Ramalan Jodoh Jawa - Mitos Tentang Geyeng

Ramalan Jodoh Jawa - Mitos Tentang Geyeng

Menentukan jodoh dalam budaya Jawa, ialah sebuah perkara nan gampang-gampang susah. Mengapa demikian? Hal ini terkait dengan banyaknya hal-hal nan menyertainya. Selain masalah bobot, bibit dan bebet masih ada satu lagi nan tak kalah krusial buat diperhitungkan.

Hal tersebut ialah perhitungan weton. Dalam Ramalan Jodoh Jawa , sangat mempercayai makna weton sebagai penentu kebahagiaan dan kelanggengan sebuah pasangan dalam membina keluarga. Ada weton nan dianggap cocok buat bersanding, namun ada pula weton nan tak mungkin buat disandingkan apapun alasannya.

Perhitungan Jawa sendiri tak sekedar mengenal penanggal sebagaimana almanak Masehi seperti Senin, Selasa, Rabu dan seterusnya. Ada perhitungan hari tersendiri nan dijadikan patokan dalam almanak Jawa. Hari-hari tersebut ialah Pon, Wage, Kliwon, Legi dan Pahing. Hanya lima hari, berbeda dengan almanak Masehi nan menghitung ada tujuh hari dalam perputarannya.



Ramalan Jodoh Jawa - Mitos Tentang Geyeng

Dalam ramalan jodoh Jawa, ada salah satu pasangan hari nan dianggap tabu buat berjodoh. Pasangan hari tersebut ialah almanak Wage dan Pahing. Sehingga pasangan nan memiliki hari kelahiran pada kedua almanak tersebut, dilarang buat berjodoh dan membina rumah tangga.

Alasannya ialah bahwa jika pasangan tersebut dipaksakan buat menikah maka usia pernikahan tersebut tak akan langgeng. Atau jika pun dapat berlangsung lama, maka akan selalu muncul masalah nan menimpa dan berakibat kurangnya kebahagiaan dari pasangan tersebut.

Hal ini terjadi sebagai dampak adanya kepercayaan bahwa manusia nan lahir pada kedua hari Jawa tersebut memiliki sifat dasar nan saling berlawanan. Dengan kata lain, tak ada interaksi positif pada aura nan terpancar dari kedua orang nan lahir pada hari Wage dan Pahing.

Itulah mengapa pasangan nan demikian ini dinamakan pasangan geyeng. Yang berarti singkatan dari Wage dan Pahing. Dalam arti bahasa jawa nan lain, geyeng berarti goyang atau tak pas. Sehingga makna ini diperluas menjadi tiadanya keselarasan dalam hal interaksi perjodohan.

Bagi nan mempercayai ramalan jodoh Jawa ini, keputusan akan pasangan geyeng ini sudah mutlak. Dalam arti tak dapat ditebus dengan ritual apapun, sebagaimana jika terjadi pada pasangan lain nan diperkirakan memiliki weton nan dianggap kurang berjodoh.