Metode Tafsir - Metodologi Tafsir Al-Qur'an

Metode Tafsir - Metodologi Tafsir Al-Qur'an

Berbicara mengenai metode tafsir , maka kita selalu mengaitkannya dengan metode tafsir Alquran. Meskipun kata tafsir sendiri ialah kata generik nan bisa dipakai dalam karya apa pun buat mengartikan sebuah simbol nan muncul. Namun ketika mendengar kata tafsir, kita mengkhususkan pada Alquran dan hadis.

Kata tafsir sendiri secara etimologi berasal dari kata al-fusru nan jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia artinya 'menjelaskan atau menyingkap sesuatu'.

Jika kita menengok teori para pakar Alquran, seperti nan dikutip oleh al Hafizh as-Suyuthi. Ilmu Tafsir ialah ilmu buat memahami Alquran dengan menjelaskan makna-makna nan terkandung di dalamnya secara baik dan sahih sinkron dengan hukum Islam, yaitu alquran itu sendiri.

Metode dalam menafsirkan Alquran bisa kita simpulkan menjadi dua kategori, yaitu tafsir bir riwayah dan tafsir bir ra'yi .



Metode Tafsir Bir Riwayah

Tafsir bir riwayah ialah ilmu tafsir nan memahami Alquran dengan mengkaji setiap ayatnya nan dikaitkan ayat nan lain. Jadi, ilmu tafsir ini ialah ilmu pemahaman Alquran dengan mencari pemahaman dari Alquran itu sendiri, sebab di dalam Alquran itu sendiri antara ayat nan satu dan ayat ang lain ialah sebuah kesatuan nan utuh.

Ayat-ayat nan terkandung di dalamnya saling menjelaskan. Tidak ada satu pun ayat nan saling bertentangan atau kandungan maknanya dapat dibantah dengan ayat lain.

Dalam ilmu tafsir bir riwayah, si penulis sporadis sekali memasukkan pemikirannya dalam manafsirkan Alquran. Semua ayat dijelaskan secara bulat. Apa nan tersurat di dalam Alquran bisa diartikan secara verbal.

Metode tafsir bir riwayah bisa dikelompokan menjadi dua metode penafsiran, yaitu :

  1. Tafsir at-tahlili. Pada metode tafsir ini, mufassir (ahli tafsir) mulai mengartikan ayat Alquran secara berurutan, dari mulai surat pertama, yaitu Al fatihah sampai dengan surat An-nas. Dia mengurutkan setiap ayat nan bersinggungan secara kronologis dari awal sampai akhir. Ini ialah metode klasik nan digunakan buat menafsirkan semua kitab suci.

  2. Tafsir maudu'i ialah metode tafsir Alquran berdasarkan tema surat di dalam Alquran. Seorang pakar tafsir menghimpun seluruh surat dari Al fatihah sampai An-nas. Kemudian, dari 114 surat tersebut dipilah dan pilih nan memiliki tema nan sama. Lalu dia menjelaskan secara terperinci setiap ayat nan berkaitan dengan tema tersebut.

Berikut ini ialah contoh metode tafsir maudu'i.

Misalnya, kita akan menafsirkan kata sholat di dalam Alquran. Maka, kita akan menghimpun setiap ayat dalam setiap surat di dalam Alquran. Lalu, kita tafsirkan kata sholat itu, baik secara tersurat maupun secara implisit nan terkandung di dalam sebuah ayat.

Ayat tersebut membahas apa mengenai kata sholat tersebut, kemudian kita mencari surat keterangan melalui ayat lain nan menjelaskan tentang sholat. Maka kita akan mengambil konklusi dari beberapa klarifikasi ayat tentang sholat. Itulah nan dinamakan tafsir maudui.

Konon kabarnya, metode ini dimulai oleh Muhammad al Biqai dari kalangan syiah. Dan di indonesia Quraish Shihab ialah salah satu pakar tafsir nan menggunakan metode Maudui.



Metode Tafsir Bir Ra'yi

Metode tafsir bir rayi ialah metode tafsir nan digunakan orang-orang sunni. Dalam metode ini menerjemahkan Alquran berdasarkan pada pemahaman akal manusia atau (ra'yi). Seluruh kandungan nash tidak lantas diterjemahkan secara verbal atau secara tersurat, namun lebih pada batas-batas toleransi nan ada pada ilmu hadis dan ilmu Alquran itu sendiri.

Hampir semua tafsir Alquran nan dibaca oleh ulama Indonesia ialah tafsir dari orang-orang Sunni sehingga kita hanya mempunyai sedikit pemikiran tentang orang-orang syiah dalam manafsirkan Alquran. Metode ini bisa dipilah menjadi tiga metode, yaitu:

  1. Metode tafsir bil ilmi artinya menafsirkan Alquran berdasarkan pada kenyataan alam dan ilmu akal kemudian merujuk pada ayat alquran itu sendiri.

