Penanganan Hernia Menurut Askep Hernia

Penanganan Hernia Menurut Askep Hernia

Penanganan penyakit hernia tetap harus mengacu pada asuhan keperawatan atau askep hernia. Ini ibarat baku penanganan bagi tenaga medis dalam menangani pasien nan menderita penyakit tersebut.

Bisa jadi, kebijakan antara berbagai rumah sakit bhineka dalam memberikan layanan kepada pasien. Namun, dalam kasus hernia atau berbagai penyakit lain, hadirnya askep memberikan aspek sah kepada perawat dalam penanganan penyakit. Hal ini mencegah terjadinya malapraktik.

Askep menjadi pegangan bagi perawat profesional dalam memberikan pelayanan kesehatan seoptimal mungkin. Keberhasilan aplikasi askep harus didukung oleh metode perawatan nan baik dan sahih oleh perawat nan menangani. Macam askep sangat banyak. Namun, dalam pembahasan ini dibatasi pada askep hernia.

Hernia sering disebut dengan turun berok. Penyakit ini lebih sering dialami pria, sehingga kerap disebut penyakit pria. Pasalnya, struktur tubuh pada rongga perut pria nan mendukung fungsi organ kelamin dapat menjadi karena terjadinya penyakit ini.

Pasien nan mengalami hernia akan mengalami penonjolan dampak desakan dari isi rongga perut, misalnya usus. Usus tersebut mendesak lapisan lapisan dinding perut nan lemah hingga menonjol dan membentuk seperti kantung.

Pintu masuknya seperti cincin. Hernia dapat muncul pada anak-anak maupun orang dewasa. Pada anak-anak, saat buah zakar turun dan fungsi procesus vaginalis tak mampu menutup dengan sempurna, dapat menjadi jalan masuk penyebab hernia. Sementara itu, pada orang dewasa, hernia kerap terjadi dampak lemahnya otot pada dinding perut. Semakin tua seseorang, kekuatan otot ini juga menurun.



Pembagian Hernia Menurut Askep Hernia

Menurut askep hernia, penyakit turun berok ini dapat diklasifikasi menjadi beberapa macam. Menurut topografinya, penyakit ini terdiri atas hernia umbilikalis, hernia femoralis, hernia inguinalis, dan sebagainya.

Menurut isinya, dapat lagi dibagi menjadi hernia omentum, hernia usus halus, dan sebagainya. Bahkan, hernia pun ada pembagiannya nan didasarkan berdasarkan nama penemunya. Contohnya hernia petit, yaitu hernia nan terjadi di daerah lumbosakral. Hernia Richter, yakni hernia nan terjadi dampak terjepitnya beberapa bagian dinding usus.

Hernia spigelli, yaitu hernia nan terjadi di area lene semi sirkularis. Hernia skrotalis, yaitu hernia inguinalis nan terjadi sebab penekanan ke skrotum. Terakhir ialah hernia littre, yaitu hernia berisi divertikulum meckeli.

Orang nan mengalami hernia biasanya muncul tanda khas padanya. Menurut askep hernia, tanda itu dapat dilihat dari kemunculan benjolan nan terletak di selangkangan atau kemaluan. Sifatnya kadang tak tentu. Benjolan tersebut dapat jadi tiba-tiba muncul, tiba-tiba mengecil, atau bahkan menghilang.

Namun, sebenarnya benjolan itu dapat kambuh sewaku-waktu. Kemunculan benjolan tersebut dapat terjadi saat penderita menangis, mengejan, atau mengangkat barang nan cukup berat. Rasa nyeri juga kerap dialami oleh pasien di loka munculnya hernia. Kalau hernia sudah mengalami komplikasi, maka dimungkinkan muncul rasa mual dan muntah.

Sementara itu, gejala hernia dapat dibagi pula berdasarkan berat ringannya kondisi hernia. Ada empat gejala nan mungkin ditemui:

  1. Reponible

Gejala ini ialah munculnya benjolan nan sifatnya tak menetap. Benjolannya kadang muncul dan menghilang. Tidak konsistennya kemunculan hernia menjadi karakteristik nan dapat digunakan buat membedakannya dengan tanda dari benjolan kanker.

Ini ialah tanda hernia eksternal nan kerap muncul di lipatan paha atau umbilikus. Benjolan dapat diraba dan terlihat jelas oleh mata. Makin terlihat perbedaannya saat dibandingkan dengan lipatan paha di sebelahnya. Kalau hernia terjadi pada bayi perempuan, bagian luar kelaminnya (labia) membesar.

  1. Irreponible

Tanda ini diketahui dengan menetapnya benjolan di lipatan paha atau daerah pusat. Kejadian nan mungkin terjadi yaitu air, usus, atau penggantungan usus terjepit di rongga dan sulit buat dikeluarkan. Ini terjadi pada hernia inguinalis. Kalau terjadi pada anak, tanda klinis belum muncul.

  1. Inkerserasi

Gejala ini sudah semakin parah. Pasalnya, terjadi penyumbatan pada saluran makanan pada bagian isi perut nan terjepit. Benjolan pun sudah menetap. Gejala klinis nan muncul ialah pasien mengalami mual, muntah, sembelit, perut kembung, dan nafsu makan berkurang drastis.

  1. Strangulasi

Inilah gejala hernia nan sangat parah. Pasien nan sudah mengalami fase ini mengalami gejala seperti incarcerata dan pembuluh darahnya turut terjepit. Pembuluh darah nan berhenti mengalir, kelamaan akan wafat dan menjadi racun.

