Amerika

Amerika

Membaca buku Confessions of an Economic Hit Man seperti membuka ventilasi baru peradaban ekonomi global dan merasa sangat tidak berdaya bila sudah berhadapan dengan orang-orang nan ternyata dapat menguasai global dengan kekuatan uangnya. Sekelompok orang dapat dengan mudah membuat ekonomi suatu negara nan normal-normal saja tapi secara tiba-tiba langsung jatuh tidak berbekas. Kejatuhannya pun membawa akibat pada negara-negara tetangga sehingga menyebabkan krisis ekonomi dunia .

Kekuasaan Manusia

Kalau dikatakan adanya ‘tuhan’ kecil di dunia, mungkin ada benarnya. Boleh percaya boleh tidak. Global nan berisikan kurang lebih 7 miliar manusia ini ternyata dikendalikan oleh mungkin hanya seribu atau mungkin seratus pemimpin nan sangat berpengaruh. Para pemimpin itu mengendalikan arah dan arus kehidupan manusia secara keseluruhan. Mereka mempunyai kuasa mulai dari kekuatan ekonomi, persenjataan, hingga kekuatan membentuk manusia nan akan melanjutkan alur kehidupan di dunia.

Hebat! Sungguh hebat. Orang-orang ini biasanya berada di tampuk pemerintahan negara-negara kaya dan sangat kuat. Mereka sangat cerdas dan sangat paham bagaimana mengendalikan orang-orang nan ada di dekat mereka. Mereka hayati berkecukupan tentu saja dengan memanfaatkan semua fasilitas nan diberikan oleh negara masing-masing. Mereka mempunyai pasukan intelijen nan kuat. Pasukan intelijen ini didik dengan kurikulum spesifik sehingga mereka dapat bekerja buat negaranya dengan tanpa rasa lelah.

Para mata-mata itu kalau wafat tak diakui, kalau menang tak dihargai. Mereka ialah manusia nan keberadaannya seolah tidak ada. Tetapi orang-orang cerdas ini direkrut buat memberikan informasi nan sangat krusial kepada negaranya demi mempertahankan semua kekuasaan nan telah diraihnya. Siapa nan menguasai informasi, ia akan menjadi raja. Ia nan akan mengendalikan semua sendi kehdiupan orang banyak. Setiap penguasa itu akan mempunyai cara dan gaya memimpin nan berbeda.

Ketika para penguasa itu haus darah, maka jutaan nyawa akan melayang bagaikan kapas. Mereka seolah mempunyai izin buat membunuh siapapun nan mereka kehendaki. Padahal bila satu nyawa melayang, maka langit akan tergoncang. Tetapi itulah kehidupan. Sebaliknya, ketika para pemimpin itu ialah orang-orang nan menghargai kehidupan, mereka tak akan dengan mudahnya membunuh warganya sendiri. Mereka berusaha memberikan penghidupan nan layak kepada semua orang. Apalagi kalau pemimpinya sangat demokratis. Ia sangat tahu bahwa semua orang berhak mendapatkan kehidupan nan baik. Demokrasi itu pun mereka artikan sebagai cara bersama menangani semua permasalahan nan dihadapi bersama. Kalau ada satu kejadian di satu negara, kejadian itu akan bisa berdampak pada negara lainnya. Begitulah selanjutnya hingga berpengaruh pada dunia.

Tidak mengherankan ketika krisis ekonomi global menyerang banyak negara termasuk negara-negara nan ada di daratan Eropa, para penguasa global mulai berpikir keras bagaimana menyelamatkan dunia. Mereka mencari cara mengatasi semua masalah krisis ekonomi itu. Kalau tak ditangani dengan baik, maka resesi ekonomi dan depresi ekonomi akan dapat menyerang global lagi. Kalau hal ini terjadi, maka kehidupan akan semakin sulit terutama bagi masyarakat dari kalangan bawah.



Kebersamaan

Era ketika semua orang hayati saling bergantung memiliki laba dan kerugian. Keuntungannya ialah adanya saling bergantung dapat berarti saling membantu dan saling diuntungkan. Namun, ketika kejatuhan terjadi, semua merasakan dampaknya. Imbas domino ini membuat jargon " Three Musketeers " ( all for one, one for all ) menjadi sangat nyata. Kalau tak saling membantu, maka akan saling menggali lubang kematian bersama. Tentunya tak ada nan mau wafat bersama. Jalan satu-satunya ialah berjuang bersama membuat gunung kehidupan nan latif agar estetika itu dirasakan oleh semua orang.

Bangkit dari keterpurukan tersebut ternyata memakan waktu lama dan setiap negara tak selalu pulih pada waktu bersamaan dengan negara lain. Donasi dari negara lain sangat diperlukan. Negara lain tersebut harus membantu. Jika tidak, kesulitan nan dialami oleh negara nan sedang terpuruk tersebut akan mengakibatkan pengaruh langsung maupun tak langsung pada semua negara sekitarnya. Pengaruh nan tak baik ini tentunya akan berdampak pada upaya nan telah dilakukan.

