Tradisi Suku Dayak: Tradisi Mangkuk Merah

Tradisi Suku Dayak: Tradisi Mangkuk Merah

Tradisi suku Dayak dan adat istiadat nan diwariskan secara turun-temurun, tetap terpelihara hingga kini. Suku Dayak nan terkenal dengan berbagai macam ilmu supranaturalnya ini memegang teguh adat istiadat mereka sehingga global gaib nan mereka miliki ini memiliki kekuatan nan tetap sama kuatnya seperti zaman dahulu. Berikut ini akan dijabarkan adat istiadat suku Dayak nan terkenal dan masih dilaksanakan hingga sekarang.



Tradisi Suku Dayak: Uparacara Tiwah

Upacara Tiwah ini merupakan salah satu ritual adat buat mengantarkan tulang belulang orang nan sudah meninggal ke sebuah rumah kecil nan secara istimewa mereka untuk sebagai loka peristirahatan terakhir orang tersebut.

Tradisi Tiwah ini diiringi dengan berbagai macam ritual berupa tari-tarian, pukulan gong nan berirama, hingga berbagai macam hiburan sebagai seremoni terakhir buat sang pemilik tulang belulang. Rumah kecil loka peristirahatan terakhir itu dalam bahasa Dayak disebut Sandung . Upacara Tiwah terdiri dari serangkaian acara nan dilaksanakan dalam waktu beberapa hari dan memakan biaya nan tak sedikit.

Upacara Tiwah hanya dilakukan oleh warga Dayak Kalimantan Tengah. Upacara ini merupakan upacara kematian nan sudah dilaksanakan selama ratusan tahun. Upacara ini merupakan salah satu ritual kepercayaan masyarakat Dayak.

Seseorang nan meninggal akan dikuburkan sampai batas waktu eksklusif (sampai kira-kira hanya tersisa tulang belulangnya). Lantas kuburan tersebut digali kembali buat memindahkan tulang belulang tersebut ke loka peristirahatan terakhirnya. Secara filosofis, upacara Tiwah merupakan bentuk prosesi buat mengantarkan roh leluhur ke alam baka. Prosesi ini juga dipercaya bisa membuang sial bagi keluarga nan ditinggalkan.



Tradisi Suku Dayak: Manajah Antang

Suku Dayak terkenal dengan keahlian dalam global mistiknya nan sangat kuat dan hebat sehingga tak salah jika masyarakat kita saat ini pun masih sangat segan jika berhadapan dengan suku Dayak. Salah satu ilmu nan sangat terkenal ialah Manajah Antang .

Manajah Antang biasanya digunakan oleh suku Dayak buat mencari seseorang nan menjadi musuh mereka. Walaupun si musuh itu bersembunyi di daerah nan tersembunyi sekalipun di mana orang awam tidak dapat menemukan, namun orang suku Dayak akan dengan mudah menemukannya. Biasanya nan mereka gunakan buat menemukan musuh ini ialah dengan memanggil arwah para leluhur dengan perantaraan burung Antang . Burung itulah nan akhirnya menunjukkan loka persembunyian si musuh.

Mungkin jika pemerintah meminta tolong kepada suku Dayak buat mencari para koruptor kelas kakap nan menghilang, maka para koruptor itu juga akan segera bisa ditemukan dengan mudah melalui tradisi suku Dayak nan satu ini. Sayangnya, orang suku Dayak ini ialah orang-orang nan cinta damai sehingga hanya orang-orang nan benar-benar dianggap membahayakan suku mereka sajalah nan mereka anggap sebagai musuh.



Tradisi Suku Dayak: Tradisi Mangkuk Merah

Jika keadaan suku mereka dalam kondisi nan membahayakan, maka sebuah mangkuk merah nan merupakan lambang persatuan akan segera beredar dari satu kampung ke kampung nan lain dengan sangat cepat. Biasanya nan memutuskan buat mengedarkan mangkuk merah ialah seseorang tetua suku nan biasanya di panggil Pangkalima atau dalam Bahasa Indonesia disebut “Panglima”.

Hingga kini, masih banyak penduduk Kalimantan nan tak mengetahui siapa sebenarnya Panglima suku Dayak tersebut. Menurut cerita nan beredar, ia ialah manusia biasa saja, namun memiliki kekuatan gaib nan sangat hebat. Ia kebal terhadap berbagai jenis senjata dan bisa terbang. Panglima suku Dayak ini juga dikenal dengan nama Panglima Burung (Tjilik Riwut).

Tariu ialah upacara adat memanggil roh leluhur buat dimintai pertolongan dan sebagai pernyataan perang. Tarian biasanya dilakukan sebelum mangkuk merah diedarkan.

