Merias Diri

Merias Diri

Kehidupan suku Asmat unik dan menggelitik. Mungkin bagi kebanyakan orang, kebiasan hayati suku nan tinggal di Papua inidianggap tidak lazim. Apalagi sekarang zaman sudah canggih dan serba modern, teknologi menjadi segalanya dalam menunjang berbagai aktifitas kehidupan. Hal-hal nan dianggap jadul atau ketinggalan zaman dianggap sudah tidak relevan lagi.

Kehidupan Suku Asmat

Kehidupan suku Asmat menjadi satu dari kehidupan suku di negeri ini, nan memberi rona terhadap konstruksi kebinekaan namun tetap satu. Suku ini tinggal di Papua. Meski satu nama, yakni suku Asmat namun ternyata suku ini terbagi menjadi dua bagian berdasarkan loka hidupnya: suku Asmat pedalaman nan mendiami wilayah hutan dan suku Asmat pesisiran nan bangak tinggal di wilayah pesisir pantai.

Diantara kedua kelompok suku Asmat ini terdapat beberapa disparitas fundamental terkait dengan cara hidup, struktur sosial, dan ritual. Suku nan di pedalaman sering disebut Bisman dan nan bermukim dikawasan pantai ialah suku Simai. Diantara sesama desa Asmat terdapat banyak sekali disparitas dan kontradiksi nan tidak sporadis dapat menimbulkan peperangan antar kelomok meski masih satu suku.

Yang paling menarik sekaligus mengerikan ketika peperangan terjadi dan ada nan terbunuh, maka mayat tersebut akan dibawa ke kampung kelompok nan membunuh sebagai bukti kemenangan dan kekuataan. Tak hanya sampai disitu, mayat tersebut kemudian dimakan dan dibagikan ke seluruh penduduk kampung. Otak dan kemaluannya dibungkus daun sago, kemudian dipanggang dan dimakan juga.

Suku Asmat, dalam setiap kampung, biasanya terdiri dari 100-1000 orang. Kehidupan suku Asmat dilengkapi dengan rumah tinggal keluarga dan juga rumah bujang. Rumah keluarga berfungsi buat ditinggali sebagaimana lazimnya rumah-rumah penduduk. Namun, dalam satu rumah dapat ditinggali oleh 3-5 keluarga sehingga jumlahnya sangat banyak dalam satu rumah.

Selain rumah keluarga, ada juga rumah bujang nan digunakan buat seremoni hari besar suku Asmat, atau upacara adat nan biasanya bersifat insidental.

Merias Diri

Jika wanita zaman sekarang banyak nan merias diri dengan pergi ke salon atau loka spa. Suku Asmat cukup dilakukan dengan bahan nan disediakan alam seadanya. Misalnya jika ingin memoles tubuh dengan rona hitam, mereka cukup menggunakan arang nan dibakar secukupnya nan dicampur dengan air. Atau ketika ingin merias diri dengan rona merah, maka akan digunakan batu-bata nan ditumbuk dan dihaluskan.

Selain itu, kehidupan suku Asmat tidak dapat dilepaskan dari ukiran-ukiran kayu nan dianggap mempunyai nilai seni tinggi dan sakral. Ketika melukis, suku Asmat menganggap sebagai penghubung antara jiwa hayati masa kini dengan masa dimana nenek moyang mereka masih hidup.