Inilah satu hal nan akan membuat global menemukan satu poros kebersamaan nan sebenarnya. Namun, bila satu satu saja nan berkhianat, maka kekacauan akan terasa dan hal ini niscaya dirasakan oleh seluruh penghuni bumi. Apa nan terjadi dengan Iran saat ini ialah satu hal nan sangat mengkhawatirkan. Iran merasa bahwa negara maju seperti Amerika berlaku tak adil. Amerika boleh memiliki nuklir. Sedangkan Iran tak boleh mempunyai nuklir walaupun hanya sekedar pembangkit tenaga listrik. Rasa curiga nan hiperbola telah membuat Amerika bersama sekutunya Israel merasa bertanggung jawab buat menghentikan Iran. Iran akan dibuat sama seperti Irak.

Amerika membuat tuduhan nan sama agar dapat memasuki Baghdad dan membunuh Saddam Husein. Apa nan terjadi selanjutnya ialah bahwa segala tuduhan itu tak sahih dan Saddam Husein ternyata hanyalah seorang pemimpin biasa nan tidak mempunyai apa-apa. Minyak nan dimiliki oleh Irak ternyata telah membutakan banyak negara nan membutuhkan minyak buat membangun negerinya. Iran ialah negara dengan cadangan gas bumi nan luar biasa. Kalau Iran dikuasai oleh Amerika, maka negara adi kuasa itu akan semakin berkuasa. Betapa ketidakadilan itu akan menimbulkan satu peperangan nan tentunya akan mempengaruhi negara-negara lain nan ada di sekitarnya.



Awalnya Cuma dari Keserakahan

Krisis di suatu negara dapat saja diciptakan. Lalu, Robinhood datang membawa uang utangan dengan kembang nan berbunga hingga akhirnya negara tersebut tidak mampu membayar. Ketika negara ini tidak dapat berbuat apa-apa, forum atau negara nan memberi utangan dapat dengan sangat mudah mengobrak-abrik dan menekan negara tersebut agar mau mengikuti pola skenario perkembangan ekonomi nan disarankan oleh forum itu.

Padahal, pola tersebut tak menguntungkan negara nan menderita, tetapi pemberi utanganlah nan sangat diuntungkan. Hal ini bukanlah suatu bualan. Kisah ini bisa dibaca dalam buku Confessions of an Economic Hit Man. Keserakahan buat dapat hayati bermewah-mewah, makan enak, dan mobil selalu berganti, telah membuat sebagian besar orang terlena dan rela melakukan apapun hanya buat membayar kesenangan.

Penulis buku tersebut mengakui bahwa suap dan ancaman telah membuatnya hampir selalu batal menerbitkan buku nan sempat membuat heboh masyarakat dunia. Namun, dengan keinginan bahwa negara-negara nan sedang berkembang tak layu sebelum memberikan keharuman paripurna kepada bunga, penulis buku ini, John Perkins, memaparkan secara lugas apa saja nan pernah dia lakukan dalam rangka membuat negara berkembang mau meminjam uang ke World Bank.

Sebenarnya, bumi ini telah menyediakan semua nan dibutuhkan oleh manusia. Kalau saja setiap orang merasa cukup dengan apa nan dimilikinya dan tak tertarik dengan harta atau kepunyaan nan dimiliki oleh orang lain, maka global ini akan kondusif dan tak akan ada peperangan memperebutkan makanan atau sumber daya alam nan dimiliki oleh orang lain. Sayangnya, manusia tak mau merasa cukup. Mereka ingin hayati secara hiperbola dan bermewah-mewah. Mereka menganggap bahwa hayati nan berlimpah harta itu ialah kehidupan nan sesungguhnya.

Mereka akan merasa sangat terhina kalau ada orang nan lebih kaya dari dirinya. Ia ingin adalah nan paling segalanya. Sikap serakah inilah nan membuat banyak krisis terjadi di segala bidang. Tidak hanya bidang ekonomi. Krisis terjadi juga di jiwa. Krisis jiwa ini membuat orang berbuat nekad. Menyedihkan sekali kalau begitu banayk krisis terjadi di global ini. Kehidupan niscaya tak akan tenang ketika semua orang menonjolkan sikap serakahnya masing-masing.



Amerika

Saat Amerika dilanda krisis keuangan dampak kredit macet dan gaya hayati masyarakat nan merupakan pemuja kesenangan duniawi sejati, global terhentak. Mau tidak mau, hal tersebut mengarah pada krisis ekonomi global. Selain itu, ternyata Amerika memang salah satu penjajah baru. Penjajahan secara halus dalam bidang ekonomi telah membuat negara adidaya, Amerika, begitu berkuasa.

Buku John Perkins berikutnya, Secret History of the American Empire, menggambarkan betapa Amerika sangat hebat bila sudah menyangkut time, money, dan workers . Amerika menjadi poros perekonomian dunia. Amerika mengalami krisis ekonomi, negara-negara lain pun merasakan dampaknya. Ketakutan akan jatuhnya Amerika membuat orang mulai berbenah diri.