri ialah sebuah perusahaan asal Jerman nan diambil alih oleh pemerintah Amerika Perkumpulan pada 1943 sebab kesulitan keuangan Jerman di masa itu. Akuisisi perusahaan Jerman ini memungkinkan Revlon buat memproduksi alat perawatan tangan dan kuku.

Pada 1955, Revlon menjadi perusahaan nan go public . Saham pertamanya dijual seharga 12 dolar, tapi kemudian harga tersebut melonjak 8 minggu kemudian hingga mencapai angka 30 dolar. Kesuksesan dan semakin luasnya pasar Revlon membuat direksi perusahaan ini memutuskan buat membuka divisi-divisi baru.

Pembukaan divisi-divisi baru ini bertujuan agar produksi dan pemasaran produk Revlon lebih terkonsentrasi pada pelanggan-pelanggan nan tepat. Divisi-divisi ini meliputi Revlon itu sendiri, Princess Marcell Borghese, Ultima II, Natural Wonder, Moon Drops, dan Etherea, sebagaimana telah dipaparkan di awal artikel ini.

Revlon memperbesar perusahaannya dengan mengakuisisi Knomark pada 1957. Knomark ialah sebuah perusahaan produsen semir sepatu. Dengan akuisisi ini, pada 1969, Revlon berhasil memasarkan semir sepatu Esquire nan laris manis di pasar Amerika Serikat.

Rupanya ekspansi perusahaan tak berhenti sampai di situ. Langkah selanjutnya nan diambil ialah mengakuisisi perusahaan-perusahaan lain, seperti perusahaan Ty-D-Bol (sebuah perusahaan produsen pembersih toilet). Revlon juga mengakuisisi Mitchum, perusahaan deodoran pada 1970. Makin banyak perusahaan produsen nan diakuisisi, semakin Revlon merajai pasar berbagai bidang di Amerika Serikat.



Revlon Mendapatkan Hati Wanita-wanita di Dunia

Kegiatan perdagangan internasional Revlon dimulai pada akhir tahun 1950-an. Cabang-cabangnya mulai membludak di berbagai loka di global sejak 1962 saat Revlon membuka cabang di Jepang, Prancis, Italia, Argentina, Meksiko, dan beberapa negara di Asia. Kesuksesan perdagangan internasional perusahaan ini paling sukses menuai berhasil di Jepang.

Di negeri Sakura itu, Revlon tak berusaha menyesuaikan diri dengan menggunakan model-model Jepang nan berwajah oriental dalam promosi-promosi iklannya. Revlon lebih memilih menggunakan model-model Amerika dan ternyata taktik pemasaran ini berhasil sebab rupanya wanita-wanita Jepang menyukai gaya dan model Amerika.

Kini, Revlon menuai berhasil di berbagai belahan dunia, di antaranya di negara-negara:

  1. Asia Tenggara (dengan kantor pusat di Singapura),
  2. Australia,
  3. Selandia Baru,
  4. Hong Kong,
  5. Taiwan,
  6. Cina,
  7. Jepang,
  8. Dubai,
  9. Afrika Selatan,
  10. Italia,
  11. Prancis,
  12. Inggris,
  13. Argentina,
  14. Venezuela, dan
  15. Kanada.


Berbagai Produk nan Sukses Diluncurkan Revlon

Ada banyak produk Revlon nan berhasil di pasaran, termasuk beberapa di antaranya nan merupakan pionir di bidang tersebut. Sebut saja Eterna27, sebuah krim paras nan diluncurkan pada 1968. Krim ini ialah krim kosmetik pertama nan mengandung kadar estrogen nan disebut progenitin. Revlon juga merupakan perusahaan kosmetik pertama nan meluncurkan parfum dari perancang kenamaan.

Revlon hampir selalu menjadi pionir nan kreativitas dan inovasi-inovasinya menjadi patokan bagi perusahaan-perusahaan kosmetik lain di Amerika Serikat. Pada 1973, Revlon meluncurkan parfum unik bernama Charlie. Parfum ini dipasarkan buat wanita berdikari pada tahun 1970-an.

Charlie ialah parfum pertama nan dalam iklannya nan menampilkan wanita memakai celana panjang (saat itu belum ada celana panjang buat wanita dan pemakaian celana panjang oleh wanita ini diasumsikan sebagai promosi feminisme dan kemandirian nan menentang arus tradisional). Pemasaran parfum Charlie semakin memperkaya Revlon dengan kesuksesan penjualan mencapai 506 juta dolar pada 1973 dan 606 juta dolar pada tahun berikutnya.

Kemudian, sebuah parfum nan diberi nama Jontue diluncurkan sebagai kelanjutan parfum fenomenal sebelumnya. Penjualan Jontue juga membuat Revlon meraup laba sebab parfum ini menjadi salah satu parfum dengan penjualan terbaik sepanjang sejarah.



Revlon Pasca Meninggalnya Sang Pendiri

Pada 1975, sang pendiri perusahaan Revlon, Charles Revson, meninggal dunia. Ketiadaannya meninggalkan Michel Bergerac sebagai Presiden perusahaan. Ia ialah seseorang nan sangat ulet nan terus berusaha memperbesar laba Revlon. Ia memperluas pasar Revlon dengan meluncurkan produk lensa kontak ( hard lens ) pada 1976. Pada akhir tahun 1970-an, Revlon banyak mengakuisisi perusahaan-perusahaan lain, seperti:

  1. Coburn,
  2. Armour and Company, dan
  3. Lewis-Howe Company.

Pertengahan tahun 1980-an merupakan tahun-tahun terberat bagi Revlon dengan hadirnya perusahaan pesaing, Estee Lauder. Estee Lauder meraih kesuksesannya dengan taktik promosi menggunakan supermodel-supermodel terkenal di masa itu dan menyingkirkan Revlon dari pasar kosmetik Amerika Serikat.

Hal ini berakibat jelek bagi Revlon, harga sahamnya mengalami penurunan sebesar 10 - 20 persen. Bagaikan imbas domino, pasar Amerika Perkumpulan serta merta menurunkan Revlon sebagai perusahaan kosmetik peringkat pertama menjadi peringkat kedua.

Kesulitan ini dihadapi Revlon dengan semakin banyaknya perusahaan lain nan diakuisisi. Strateginya saat itu ialah buat memperkuat dan memperbanyak penemuan produk Revlon di berbagai bidang. Pada 1983, perusahaan ini sempat berseteru dengan perusahaan Gillette saat ingin mengakuisisinya.

Puncaknya, perusahaan Revlon dijual ke Pantry Pride pada 1985 dan berganti nama menjadi Revlon Group, Inc. Revlon nan baru ini belumlah terlepas dari masa sulit. Kerugian-kerugian nan diperoleh pada tahun 1980-an meninggalkan utang sebesar 2,9 miliar dolar.

Keuangan perusahaan ini kembali normal pada tahun 1990-an hingga sekarang. Meski beberapa anak perusahaannya telah dijual, Revlon mampu bersaing dengan perusahaan-perusahaan kosmetik lain di seluruh belahan global hingga saat ini.