  2. Metode fasafi, artinya dalam metode ini pemahaman Alquran berdasarkan filsafat Islam nan kemudian merujuk pada ayat Alquran.

  3. Pendekatan sastra , yaitu pendekatan nan dipakai dalam menerjemahkan Alquran berdasarkan teks nan ada di dalam Alquran itu sendiri. Kemudian, metode ini berkembang menjadi penerjemahan Alquran berdasarkan teori semiotika dan heurmeneutika nan ditentang oleh sebagian ulama Indonesia sebab dianggap tak relevan jika Alquran sebagai firman Tuhan dianggap sama dengan karya sastra protesis manusia.


Metode Tafsir - Metodologi Tafsir Al-Qur'an

Selain metode tafsir di atas, ada lagi metode tafsir Al-quran lainnya, seperti metode Tahlili, metode Ijmali, metode Muqarin dan metode Maudlu'i.



1. Metode Tafsir - Metode Tahlili (Analitik)

Metode Tahlili merupakan metode tafsir tertua dan paling sering dipakai. Muhammad ash-Shadr mengatakan metode tafsir ini atau nan disebut dengan metode tajzi'i, ialah metode tafsir nan mufasir -nya berupaya menerangkan kandungan ayat-ayat Al-quran dari berbagai sudut dengan memperhatikan susunan ayat Al-quran seperti nan terdapat di dalam Al-quran.

Metode tafsir ini dilakukan berurutan, yaitu ayat demi ayat lalu surat demi surat dari awal sampai akhir sinkron dengan susunan Al-quran. Metode tafsir ini akn menjelaskan kosa kata dan lafazh, menjelaskan arti nan diinginkan, target nan dituju,dan kandungan ayat (unsur-unsur I'jaz , balaghah , estetika susunan kalimat, menerangkan apa nan bisa diambil dari ayat yaitu hukum fiqih, dalil syar'i, arti secara bahasa, norma-norma akhlak dan lain-lain).

Malik bin Nabi mengatakan bahwa tujuan primer para ulama menafsirkan Al-qruan dengan metode tafsir ini yaitu buat menempatkan dasar-dasar rasional dalam pemahaman terhadap kemukzizatan Al-quran (sesuatu nan tak dianggap sebagai kebutuhan mendesak bagi umat Islam saat ini). Oleh sebab itu, diperlukan pengembangan metode tafsir sebab metode tafsir ini melahirkan gagasan nan majemuk dan terpisah-pisah.

Kekurangan dari metode tafsir ini yaitu pembahasannya sangat teoritis dan tak seluruhnya mengacu ke persoalan-persoalan eksklusif nan dialami dalam kehidupan bermasyarakat. Pada akhirnya, timbul kesan bahwa klarifikasi tersebut ialah pandangan Al-quran buat setiap waktu dan loka sehingga dianggap terlalu "mengikat" generasi nan akan datang.



2. Metode Tafsir - Metode Ijmali (Global)

Metode tafsir ini berupaya menafsirkan Al-quran dengan singkat dan global, yaitu memaparkan makna nan terkandung di setiap kalimat menggunakan bahasa ringkas sehingga mudah dimengerti. Sementara itu, urutan penafsiran sama dengan metode tafsir Tahlili. Namun, terdapat disparitas di antara kedua metode tefsir tersbut, yaitu dalam hal klarifikasi nan singat dan tak panjang lebar.

Metode tafsir Ijmali memiliki keistimewaan berupa kemudahan sehingga bisa dipelajari oleh seluruh kaum muslimin. Walaupun begitu, metode tafsir ini juga memiliki kelemahan, yaitu penjelasannya terlalu singkat sehingga tak mampu menjelaskan makna ayat secara luas dan tak mampu menuntaskan masalah.



3. Metode Tafsir - Metode Muqarin

Metode tafsir ini memakai metode perbandingan antara ayat dan ayat, ayat dengan hadits, dan antara pendapat-pendapat para ulama tafsir dengan memperlihatkan disparitas spesifik dari obyek nan sedang diperbandingkan.



4. Metode Tafsir - Metode Maudhu'i (Tematik)

Metode Maudhu'I merupakan metode tafsir nan berupaya mencari jawaban Al-quran dengan mengumpulkan ayat-ayat Al-quran dan memiliki satu tujuan. Metode tafsir ini membahas topik atau judul eksklusif bersama-sama serta menertibkannya selaras dengan masa turunnya dan juga sebab-sebab turunnya. Setelah itu, memperhatikan ayat-ayat tadi dengan penjelasan-penjelasan, keterangan-keterangan, dan interaksi dengan ayat lainnya. Termin terakhir yaitu mengmabil hukum-hukum darinya.