Kemunduran Pendidikan Islam

Kemunduran Pendidikan Islam

Islam dianggap obor bagi peradaban global modern. Sebelum kedatangan Islam di Arab pada abad ke 7 Masehi, global masih diliputi era kegelapan. Eropa masih berkutat dalam abad kegelapan. Sementaran di Arab, budaya jahiliyah tak memberikan sumbangan ilmu apa pun bagi peradaban dunia. Sejarah pendidikan Islam menjadi krusial sebab menjadi tonggak peradabam global modern.



Sejarah Pendidikan Islam

Islam banyak memunculkan pengetahuan baru semenjak kemunculannya. Bahkan dimulai sejak zaman Nabi Muhammad Saw. Sejarah pendidikan Islam mencatat, Beliau sudah banyak pijakan ilmu pengetahuan modern. Salah satunya ialah Al Quran. Umat Islam menganggapnya sebagai kitab suci, sedangkan umat lain nan tak mengimani, mau tak mau harus melihat Al Quran sebagai panduan pengetahuan.

Al Quran banyak berisi pijakan pengetahuan nan berharga. Misalnya, ilmu tentang biologi dan astronomi. Dalam Al Quran dijelaskan bagaimana proses terbentuknya manusia. Al Quran pun dijelaskan bahwa bumi berevolusi mengelilingi matahari. Juga petunjuk buat menetapkan waktu berdasar peredaran bulan.

Sejarah pendidikan Islam mencatat, Nabi Muhammad Saw juga mengajarkan pada peradaban modern, pengetahuan sosial nan baik. Kelihaian dalam berdiplomasi, kerap menghindarkan umatnya dari pembantaian. Bahkan dari kepandaian negosiasi itu dia memperoleh simpati dalam berdagang dan mengembangkan Islam.

Tanpa kemampuan beretorika, berdiplomasi, dan bernegosiasi, Islam tak akan berkembang seperti sekarang ini. Rasulullah juga memberikan contoh nan baik bagaimana berkehidupan sosial dalam perbedaan. Salah satunya dengan ditandai adanya piagam Madinah. Munculnya masyarakat madani, mudun dan menghargai perbedaan, masih langka waktu itu.

Setelah Rasulullah meninggal, sejarah pendidikan Islam juga terus berkembang. Kali ini Islam memberi sumbangan bagi kebiasaan peperangan. Abu Bakar, selaku Khalifah Islam, memberi arah-arahan etika peperangan. Antara lain tak melakukan pembantaian terhadap rakyat sipil. Hal ini baru diaplikasikan global barat dalam bentuk Konvesi Jenewa, beberapa ratus tahun kehidupan.

Namun, sejarah pendidikan Islam dimulai secara terstruktur pada masa dinati Islam. Saat dinasti Islam Ummayah, pendidikan banyak dilakukan di kota-kota besar. Misalnya di Damaskus, Cordova, Kuffah, Madinah, Mekkah, atau Syam menjadi tonggak peradaban Islam sebagai kekuatan baru di global waktu itu.

Gerakan filsafat sudah muncul pada era ini. Filsafat ini perlu sebab waktu itu Islam sudah meluas mencapai Eropa dan Persia. Otomatis mereka memerlukan pemikiran lebih dalam menghadapi paham Nasrani, Yahudi, maupun Majusi. Karena itu, pengembangan penafsiran Al Quran dan Hadist menjadi prioritas. Tafsir ini sangat krusial sebagai wahana pemantapan akidah.

Selain itu, lewat kekuatan pemikiran tafsir agama, Islam akan bisa disebarkan dengan lebih mudah. Ulama-ulama nan menjadi pakar tafsir di masa Bani Ummayah misalnya ialah 'Athak bin Abu Rabah, Ikrimah, Sa'id bin Jubair, dan Masruq bin Al-Ajda'. Sementara, pakar hadits antara lain Abdullah bin Amru, Abu Hurairah, dan Abdullah bin Umar.

Sejarah pendidikan Islam selajutnya berpindah kepada Bani Abbasiyah. Bani Abbasiyah sudah muncul sejak abad ke 8 Masehi. Pemimpin nan terkenal ialah Harun Ar-Rasyid atau Al Ma'mum. Pada era Al Ma'mum inilah Baghdag tak hanya menjadi pusat pengetahuan Islam, namun juga pusat peradaban dunia. Bani Abbasiyah membangun banyak wahana buat menunjang ilmu pengetahuan, di antaranya:

  1. Madrasah atau biasa disebut waktu itu sebagai Madrasah Annidzamiyah. Bangunan madrasah ini banyak dibangun di Baghdad, Balkan, Naisabur, Balkan, dan Muro.

  2. Kuttab merupakan loka belajar bagi siswa taraf dasar dan menengah.

  3. Majlis Munadharah. Loka ini merupakan gedung rendezvous para pemikir seperti pujangga, ilmuwan, ulama,cendikiawan, dan para filsof. Di dalam rendezvous ini mereka menyosialisaikan dan mengkaji ilmu nan baru.

  4. Darul Hikmah, bangunan ini merupakan perpustakaan nan sangat membantu dalam perkembangan ilmu dan pengetahuan di global Islam dan dunia.

