Tempat Tinggal Suku Asmat

Tempat Tinggal Suku Asmat



Suku Asmat

Di wilayah Indonesia paling timur, yaitu Irian Jaya atau Papua, terdapat beberapa suku nan mendiami, di antaranya ialah suku Asmat . Mereka mendiami pulau Irian bagian selatan nan kondisi tanahnya berawa-rawa dan dialiri sungai-sungai besar. Oleh karenanya mereka sulit dijangkau oleh global luar. Mereka cukup terasing.

Suku bangsa Asmat terbagi ke dalam subsuku bangsa. Pembagian tersebut ditandai dialek dan simbol-simbol kesatuan mitologis. Sub-sub suku bangsa Asmat tersebut antara lain:
• Suku Unisirau
• Suku Bisman
• Suku Kaimao
• Suku Safa
• Suku Braza
• Suku Jeorat

Suku Asmat dikenal sebagai suku nan mengembangkan budaya kayu, khususnya buat diukir dengan sangat mengagumkan. Mereka pernah mendapatkan penghargaan baik nasional maupun internasional buat karya seni mereka.



Kehidupan Suku Asmat

Tanah loka mereka tinggal bukanlah tanah nan menguntungkan buat pertanian. Sebagian besar mereka memperoleh makanan dari pohon sagu nan tumbuh liar di sekitar hutan.

Suku Asmat juga melakukan kegiatan perburuan dan meramu. Mereka cukup menggantungkan kelangsungan hayati dari kedua kegiatan tersebut. Pada umumnya, binatang nan mereka buru ialah babi hutan. Karena mereka berburu dan meramu, maka kehidupan mereka berpindah-pindah, terutama pada daerah-daerah nan banyak tumbuh sagu.

Sekarang suku Asmat lebih cederung hayati menetap di sebuah desa-desa nan dibawahi oleh kecamatan-kecamatan. Kecamatan tersebut antara lain Sawerma, Agats, Atsy, Pantai Kasuari dan Citak Mitak. Semuanya berada di wilayah kabupaten Merauke, Irian Jaya.



Tempat Tinggal Suku Asmat

Suku Asmat lebih suka mendirikan rumah-rumah di pinggir sungai. Ini disebabkan sebab jalur primer transportasi mereka ialah sungai. Rumah primer mereka dalam satu kampung dinamakan Yeu, yaitu rumah primer nan paling panjang nan hanya dihuni oleh laki-laki dewasa dan laki-laki remaja.
Rumah Jew merupakan pusat kegiatan sosial orang-orang suku Asmat. Di sekitarnya berdiri rumah-rumah batih nan dihuni oleh kaum perempuan dan anak-anak.

Orang-orang suku Asmat biasanya hayati dalam kelompok keluarga batih, yaitu gabungan dari beberapa keluarga inti. Masing-masing keluarga inti memiliki tungku barah atau dapur. Keluarga-keluarga batih itu tergabung lagi membentuk kesatuan desa dan mendirikan rumah Jew.

Untuk mengatur kehidupan mereka sehari-hari, setiap kampung mempunyai seorang pemimpin adat nan disebut Jew Iwir.



Suku Asmat Dulu Dan Sekarang

Suku Asmat pada zaman sebelum tahun 1950-an merupakan suku nan cukup ganas. Konflik dan perang antar kampung atau suku sering terjadi. Perburuan manusia nan dianggap musuhpun kerap dilakukan. Berhasil membunuh versus bukan berarti selesai.

Mereka akan mencincang daging musuh tersebut buat dibagikan kepada orang-orang di kelompoknya buat kemudian dimasak dan dimakan. Dan kepalanya akan dibawa keliling kampung buat membuktikan kejantanannya.
Sekarang setelah pemerintah dan juga beberapa pemuka agama nan menyebarkan ajarannya masuk, suku Asmat lebih beradab. Kehidupan mereka pun sudah dipengaruhi oleh kebudayaan luar.

Mereka sudah mulai memakai baju lengkap. Kegiatan bercocok tanam juga sudah diterapkan. Anak-anak mulai mengenyam pendidikan.

Sampai saat ini, suku Asmat dikenal sebagai salah satu suku nan memiliki kesenian dan kerajinan tangan ukiran kayu. Seni pahat dan seni ukir tersebut bukan Cuma semata-mata kerajinan tangan, melainkan sebagai bagian nan tak dapat dipisahkan dari unsur-unsur kepercayaan terhadap roh leluhur mereka sebagai masyarakat animisme.

