Kesenian Riau di Tengah Serbuan Budaya Asing

Kesenian Riau di Tengah Serbuan Budaya Asing

Kesenian Riau ialah merupakan kesenian nan terdapat di wilayah Riau. Salah satu kesenian nusantara ini paling kental dengan budaya Melayu, sehingga layak kiranya jika kesenian Riau disebut sebagai pusat budaya Melayu dunia, dan menjadi tujuan primer pelacakan sumber budaya Melayu.

Letak geografis Riau sebagai "markas besar" dari kesenian Riau nan berada pada jantung perlintasan laut membuat wilayah ini telah ramai dikunjungi masyarakat asing sejak zaman dulu. Kondisi ini dapat disikapi sebagai beban sekaligus berkah. Di satu sisi, Riau menjadi ladang perhimpunan berbagai potensi kesenian dengan pengaruh budaya asing, dan di sisi lain muncul pula potensi korosi terhadap nilai-nilai budaya setempat oleh budaya asing nan kurang selaras.

Dari zaman ke zaman, budaya Melayu dengan karakteristik sosiologis semacam itu, telah menjadi sistem scanning dalam hubungan antarbudaya nan saling berakulturasi. Dalam perkembangannya, kesenian Riau ialah bagian dari nilai estetika nan tertata apik namun tidak lepas dari tuntunan nilai kebiasaan Melayu nan bercorak Islam.

Riau sangat kaya dengan ragam bentuk kesenian, baik seni pertunjukan seperti teater, tari, musik, dan nyanyian; maupun sastra. Dalam perkembangannya, kesenian Riau tersebut memiliki kaitan erat dengan kegiatan adat, tradisi, maupun keagamaan nan terwarisi turun temurun.

Pulau Sumatera memang satu-satunya pulau di Indonesia nan masih kental memiliki kesenian bernuansa melayu. Perbedaan makna melayu nyatanya bukan hanya dimiliki oleh kesenian Riau, kesenian di daerah lain nan masih berada di wilayah Sumatera pun memiliki perbedaan makna nan sama. Maka janganlah heran jika ada beberapa bagian dari kesenian Riau nan mengingatkan kita akan kebudayaan melayu nan cukup kental.

Sebagai salah satu kesenian nan dimiliki oleh Indonesia, kesenian Riau berbeda dengan kesenian nan dimiliki oleh wilayah Indonesia lainnya. Hal nan membedakan ialah tentu saja perbedaan makna melayu nan sangat kental.

Jika mau melihat ke belakang, sejarah atau bukti diri bangsa Indonesia sesungguhnya memang tak jauh dari kebudayaan melayu. Rumpun bahasa nan kita pakai sehari-hari pun merupakan rumpun bahasa melayu. Pengaruh melayu masih sangat kental terasa di sepanjang Pulau Sumatera. Tidak mengherankan jika kesenian Riau nan memang berada di Pulau Sumatera memiliki perbedaan makna melayu nan cukup kental.

Pengaruh kebudayan rumpun melayu nan ada di kawasan Pulau Sumatera memang tak dapat dihindari. Kebiasaan dan kehidupan masyarakat nan memang tinggal di kawasan Sumatera itulah nan melatarbelakangi kesenian khas Pulau Sumatera, salah satunya kesenian Riau.



Beberapa Jenis Kesenian Riau

Kesenian Riau pada dasarnya memiliki cabang-cabang kesenian nan hampir sama dengan jenis kesenian nan terdapat didaerah lain. Berikut ini ialah beberapa jenis kesenian Riau nan ikut "meramaikan" kesenian nan ada di Indonesia.



1. Seni Teater Khas Kesenian Riau

Teater ialah bentuk kesenian Riau nan kompleks sebab memadukan unsur-unsur seni lain seperti musik, rupa, dan sastra.

Teater khas Riau memiliki karakteristik istana sebab perkembangan kesenian ini berawal dari dalam tembok Kesultanan Riau. Tersebutlah di antaranya ialah teater Makyong, teater Mendu, teater Mamanda, dan teater Bangsawan.



2. Seni Tari Khas Kesenian Riau

Dalam budaya kesenian Riau, seni tari berkembang secara integral dengan seni teater. Misalnya tari Ladun, tari Jalan Kunon, dan tari Lemak Lamun nan menjadi bagian dari teater Mendu. Atau tari Selendang Awang, tari Timang Welo, tari Berjalan Jauh, dan tari Cik Milik nan merupakan bagian penyusun teater Makyong.



