Hasan Tiro, Salah Satu Pejuang Gam

Hasan Tiro, Salah Satu Pejuang Gam

Pasca ditandatanganinya nota kesepahaman (MOU) berisi perjanjian damai antara pemerintah Indonesia dengan Gerakan Aceh Merdeka atau disingkat GAM , nyaris tidak ada lagi kabar mengenai kelompok tersebut. Kelompok nan sebelumnya oleh pemerintah Indonesia dianggap sebagai separatis (pemberontak). Karena berusaha buat memberontak dan keluar dari kesatuan Republik Indonesia.

Sebenarnya kelahiran Gerakan Aceh Merdeka diawali sebab kekecewaannya terhadap janji nan telah diucapkan Sukarno pada tahun 1948. Dulu Aceh akan diberi hak buat mengurus pemerintahannya sendiri sinkron dengan syariat Islam. Karena dulu sebenarnya Aceh tak mau ikut menjadi bagian dari NKRI. Namun sebab desakan dan janji dari Sukarno maka Aceh bersedia bergabung menjadi bagian dari Indonesia.

Namun semenjak kemerdekaan Indonesia telah di proklamirkan janji tersebut tak dipenuhi. Ditambah dengan adanya peleburan Propinsi Aceh ikut di Propinsi Sumatra Utara. Rakyat semakin tak suka dan marah.Terutama beberapa tokoh Aceh nan telah tua dan mengingingkan buat berdiri menjadi negara sendiri.



Lahirnya Kesepakatan Damai

Kiranya masyarakat di provinsi terujung sebelah barat kepulauan nusantara itu, pantas berlapang dada. Pasalnya sejak tanggal 15 Agustus 2005, konflik senjata nan telah berlangsung sejak tahun 1976, berakhir. Konflik nan berkepanjangan tersebut tentu membawa trauma tersendiri bagi masyarakat. Dengan berakhirnya konflik tersebut tentu membawa kelegaan tersendiri bagi masyarakat nan telah lama merindukan sebuah kedamaian. Tanpa ada lagi desingan peluru dan standar tembak nan terdengar setiap hari.

Segala penderitaan nan memakan korban harta dan jiwa lebih dari 15.000 orang tersebut, diharapkan bisa selesai dengan ditandatanganinya perjanjian damai antara tim perunding Indonesia dengan Gerakan Aceh Merdeka di Vantaa, Helsinki, Finlandia. Walaupun masih perlu waktu nan cukup buat bisa benar-benar menyembuhkan trauma masyarakat Aceh, perjanjian damai ialah langkah tepat. Membawa kedamaian di bumi Serambi Mekah setelah puluhan tahun "perang saudara" mengoyak daerah tersebut.

Pada tahun 2004. Aceh mengalami porak poranda sebab digoncang gempa dan tsunami. Hal ini membuat global Internasional menaruh simpati pada Aceh. Serta melihat bahwa Aceh menjadi daerah terisolir dari global internasional dan daerah darurat militer. Pada awalnya global Internasional ingin membantu masyarakat nan sedang kesusahan. Kemanusiaanlah nan dituju namun lama kelamaan donasi tersebut beralih menjadi donasi politik. Yakni buat perdamaian RI dan GAM nan telah konflik selama hampir tiga puluh tahun.

Tahap awal perundingan antara Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka terjadi pada bulan februari pada tahun 2005 di Finlandia. Mantan presiden Finlandia berperan sebagai fasilitator kedua belah pihak nan sedang konflik. Perundingan terjadi selama 25 hari. Akhirnya dicapai kesepakatan antara kedua belah pihak nan ditandai dengan penandatanganan nota kesepakatan (MoU) damai. Penandatanganan ini terjadi pada tanggal 15 Agustus 2005. Perdamaian ini selanjutnya dipantau oleg Aceh Monitoriing Mission (AMM).

Anggota dari AMM ialah dari lima negara ASEAN dan beberapa negara Uni Eropa. Lalu pada tanggal 19 Desember 2005 pihak Gerakan Aceh Merdeka menyerahkan 840 pucuk senjata kepada pihak AMM. Hal ini berdasarkan perjanjian tersebut. demi perdamaian antara kedua belah pihak, pihak Gerakan Aceh Merdeka harus menyerahkan segala senjata dan peralatan militer lain nan dimiliki. Termasuk juga buat membubarkan sayap militernya nan dilakukan oleh juru bicara Gerakan Aceh Merdeka bahwa sayap tentaranya secara formal telah dibubarkan pada tanggal 19 Desember 2005.

Selain itu, pemerintah Indonesia turut memfasilitasi pembentukan partai politik lokal di Aceh serta pemberian amnesti (ampunan) bagi anggota GAM. Ini ialah upaya merangkul kembali "saudara sebangsa" dari negara Indonesia nan terpecah sebab disparitas kepentingan. Indonesia berupaya agar Aceh tak terpisah dari bagian NKRI. Serta tetap menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.



Sedikit Tentang Gerakan Aceh Merdeka

Setelah hari kemerdekaan Republik Indonesia tepatnya pada tanggal 23 Agustus 1945. Para tokoh Aceh berkumpul sebanyak 56 btokoh. Mereka mengucapkan sumpah buat setia dan membela kemerdekaan Republik Indonesia hingga titik darah penghabisan serta acara nan dilakukan ialah pengibaran bendera merah putih. Namun ada beberapa tokoh Gerakan Aceh Merdeka nan tak mau bersumpah.