Bahayanya ialah saat racun tersebut beradar ke seluruh tubuh lewat pembuluh darah nan sehat. Inilah nan mengancam nyawa dan rasanya akan sangat nyeri.



Penanganan Hernia Menurut Askep Hernia

Menurut askep hernia , inspeksi diagnostik dilakukan dengan melakukan inspeksi diameter dari anulus inguinalis. Dalam penatalaksanaannya dilakukan bedah efektif buat hernia inguinalis lateralis reponibilis. Tujuannya, agar tak terjadi komplikasi nan memperparah hernia.

Sementara itu, penanganan buat ireponibilis dilakukan dengan mengusahakan isi hernia nan terjepit dapat dimasukkan kembali ke rongga tubuh. Langkahnya, pasien diminta buat tiduran, melakuan puasa, dan mendapatkan diet makanan halus. Cara buat memasukkan isi hernia dilakukan dengan menekan benjolan secara kontinyu.

Penekanan dapat menggunakan donasi bantal pasir. Kalau terjadi pembengkakan, kompres es bisa dilakukan buat mengurangi bengkak. Usaha memasukkan isi hernia mungkin perlu dilakukan berulang kali.

Setelah isi masuk kembali, dapat diterapkan bedah efektif atau mungkin menjadi inkarserasi. Kalau hernia sudah pada termin inseinkerserasi dan strangulasi, maka harus ditangani dengan bedah darurat. Pasalnya, kondisi hernia sudah parah pada termin tersebut.

Bedah buat hernia ini dilakukan dengan herniotomi. Artinya, memotong hernia lalu menjahit kantong hernia atau herniorafi. Sedangkan langkah pada bedah efektif yaitu dengan membuka manalis, memasukkan isi kantong hernia ke dalam rongga perut, mengikat kantong, dan melakukan “ bassin plasty ”. Hal ini dilakukan agar dinding belakang kanalis inguinalis lebih kuat.

Sementara pada bedah darurat, caranya kurang lebih sama dengan bedak efektif. Caranya dengan menemukan cincin hernia dan memotongnya. Kalau kondisi usus vital maka dikembalikan lagi ke rongga perut. Jika tak dilakukan, maka akan dilakukan reseksi usus serta anastomois (end to end ).



Diagnosa Keperawatan Menurut Askep Hernia

Saat pasien mengalami hernia, mereka dimungkinkan mengalami beberapa gejala klinis. Dalam tata laksananya, dapat diterapkan penanganan sebagai berikut.

  1. Penanganan Rasa Nyeri

Rasa nyeri, terutama saat mengejan, nan berkaitan hernia atau hegemoni bedah. Untuk kasus ini, lakukan kajian dan catat nyerinya. Sarankan pada pasien buat menjauhi mengejan, meregang, batuk, atau mengangkat sesuatu nan cukup berat. Kalau diagendakan buat memakai dekker, ajari pasien. Ajari pasien menggunakan kompres es atau penyokong skrotum.

Hal ini dilakukan buat membatasi edema dan mengurangi nyeri. Nyeri dikurangi dengan memberikan obat analgesik sinkron program. Dengan langkah tersebut diharapkan terjadi penurunan keluhan dalam tempo satu jam. Salah satu indikatornya, pasien tak meringis.

  1. Penanganan Retensi Urine

Retensi urine nan menyebabkan terjadinya nyeri, trauma, dan pemakaian bius atau anastesi nan muncul selama bedah abdomen. Langkah nan perlu dilakukan yaitu mengkaji dan mencatat keluhan bahwa pasien sulit buat kencing (distensi suprapubik).

Amati haluarna urine, lalu catat, dan laporkan kondisi kemih nan sering. Cara buat mempermudah keluarnya kencing dapat dilakukan dengan merangsang menggunakan suara air mengalir atau menempatkan di baskom hangat. Lakukan dengan posisi badan seperti halnya sedang kencing.

Hasil nan diharapkan dengan langkah ini ialah pasien dapat kencing dengan normal setelah 8-10 jam pasca-pembedahan. Jumlah haluara urine diharapkan lebih dari sama dengan 100 mL tiap kencing dan adekuat dalam masa 24 jam (1.000 – 1.500 mL).

  1. Beri Pasien Pengetahuan tentang Hernia

Pasien kurang informasi tentang kemungkinan komplikasi GI sebab hernia, termasuk ketidaktahuan tentang pencegahan kekambuhan hernia. Hal nan perlu dilakukan menurut askep hernia ialah mengajari pasien buat selalu waspada dan kontrol jika muncul tanda-tanda kekambuhan.

Tanda-tanda tersebut misalnya nyeri, benjolan menetap, mual, muntah, demam serta distensi abdomen nan menimbulkan tanda inkarserasi atau strangulasi pada usus. Sarankan pula pada pasien buat memakai penyokong dan menghindari mengejan nan meregang, sembelit, dan angkat benda berat.

Urusan makan, sarankan pada pasien diet tinggi serat atau memakai suplemen diet serat dalam mencegah sembelit. Selain itu, ajari pasien gerakan tubuh nan tepat agar hernia tak kambuh. Hasil nan diharapkan ialah pasien menjadi tahu dan paham tentang tanda dan komplikasi GI dan dapat melakukan pencegahan.

Askep hernia membuat penanganan pasien hernia lebih terarah dan menghindari adanya kesalahan dalam penanganan. Askep hernia harus dipahami tenaga medis dalam melakukan mekanisme menangani hernia.