Tarian Berdarah

Tarian Berdarah

Ada banyak jenis Tari Maluku Utara nan mungkin belum dikenal oleh masyarakat Indonesia. Mobilitas tari nan sederhana dari Maluku Utara ini akan membuat orang tergoda buat menirukannya. Sebut saja Tari Cakalele nan merupakan tarian perang.

Tari Cakalele diiringi musik nan cukup meriah. Para penari laki-laki membawa parang dan salawaku, serta para penari wanita membawa lenso atau sapu tangan. Mereka akan bergerak dengan sangat lincah. Masih banyak lagi tarian nan akan mengundang kegembiraan nan ada di Maluku Utara.



Jenis Tari Lain

Tari Cakalele cukup sering terdengar dan dimainkan di luar provinsi Maluku Utara. Tari ini menunjukan kesiapan warga ketika harus membela tanah airnya. Tarian ini memang tak seterkenal tarian dari Bali, tarian dari Sumatera Barat, tarian dari Sumatera Utara, serta tarian dari Pulau Jawa. Namun, tarian-tarian tersebut cukup menunjukan kekhasan tersendiri.

Ada tarian lain nan cukup unik. Tarian tersebut biasa dimainkan oleh penduduk nan mendiami daerah hutan bambu di daerah kaki Gunung Gamalama. Tari Bambu Gila, namanya. Tarian ini menggunakan kekuatan mistis.

Bagaimana sebuah bambu dengan panjang sekitar 10-15 meter dapat mempunyai berat berton-ton dan membuat para pemegangnya tak sanggup? Bagaimana menarikan Tari Bambu Gila ini?

Para penari nan terdiri atas 6 orang laki-laki bertubuh gagah akan memegangi bambu nan telah disiapkan. Sebelum dimulai, seorang dukun atau nan biasa disebut dengan pawang akan membacakan mantra-mantra buat memanggil para jin. Kemeyan pun dijadikan sebagai mediator pemanggilan jin tersebut. Setelah sang pawang selesai melaksanakan tugasnya, pemain memegang bambu.

Para penari itu akan berusaha memegangi bambu nan seolah berputar dan bergerak sendiri bagai tidak terkendali. Semakin cepat musik nan ditabuh, semakin cepat bambu itu akan bergerak. Kalau tak kuat, para penari ini akan terlempar.

Para penonton tentu bahagia melihat hal nan tak masuk akal tersebut. Walaupun mungkin, ada nan tahu bahwa apa nan dilakukan oleh pawang itu ialah sesuatu nan berdosa, mereka tetap menontonnya.

Dikisahkan, bahwa tarian ini berasal dari cerita ketika masyarakat kaki Gunung Gamalama akan membawa kapal nan telah mereka untuk ke pantai. Gerakan membawa bambu itu sebenarnya menunjukan gerakan cara orang dahulu mengangkat kapal.

Gerak ini juga sebenarnya menunjukan bagaimana orang-orang Maluku Utara memindahkan kapal nan kandas di pantai. Menurut cerita juga, ternyata bambu gila ini digunakan oleh para raja buat menghalau musuh-musuh mereka.

Tari Bambu Gila ini telah cukup sering ditampilkan di televisi dalam acara nan berkaitan dengan mengunjungi loka wisata tanah air . Bahkan para pengunjung loka ini juga banyak nan mencoba ikut bermain dan memegang bambu nan sangat berat itu. Mereka bahagia dan tak terlalu banyak memikirkan apakah mereka ikut berdosa telah menjadi saksi kolaborasi manusia dengan bangsa jin.



Sendratari dari Maluku Utara

Jangan dikira kalau sendratari itu hanya ada di Yogyakarta, disajikan setiap bulan purnama di pelataran Candi Prambanan. Di Maluku Utara juga ada sendratari. Mereka menamakan sendratari ini dengan Tarian Dadansa.

Sekilas, orang nan tak mengetahui seperti apa jenis Tari Dadansa ini mungkin akan mengira bahwa tarian ini seperti berdansa. Tarian tersebut dilakukan oleh pasangan laki-laki dan perempuan. Ternyata, Tari Dadansa ini ialah sebuah penggambaran gerakan perang seperti pada Tari Cakalele.