3. Seni Musik Khas Kesenian Riau

Tak beda dengan seni tari, kesenian Riau ini pun menjadi bagian integral seni teater. Maka tersebutlah teater Mendu memanggungkan lagu Lakau, Ladun, Madah, Tala Satu, Ayuhai, dan lain-lain. Sedangkan teater Makyong memanggungkan lagu Timang Bunga, Selendang Awang, Awang Nak Beradu, Puteri Nak Beradu, dan sebagainya.

Seperti disebutkan di muka, kesenian Riau tersebut merupakan bagian dari upacara nan bersifat ritual seperti buka tanah dan semah, di mana di dalamnya digunakan mantra dan serapah.



4. Seni Sastra Khas Kesenian Riau

Seni Sastra berkembang terpisah dari seni teater, walaupun tak sepenuhnya lepas. Warisan kesusastraan Riau nan paling menonjol ialah Gurindam Dua Belas karya cipta Raja Ali Haji. Namanya sebagai sastrawan, pakar bahasa, penulis sejarah sekaligus ulama, amat disegani di dunia. Jejaknya dijadikan rintisan bagi sastrawan sesudahnya seperti Raja Ali Kelana, Raja Zaleha, Aisyah Sulaiman, dan lain-lain. Kesenian Riau nan satu ini lahir dari pemikiran seorang pintar.



5. Seni Rupa Khas Kesenian Riau

Kesenian Riau nan satu ini sangat khas. Seni rupa khas Riau teraplikasi dalam motif hias seni rupa terapan, di antaranya pada seni bangunan, kerajinan, dan kain adat seperti kain tenun Siak, sutera lintang Siantan, serta sutera petak catur dan kain mastuli Daik Lingga.

Dalam kesenian Riau, motif Riau menghindari gambar binatang dan manusia, dan sebagai gantinya, mengeksplorasi motif geometri dan tumbuh-tumbuhan, serta kaligrafi. Motif nan terkenal misalnya: kembang cengkih, pucuk rebung, awan larat, sayap layang-layang, siku keluang, dan lain-lain.



Kesenian Riau di Tengah Serbuan Budaya Asing

Perkembangan zaman di segala sektor nan tidak terelakkan menyebabkan global 'menyempit' selebar layar televisi. Belum lagi kemudahan akses transportasi dan komunikasi nan ikut berperan dalam serbuan budaya asing ke dalam struktur sosiologis Riau. Perkembangan ini secara tak langsung berimbas pada kesenian Riau.

Tak dapat dipungkiri bahwa bentuk kesenian Riau nan tradisional dan konvensional sudah tak lagi mampu menampung gelegak kegelisahan zaman dan insting aktualisasi diri nan menuntut kebaruan. Kesenian tradisional - bukan hanya kesenian Riau - dianggap sudah sangat membosankan.

Faktanya, kesenian Riau sedang tergagap-gagap menghadapi kenyataan sosial post-modern di mana nilai-nilai budaya asing semakin menguat intervensinya sementara kemampuan filter budaya lokal semakin melemah. Kesenian tradisional tidak lagi mampu berdiri sama tinggi dengan budaya asing nan menyerbu tanpa permisi.

Dibandingkan dengan pembangunan fisik kota Riau, perhatian terhadap kesenian Riau agaknya masih tertinggal cukup jauh. Kalaupun ada angin segar munculnya pelaku budaya modern nan mengabdi pada nilai-nilai budaya luhur di masa lalu, hembusannya belum cukup menghilangkan gerah dampak korosi nan terus berlangsung.

Gempuran dari kebudayaan asing nan perlahan tapi niscaya memasuki wilayah Indonesia dan secara langsung berpengaruh terhadap kesenian atau kebudayaan Indonesia harus disikapi dengan serius. Upaya buat mempertahankan kesenian Riau maupun kesenian nan lain sepenuhnya ialah tanggung jawab dari semua masyarakat Indonesia.

Maka, seperti terlantunkan dalam lirik lagu Lancang Kuning:

Lancang kuning, lancing kuning berlayar malam
Haluan menuju, haluan menuju ke bahari dalam
Bila nakhoda, bila nakhoda tidaklah paham
Alamatnya kapal, alamatnya kapal akan teng`gelam

Semoga 'nakhoda' budaya Riau paham betul bahari dalam nan dituju haluannya, dan semoga juga "Nahkoda" itu hafal, akan dibawa kemana kesenian Riau. Maka, jika demikian, kita dapat lega berharap 'kapal' ini tidak akan tenggelam, bahwa kesenian Riau akan terus bertahan ditengah gempuran kebudayaan asing nan dengan mudahnya masuk ke Indonesia.