Kegiatan memahat dan mengukir kayu bukan hanya dilakukan oleh masyarakat buat mengisi kekosongan keseharian, tapi juga buat menyembah atau melakukan pemujaan terhadap nenek moyang dan leluhur mereka nan dipercaya memiliki kekuatan mistik nan tak mampu dimiliki oleh mereka.

Kepercayaan tersebut kemudian menghasilkan sebuah keyakinan dalam diri mereka buat dapat mengukir dan memahat kayu nan baik dengan daya nilai seni nan tinggi, meskipun kegiatan tersebut dilakukan tanpa donasi sketsa sama sekali.

Suku orisinil nan terdapat di Irian Jaya atau Papua memiliki dua loka tinggal, yaitu masyarakat nan tinggal di daerah sepanjang pantai dan masyarakat nan tinggal di daerah pedalaman dataran rendah nan berawa dan berlumpur. Daerah nan kedua merupakan daerah nan tertutup oleh hutam rumba tropus dan pohon mangrove dengan hutan sagu nan paling banyak ditemukan.

Dengan begitu, suku Asmat pun memiliki dua kelompok masyarakat pengukir dan pemahat kayu, yakni suku nan tinggal di pesisir pantai dan suku nan tinggal di daerah pedalaman. Kedua wilayah tersebut tentu saja memberikan pengaruh nan banyak terhadap nilai-nilai kebudayaan dan hasil karya cipta masyarakatnya.

Perbedaan struktur sosial, bahasa nan digunakan, pola hayati dan pola berpikir, kegiatan keagamaan dan ritual lainnya merupakan faktor-faktor nan berpengaruh terhadap proses pemahatan dan pengukiran kayu.



Mata Pencaharian Suku Asmat

Kebanyakan manusia di pedalaman memiliki mata pencaharian sebagai pemburu. Hal tersebut berlaku juga bagi masyarakat suku Asmat nan tinggal di pedalaman. Mereka melakukan kehidupan berburu berbagai macam binatang liar buat dapat memenuhi kebutuhan hayati mereka dalam hal pangan dan kebutuhan sandang. Berbagai binatrang nan biasanya diburu demi kepentingan tersebut antara lain ialah komodo, ular, burung, dan binatang lain nan tinggal di hutan.

Sementara itu, masyarakat suku Asmat nan tinggal di sepanjang pantai mempunyai mata pencaharian sebagai nelayan. Namun, ada juga masyarakat pantai nan bermata pencaharian sebagai pemburu binatang-binatang bahari dengan cara nan serupa dengan masyarakat pedalaman.

Kedua masyarakat kelompok tersebut memiliki satu kecenderungan dalam hal mengonsumsi makanan pokok, yakni makanan nan sudah tak asing lagi di telinga kita sebagai makanan pokok masyarakat Irian Jaya : sagu.



Rumah Adat Suku Asmat

Sama seperti kebudayaan suku lainnya, suku ini pun memiliki rumah adat nan berfungsi sebagai loka tinggal sekaligus loka melakukan berbagai kegiatan atau ritual adat. Suku Asmat memiliki dua rumah adat nan masing-masing digunakan sebagai loka tinggal para bujang atau anak laki-laki nan belum menikah dan kegiatan adat lainnya. Sementara itu, rumah nan lain digunakan sebagai loka tinggal masyarakat atau keluarga dengan kepala keluarga lebih dari satu.

Rumah adat nan dibangun dengan tujuan buat dapat ditempati saat ada kegiatan atau ritual adat ini bersifat tradsional dan tentu saja menurut pada hukum adat, seperti kegiatan kedap dan berbagai pembuatan kerajinan tangan atau pemahatan dan pengukiran kayu dilakukan di rumah ini. Banyak juga anak lelaki nan belum menikah tinggal di rumah ini sehingga rumah Jew ini sering juga disebut sebagai rumah bujang.

Rumah adat selanjutnya ialah rumah adat Tsyem, yakni rumah adat nan dihuni oleh semua anggota keluarga dengan jumlah kepala keluarga dua sampai tiga orang. Rumah ini ditempatkan di sekitar rumah adat Jew dengan ukuran nan lebih kecil.

Pembuatan kedua rumah tersebut tak boleh melanggar ketentuan adat, yakni tak mempergunakan bahan-bahan matrial dari pabrik serta tak boleh mendatangkan orang luar buat membantu pembuatan rumah itu.