Namun, Tari Dadansa ini spesifik ditarikan oleh keturunan Soa. Mereka menampilkan tarian ini di istana dalam rangka ulang tahun raja. Jadi dapat dikatakan bahwa Tari Dadansa ini bukan tarian biasa. Ada 12 orang penari nan memegang parang dan salawaku.

Mereka mengenakan pakaian berwarna kuning, celana panjang berwarna putih, dan tutup kepala nan khas seperti prajurit kerajaan. Tarian ini sarat dengan nilai-nilai sejarah nan kental. Tarian ini bermula dari sejarah Moloku Kieraha pada abad ke-17.

Ada 12 adegan nan dimainkan oleh para penari. Mungkin sebab adegan nan banyak itu, waktu pertunjukan menjadi cukup panjang. Demi menyingkat waktu, kini biasanya nan dimainkan hanya 7 adegan. Separuh adegan dipadatkan.

Hal nan menarik, bukan saja semua penari itu haruslah dari keturunan Soa. Para pemain musiknya pun harus dari satu keturunan, yaitu turunan dari Al-Djogja.

Alat musik nan digunakan buat mengiringi Tari Dadansa ialah biola dan gendang. Begitu sederhana sekali alat musik nan dimainkan. Namun, sejarah tarian ini membuat orang selalu ingin melihatnya. Apalagi hanya dimainkan sekali setahun dan di dalam Istana Raja Ternate.



Tarian Berdarah

Maluku Utara ini memang penuh dengan ragam kesenian nan menarik buat disimak. Kalau Tari Cakalele dan Tari Dadansa merupakan tarian perang dan berasal dari kisah perang. Begitu juga dengan Tari Bambu Gila. Namun, tak buat tarian berdarah satu ini. Tarian Pukul Sapu ialah tarian menyambut kemenangan setelah berpuasa pada Bulan Ramadhan.

Waktu penyelenggaraannya pun setelah Idul Fitri tiba. Tepatnya, hari ke-8 di Bulan Syawal. Dua kelompok pemuda akan saling memecutkan lidi mereka ke lawan. Tak usah membayangkan perihnya. Coba saja sendiri menyabitkan lidi nan diambil dari daun kelapa itu ke tangan.

Bagaimana rasanya? Pada saat acara berlangsung, lidi nan disabitkan itu cukup banyak sehingga para penari ini akan terluka. Herannya, mereka tak terlihat meringis tetapi malah tersenyum bahagia.

Setelah selesai melakukan tarian ini, mereka akan mengobati lukanya dengan obat-obatan alami. Di antaranya ialah getah pohon jeda atau homogen minyak nan diberi nama Minyak Nyualaing Matetu. Masyarakat Maluku percaya bahwa minyak ini mampu menyembuhkan, bahkan tak hanya luka memar tetapi juga patah tulang.

Bila ingin menyaksikan tarian berdarah ini, datanglah ke Desa Mamala, Kecamatan Leihitu, Pulau Ambon. Bersiaplah buat mencobanya, kalau memang mempunyai nyali. Tarian ini dianggap sebuah ritual nan banyak dinantikan oleh banyak orang.

Mungkin orang akan mengira bahwa dua kelompok nan saling serang itu akan saling membenci. Malah sebaliknya, mereka saling menghargai dan saling menyayangi.

Menurut kisah nan beredar, Tari Pukul Sapu ini ditemukan oleh seorang ulama dari Maluku bernama Imam Tuni pada abad ke-17. Ketika masyarakat selesai mengerjakan sebuah bangunan masjid, sang Imam mengajak jamaahnya buat merayakannya dengan saling memukulkan batang lidi kelapa. Saling memukul itu dimaksudkan buat mempererat tali persaudaraan antara para jamaah.

Namun, ada juga nan mengatakan bahwa Tari Pukul Sapu ini sebagai peringatan mengenang Kapitan Tulukabessy nan memerangi Belanda dan Portugis. Entah mana nan benar, nan niscaya ialah para penari merupakan orang-orang nan bernyali dan tahan menahan sakit selama beberapa hari setelah acara ini selesai.

Maluku Utara masih memiliki jenis tarian lain, di antaranya ialah Tari Dona-Dona nan dibawakan oleh seorang gadis manis dengan mengenakan baju indah. Ada juga satu tarian nan dinamakan Tari Tide-Tide nan dibawakan oleh para ibu.