Lebih Maju

Lebih Maju

Riau dihuni oleh penduduk orisinil nan punya Norma hayati nomaden alias berpindah-pindah. Komunitas suku penduduk orisinil Riau ini bernama suku Sakai .



Asal-Usul Suku Sakai

Ada beberapa kepercayaan tentang asal-usul masyarakat suku Sakai. Sebagian mengatakan asal suku ini ialah dari sebagian masyarakat Pagaruyung Sumatra Barat nan terdesak sebab konflik adat dan agama, hingga lantas melarikan diri ke Riau.

Sebagian kepercayan lain mengatakan bahwa suku ini berasal dari keturunan Nabi Adam nan langsung hijrah dari tanah Arab, terdampar di Sungai Limau, dan hayati di Sungai Tunu.

Namun, tak ada sumber tertulis niscaya tentang asal-usul sesungguhnya suku Sakai ini. Dapat jadi asumsi pertama sahih adanya, namun dapat juga kedua asumsi tersebut benar. Karena begitu banyaknya tersebar masyarakat suku Sakai ini di sepanjang daratan Riau dan juga Jambi.



Arti Nama Sakai

Nama Sakai syahdan berasal dari huruf awal kata Sungai, Kampung, Anak, dan Ikan. Maknanya, mereka ialah anak-anak negri nan hayati di sekitar sungai dan mencari penghidupan dari hasil kekayaan nan ada di sungai berupa ikan.

Jelas julukan ini diprotes oleh masyarakat suku Sakai nan sudah maju, sebab hal tersebut berkonotasi pada hal nan tak antik dan bodoh, serta tak mengikuti kemajuan jaman. Sedangkan kenyataannya kini, masyarakat Sakai sudah tak lagi banyak nan masih melakukan tradisi hayati nomadennya, sebab wilayah hutan nan semakin sempit di daerah Riau.



Lebih Maju

Kehidupan masyarakat Sakai saat ini sudah banyak dipengaruhi oleh pendatang serta pekerja perkebunan dari tanah Jawa, Medan, Padang dan juga beberapa daerah di Sumatra lainnya. Banyaknya pembukaan hutan buat perkebunan sawit dan juga pemukiman penduduk baru serta program transmigrasi, telah mempengaruhi cara pemikiran dan juga pola hayati suku sakai.

Mereka kini sporadis nan hayati di hutan, tetapi menetap bersama-sama dengan pendatang. Kepercayaan animisme nan dahulu dianut oleh sebagian besar suku Sakai, kini berganti dengan beberapa agama seperti Islam, atau pun juga Kristen. Sehingga keyakinan terhadap makhluk halus nan sering disebut 'Antu, tidak lagi menyelimuti kehidupan mereka.

Mereka pun telah menerima pendidikan dan mau menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah.