Teater – Pertunjukkan Seni Teater di Indonesia

Teater – Pertunjukkan Seni Teater di Indonesia

Teater sudah tak asing lagi ditelinga kita, sebab kita sudah mempelajarinya sejak di bangku sekolah. Bahkan di antara kita sudah pernah melakukan pementasan teater di sekolah dulu. Pementasan teater sekilas hampir mirip dengan pementasan drama tetapi sebenarnya tak sama.

Banyak nan beranggapan pementasan teater tersebut membosankan sebab harus dilihat di atas pentas bukannya dapat dilihat melalui tayangan televisi. Selain itu, pementasan teater dilakukan apa adanya sinkron dengan karakter nan dibawakan oleh pemain teater, sehingga pementasan teater ini sporadis mendapat apresiasi dari masyarakat. Teater meskipun dalam pementasannya para pemain tampil apa adanya, bila kita cermati banyak hal positif nan dapat kita dapatkan dari pementasan teater ini.

Tidak hanya film, lagu, puisi, drama dan karya sastra lainnya saja nan dapat digunakan buat menyampaikan pesan moral kepada masyarakat, tetapi teater juga dapat memberikan imbas nan cukup dahsyat buat menyampaikan pesan moral kepada masyarakat. Penampilan dalam pementasan teater nan terkesan apa adanya, seperti baju nan compang-camping, bahasa tubuh nan sangat jelas, obrolan nan sarat makna, membuat seni pertunjukkan teater bisa memberikan imbas dahsyat bagi penontonnya.



Teater – Menilik Sejarah Singkat Teater dari Yunani Antik dan Roma

Teater berasal dari Yunani antik nan ditandai dengan peninggalan anjung teater di Yunani. Berdasarkan cerita legenda nan berkembang seni pertunjukkan teater di Yunani pertama kali dipentaskan oleh seorang Yunani nan bernama Thespis. Thespis pada waktu itu memiliki sebuah ide buat menambahkan seorang aktor dalam pertunjukkan Shorus dan tarian di Yunani. Penambahan aktor dalam pertunjukkan Chorus tersebut disebut sebagai thespians. Thespians sebutan buat aktor ini berkembang di Yunani dan mereka menyebut semua aktor dengan thespians.

Seni pertunjukkan teater di Yunani dibuktikan dengan adanya sebuah bangunan peninggalan berupa anjung teater nan bernama Dyonisus di Acropolis, Athena. Semula anjung teater ini berisikan altar dan sebuah kuil, namun lama-kelamaan berubah fungsi menjadi anjung nan berbentuk setengah lingkaran dan digunakan buat mementaskan pertunjukkan teater. Bentuk anjung teater dari Acropolis ini mengilhami pembangunan anjung pementasan teater.

Mayoritas, anjung pementasan teater berbentuk setengah lingkaran. Desain anjung teater Dyonisius di Yunani sengaja dibuat berbentuk setengah lingkaran supaya dapat dilihat dari banyak penjuru, sebab jajaran loka duduk para penontonnya juga melingkar. Mengapa desain anjung teater Dyonisius dibuat setengah lingkaran, sudah tentu ada alasannya. Anjung teater nan setengah lingkaran dengan loka duduk penonton nan melingkar tersebut supaya komunikasi antara pemain orkestra dengan konduktor jelas. Selain itu, alasan lainnya sebab secara akustik susunan anjung seperti itu dapat membantu penonton dan pemain menikmati pementasan teater sebab pementasan teater pada saat itu belum menggunakan pengeras suara.

Teknik pementasan teater pada masa Yunani antik ini mengilhami pementasan teater di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Teknik pementasan teater tersebut didapat pada saat pementasan teater berlangsung, sebagai berikut:

  1. Panggung teater Dyonisius berjarak cukup jauh, hampir sepanjang 10 meter dengan jeda loka duduk dan pandang penonton. Jika penonton teater mencapai jumlah 10 ribu orang, agak sulit bagi pemain teater buat menampilkan aktualisasi diri paras mereka ketika berakting. Lalu mereka menggunakan bahasa tubuh buat menjelaskannya pada penonton.
  2. Supaya aktualisasi diri karakter pemain teater terlihat jelas, mereka menggunakan topeng nan disertai dengan gerakan tubuh.
  3. Teknik selanjutnya ialah buat menampilkan imbas terbang seperti Pegasus, digunakan sistem prosedur di mana seorang pemain teater muncul di anjung dari posisi bawah.