Mangkuk merah ialah mangkuk nan dibungkus dengan kain berwarna merah. Mangkuk merah nan terbuat dari tanah liat itu berbentuk bundar. Di dalam mangkuk itu berisi berbagai macam benda dengan maksud dan tujuannya masing-masing.

Biasanya didalam mangkuk merah itu terdapat:

  1. Ubi jerangau merah ( acorus calamus ), nan melambangkan keberanian.
  2. Bulu ayam, nan dimaksudkan agar dapat terbang.
  3. Lampu obor dari bambu, sebagai suluh penerang.
  4. Daun rumbia buat bernaung.
  5. Tali simpul dari kulit kepuak nan menunjukkan lambang persatuan.


Tradisi Suku Dayak: Tata Cara Penguburan

Bagi suku Dayak, kematian ialah hal sakral, sehingga tata cara penguburan kerabat ditetapkan dengan tegas dan terperinci di dalam hukum adat tradisi suku Dayak . Masyarakat Dayak mematuhi hukum adat tersebut selama beratus-ratus tahun lamanya. Setidaknya ada 3 macam tata cara penguburan di masyarakat Dayak:

  1. Penguburan tanpa menggunakan wadah dan tanpa perbekalan, di mana posisi jenazah diletakkan secara terlipat.
  2. Penguburan di dalam sebuah dolmen (peti batu)
  3. Penguburan di dalam lungun (wadah kayu berbentuk mirip perahu). Lungun disimpan di atas pohon, dengan anyaman bambu atau anyaman tikar. Cara penguburan ini merupakan nan paling modern dibandingkan dengan 2 cara nan disebutkan sebelumnya.

Secara garis besar, ada 2 termin nan dilaksanakan dalam tata cara penguburan suku Dayak, yakni penguburan termin pertama (primer) dan penguburan termin kedua (sekunder). Penguburan utama dilakukan dengan salah satu tata cara penguburan nan disebutkan di atas. Sifat penguburan utama ialah sementara, yaitu berarti bahwa jasad akan dikeluarkan dari makamnya buat dimakamkan kembali (penguburan sekunder) setelah melalui serangkaian upacara adat.

Dahulu, penguburan sekunder dilakukan dengan cara menyimpan jasad di peti batu lalu dimasukkan ke dalam gua. Namun akhir-akhir ini hal tersebut tak lagi dilakukan. Biasanya jasad dimasukkan ke peti wafat lalu diletakkan di atas tiang atau dalam sebuah bangunan kecil, dengan posisi menghadap matahari terbit.

Pada suku Dayak Ngaju, ada 3 pilihan cara penguburan sekunder, yaitu:

  1. Mengubur jasad di dalam tanah
  2. Meletakkannya di pohon besar
  3. Mengkremasinya dalam upacara Tiwah


Tradisi Suku Dayak: Ngayau

Tradisi ngayau merupakan tradisi perang antar-suku buat memperluas wilayah kekuasaan suku tersebut. Tradisi ini termasuk tradisi suku dayak nan kejam, sadis, dan mengerikan. Hal ini disebabkan oleh Norma buat memenggal kepala musuh lantas membawanya pulang ke kampung.

Saking sadisnya, zaman dahulu pun tak semua lelaki suku Dayak sanggup melakukan ngayau. Hanya mereka nan mentalnya kuat saja nan berani melakukannya. Wanita suku Dayak di pedalaman menyukai lelaki nan dapat melakukan ngayau sebab lelaki tersebut dianggap jantan dan mampu melindungi pasangannya dengan baik.

Suku Dayak dahulu percaya bahwa dengan memenggal kepala musuh, arwah musuh tersebut tidak akan gentayangan dan mengganggu kehidupan mereka. Meskipun sadis, suku Dayak membatasi bahwa ngayau hanya boleh dilakukan kepada musuh lelaki. Adapun musuh perempuan dan anak-anak hanya boleh diperbudak tanpa diperlakukan dengan kejam.

Kini, tradisi ngayau sudah ditinggalkan oleh suku Dayak. Hal ini disebabkan oleh timbulnya keinginan buat hayati damai, tentram dalam kerukunan tanpa harus was-was akan penyerangan desa sebelah. Pencerahan ini diaplikasikan dalam kedap suku Dayak nan disebut dengan Kedap Damai Tumbang Anoi nan dilakukan tahun 1894.

Selain itu, masyarakat Dayak juga sepakat buat tak berperang, tak saling membunuh, memperbudak, apalagi memenggal kepala. Kalaupun ada upacara adat dalam tradisi suku Dayak nan memerlukan kepala manusia sebagai bagian dari perlengkapan ritualnya, diharuskan diganti dengan kepala hewan seperti kerbau atau sapi.