Sebelum perjanjian damai tercapai, Aceh termasuk salah satu provinsi nan senantiasa bergolak dengan isu pemisahan diri dari kedaulatan Republik Indonesia. Adalah Hasan di Tiro nan selama hampir tiga dasa warsa bermukim di Swedia, merupakan pendiri dan pemimpin dari organisasi GAM atau biasa juga disebut Aceh Sumatra National Liberation Front (ASNLF) nan lahir pada era Suharto. Pada saat tersebut Aceh benar-benar dicampakkan. Telah terjadi industrialisasi dan segala kehormatan rakyat Aceh dicampakkan.

Kekayaan Aceh nan melimpah telah dikeruk habis-habisan oleh asing nan atas persetujuan pusat. Dengan adanya pembangunan indutri-industri. Sedangkan imbas dari perjudian melahirkan prostitusi, minum-minuman keras dan mabuk-mabukan serta berbagai macam kejahatan nan bertentangan dengan hukum Islam dan adat istiadat rakyat Aceh. Walaupun pembangunan industri terjadi dimana-mana namun di sisi lain rakyat Aceh tetap saja miskin dengan pendidikan nan rendah serta kondisi ekonomi nan jelek dan memprihatinkan.

Mulai dari pembagian kekayaan daerah nan tak adil hingga aspirasi politik nan tersumbat, membuat GAM pun diproklamirkan. Tujuan dan tuntutannya jelas, yaitu melepaskan diri dari kedaulatan Republik Indonesia. Hal ini buat mengembalikan kemuliaan bangsa Aceh nan mampu berdiri sendiri tanpa harus berdiri di belakang nama Indonesia. Aceh mampu menjadi negara nan mulia nan sinkron dengan syariat Islam.

Karena atas dasar itulah akhirnya Daud Beurueh, seorang tokoh Aceh nan sudah tua umurnya nan tak ikut bersumpah setia pada NKRI. Dia melakukan gerilya buat mengembalikan kehormatan rakyat Aceh serta adat istiadat dan agama Islam. Lalu pada tahun 1970-an para tokoh Aceh melakukan berbagai perundingan nan akhirnya disepakati pembentukan Republik Islam Aceh. Sebuah negara nan berlandaskan syariat Islam nan berdiri sendiri dan terpisah dari NKRI.

Tepat pada tanggal 4 desember tahun 1976 di desa Tiro Kabupaten Pidi. Secara resmi GAM memproklamirkan diri menjadi wilayah nan terpisah dari NKRI. Sejak saat itu terjadi konflik antara Pemerintah Indonesia dengan Gerakan Aceh Merdeka. Yang terus saja berlangsung. Hingga berpuluh tahun kemudian. Yang semula tak menggunakan kekerasan fisik berubah menjadi standar hantam menggunakan senjata.

Para anggota organisasi ini biasanya berada di dalam hutan-hutan nan ada di Aceh buat melakukan latihan militer, berkumpul, berunding dan berbagai kegiatan nan lainnya. Karena ketidak percayaan rakyat terhadap pemerintah akhirnya rakyat banyak nan bersimpati dan mendukung Gerakan Aceh Merdeka.

Pada awal pendirian GAM, mayoritas masyarakat Aceh tak mendukung atau tak terlalu peduli dengan organisasi itu. Tapi, dampak tindakan pemerintah Indonesia nan represif kepada seluruh masyarakat Aceh, membuat GAM mendapat dukungan. GAM tumbuh fertile dan berbaur dengan masyarakat Aceh sehingga sulit diberantas.

Pemberlakuan Operasi Jaring Merah tahun 1980 atau lebih dikenal dengan nama Daerah Operasi Militer (DOM) selama masa Orde Baru, menimbulkan imbas bumerang kepada pemerintah Indonesia. Bukannya memberangus GAM tapi sebaliknya, kebencian masyarakat Aceh kepada pemerintah Indonesia semakin meningkat.

Inilah salah satu alasan mengapa pada akhirnya kebjiakan DOM dicabut pada tahun 2003 dan pendekatan diplomatik lebih dikedepankan. Akhirnya, kesepakatan damai pun tercapai setelah perundingan berlangsung selama 25 hari.



Hasan Tiro, Salah Satu Pejuang Gam

Lahir di Pidie, Aceh, pada 25 September 1925, Hasan di Tiro bagaikan cerminan ketidakpuasan sebagian masyarakat Aceh terhadap berbagai kebijakan pusat (Jakarta) nan sering menomorduakan provinsi tersebut. Dia ialah proklamator kemerdekaan bagi Aceh merdeka. Di dalam darahnya mengalir darah pejuang nan terus memperjuangkan kemerdekaan bagi Aceh. Yang saat itu merasa telah di pinggirkan oleh Indonesia.

Karena keadaan nan dirasa darurat akhirnya tokoh tua Aceh segera menghubungi Hasan Tiro nan sedang belajar di Amerika. Untuk segera memproklamirkan kemerdekaan Aceh. Dia iikut keluar masuk hutan bersama prajurit nan lainnya buat memperjuangkan kemerdekaan Aceh. Ia mengungsi ke berbagai negara sebab agresi dari Tentara Indonesia nan bertubi-tubi. Perjuangannya ini dilakukan hingga 3 tahun sebab serangan-serangan tersebut.

Pada akhirnya Hasan Tiro mengungsi dan menetap di Swedia. Yang akhirnya kewarganegaraannya berubah menjadi berkewarganegaraan Swedia. Namun di akhir hidupnya, tepatnya sehari sebelum meninggal pada tanggal 2 Juni 2010, Ia mendapatkan kewarganegaraan Indonesia. Hasan Tiro meninggal pada usia 84 tahun di Banda Aceh. Ia telah menorehkan tinta sejarah dengan organisasinya nan dianggap oleh Pemerintah Indonesia sebagai gerakan separatis, yakni GAM.