Tidak hanya berhenti sampai di Yunani, khususnya anjung Dyonisius di Acropolis, teater juga berkembang di Roma. Jadi bukan Acropolis saja nan memiliki anjung teater, Roma pun juga memiliki anjung teater. Perkembangan teater di Roma ini merupakan pengaruh awal dari seni teater Yunani Kuno, khususnya di daratan Eropa. Dengan kata lain Roma merupakan kota pertama nan menerapkan seni pertunjukkan teater dari Yunani di dunia.

Seni teater Roma nan berkembang tak berarti sama persis dengan seni teater Yunani Kuno, meskipun seni teater Roma berkembang dipengaruhi oleh seni teater Yunani. Seni teater Roma pementasannya lebih sekuler. Adapun tema-tema nan diangkat ke dalam pementasan teater Roma ini ialah pantomim dan komedi, nan menggunakan karakter dan humor slapstick . Bagaimana dengan anjung teater Roma ini? Apakah juga sama dengan anjung teater Yunani Kuno? Ternyata tata letak dan desain anjung teater Roma tak sama dengan Yunani Kuno.

Panggung teater Roma terbuat dari kayu dan didesain dapat berpindah tempat. Mengapa anjung teater Roma berpindah tempat? Menurut sejarahnya, pemerintah Roma pada waktu itu melarang pembuatan anjung teater dari beton. Pembuatan anjung teater dilarang menggunakan beton tak berjalan lama. Hingga akhirnya Pompei The Great membangun teater Roma nan diberi nama Theater of Pompey , nan disamarkan terlihat seperti kuil buat Venus. Theater of Pompey tersebut banyak ditiru, sehingga banyak sekali ditemukan bangunan anjung teater di Roma.

Selain itu ada juga disparitas nan bisa dilihat antara anjung teater Yunani Antik dengan Roma. Disparitas tersebut bisa dilihat dari penataan anjung teater Roma menggunakan sistem nan sedikit lebih rumit dari penataan anjung teater Yunani, berupa pintu misteri dan lorong bawah tanah dalam anjung teater Roma.



Teater – Pertunjukkan Seni Teater di Indonesia

Sejarah seni teater bermula dari Yunani Antik hingga berkembang ke seluruh dunia. Tentu saja perkembangan seni teater tersebut juga merambah sampai ke Indonesia. Setiap negara memiliki tradisinya masing-masing dalam mengembangkan seni teater, termasuk di Indonesia. Jika di Yunani Antik dan Roma perkembangan seni teater lebih menonjol dari segi penataan panggung, di Indonesia lebih menonjolkan seni teater nan disesuaikan dengan tradisi budaya Indonesia.

Sebenarnya seni teater secara tersirat sudah kita kembangkan di Indonesia, sebagai salah satu contohnya ialah seni pertunjukkan wayang. Hanya saja seni pertunjukkan wayang tersebut penokohannya berupa benda wafat nan dimainkan oleh seorang dalang. Lalu bagaimana sebenarnya perkembangan seni teater nan masih memiliki unsur seni teater seperti nan ada di Yunani dan Roma di Indonesia? Berikut beberapa bentuk seni teater nan berkembang di Indonesia, dilihat dari pendukungnya:

Seni Teater Rakyat. Seni pertunjukkan teater rakyat ini merupakan seni pertunjukkan di mana masyarakat di pedesaan nan menjadi pendukungnya. Oleh sebab rakyat nan memegang peran, seni teater ini tak mengikat, impulsif dan penuh improvisasi. Teater ini seperti ketoprak, lenong juga ludruk.

Seni Teater Keraton. Seni pertunjukkan teater keraton ini dikembangkan spesifik oleh lingkungan keraton atau kaum bangsawan, sehingga pertunjukkannya hanya buat kalangan tertentu. Seni teater keraton ini memiliki daya artistik nan sangat tinggi, tema ceritanya pun bersumber dari pengalaman hayati para bangsawan, dewa-dewa, keluarga raja, misalnya pertunjukkan wayang.

Seni Teater Urban. Seni pertunjukkan teater urban ini merupakan perpaduan antara seni teater rakyat dan teater keraton. Seni teater ini muncul dampak dari pertumbuhan dan arus perpindahan masyarakat sebagai tanda produk serta kebutuhan nan baru. Seni pertunjukkan teaternya menampilkan kenyataan nan lebih modern.

Seni Teater Kontemporer. Seni pertunjukkan teater pada masa ini ini menyajikan pertunjukkan atas nama diri nan mengembangkan kreatifitas terpendam dan tanpa batas. Seni teater ini sifatnya tertentu sebab pendukungnya ialah orang-orang nan memang menggeluti teater secara profesional. Seni pertunjukkan teater nan ditampilkan pun lebih majemuk dan variatif, serta menyoroti sisi lain kehidupan manusia.