Lahirnya Madrasah merupakan tonggak eksklusif dalam sejarah pendidikan Islam . Madrasah menggantikan masjid sebagai loka mengkaji ilmu pengetahuan. Biasanya, madrasah dan masjid tak terpisah terlalu jauh. Jadi, sering masjid dan madrasah dibangun berdampingan. Madrasah pertama nan didirikan ialah Madrasah Nizhamiyah nan didirikan sekitar tahun 457 H. Pioner pembangunan ini ialah Nidzam Al-Mulk.

Pendirian madrasah bukan sebagai pengganti sepenuhnya dari masjid sebagai loka rendezvous dan ibadah. Namun, dengan makin bertambahnya populasi Islam, masjid menjadi semakin ramai dan padat. Karena itu, masjid banyak dikhususkan sebagai loka beribadah. Pendidikan pada taraf dasar kadang berbeda satu dengan nan lain.

Ada beberapa disparitas antara satu guru dengan lainnya. Ibnu Sina sudah mengajarkan Al Quran pada murid-murid taraf dasar. Sementara, disparitas taraf ekonomi, sosial, dan geografi juga memengaruhi disparitas ilmu nan diberikan. Anak-anak kerajaan dididik masalah politik, pidato, syair, bahasa, dan sejarah.

Sementara itu, pendidikan pada perguruan tinggi meliputi dua hal, pendidikan ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum. Sering seseorang memilih buat belajar keduanya waktu itu. Al-Khuwarazmi meringkas kurikulum ilmu agama sebagai berikut ini

  1. Ilmu Fiqih,
  2. Ilmu Nahwu,
  3. Ilmu Kalam,
  4. Ilmu Kitabah, dan
  5. Ilmu Arudh.

Sementara, nan dipelajari dalam ilmu pengetahuan generik waktu itu ialah disiplin generik dan ilmu filosofis. Disiplin generik di antaranya baca tulis, ilmu hitung, ilmu kimia, sastra, perdagangan. Sementara itu, ilmu filosofis diantaranya memelajari logika, geometri, astronomi, dan aritmatika.

Yang mencolok dari sejarah pendidikan Islam pada era itu ialah pengembangan ilmu pengetahuan umum, di antaranya perkembangan ilmu hitung, medis, dan astronomi. Saat Eropa melakukan pengusiran arwah buat menyembuhkan seseorang, global medis di Islam sudah mengenalkan ruang medis nan higienis dan operasi nan terprosedur.

Ibun Sina, nan oleh barat disebut Avicena menjadi sumber banyak pengetahuan medis waktu itu. Beliau menemukan sistem peredaran darah pada manusia. Fakta bahwa Ibnu Sina juga seorang filsuf dan sosiolog, menegaskan bagaimana majunya pendidikan Islam waktu itu.

Sejarah pendidikan Islam memberi banyak sumbangan bagi peradaban global modern. Ilmu hitung ditandai dengan adanya buku Al Gebra (aljabar) nan dikarang oleh Al Khawarizmi. Ilmu astronomi diwakili berbagai ilmuwan seperti Al Battani, nan dikenal di barat sebagai Albatagnius, atau Al Fazzari nan menemukan alat pengukur jeda bintang.

Ilmu farmasi ditandai dengan buku Al-Mughni nan berisi berbagai obat-obatan. Buku ini dikarang oleh Ibnu Bahtiar. Perkembangan ilmu filsafat juga sangat pesat, ditandai dengan Al Kindi atau Ibnu Rusyid.



Kemunduran Pendidikan Islam

Banyak hal nan menyebabkan kemunduran pengetahuan di global Islam. Ilmu mistisme sufi banyak dituding dalam sejarah pendidikan Islam sebagai penyebab kemandegan pengembangan disiplin berpikir dalam Islam. Hal ini ditandai dengan pengharaman Al Ghazali terhadap filsafat.

Padahal semua itu hanya merupakan salah pengertian. Tudingan sufi sebagai penyebab kemandegan Islam juga perlu dikaji sebab Al Quran sendiri berulang kali tertulis di dalamnya, perintah buat menggunakan akal.

Lagipula, tasawuf dan filsafat memuju hal nan sama, yaitu kebenaran. Jadi sebenarnya, bukan pada sufistik dan tasawufnya nan menjadi penyebab kemunduran dalam sejarah pendidikan Islam. Namun lebih pada praktik mistisme Islam nan salah dimengerti oleh banyak orang.

Al Ghazali, walaupun seorang nan memegang tasawuf, namun dia juga memiliki sumbangan pada ilmu pengetahuan. Al Ghazali juga secara tak langsung menggunakan cara berpikir filsafat dan logis. Namun, memang beliau tak sebebas banyak filsuf lain dan memegang acuan dari ayat-ayat Al Quran dan Hadits.

Perang salib juga dituding menjadi penyebab kemunduran dalam sejarah pendidikan Islam. Kerusakan nan ditimbulkan dianggap sangat besar bagi global Islam. Namun sebenarnya, perusakan terbesar datang dari timur, ketika Islam diserang oleh bangsa Mongol. Banyak literatur Islam di Baghdad nan juga ikut musnah. Hal ini disusul dengan kemunduran budaya umat Islam sendiri.

Umat Islam banyak mengenyampingkan itjihad dan mengedepankan taklid buta. Padahal dalam sejarah pendidikan Islam, kejayaan banyak diraih lewat budaya berpikir. Sudah sewajarnya umat Islam sekarang mengusung lagi budaya berpikir agar tak semakin tertinggal pada era globalisasi.