Kehidupan Suku Ainu

Kehidupan Suku Ainu

Banyak orang kerap salah paham antara suku Ainu dengan orang Jepang. Orang kerap mengira bahwa bangsa Ainu ialah orang Jepang, demikian pula sebaliknya. Padahal bangsa Ainu dengan orang Jepang ialah dua jenis etnis nan berbeda.



Sejarah Singkat Suku Ainu

Dalam bahasa Ainu, ‘Ainu’ berarti manusia. bangsa Ainu ialah orang-orang dengan latar belakang budaya dan ras nan berbeda dengan etnis Jepang. Mereka telah menghuni Hokkaido, Tohoku utara, Kepulauan Kurile dan Sakhalin. Saat ini ada lebih dari 150 ribu jiwa bangsa Ainu, dengan sebagian kecil populasinya berada di Hokkaido. Angka inipun tak tepat betul, sebab banyak orang menyembunyikan bukti diri bangsa Ainu mereka demi menghindari rasisme. Salah satu cara nan dilakukan yaitu dengan menyembunyikan fakta garis keturunan mereka, maka dari itu keluarga maupun orangtuanya tak pernah menceritakan dari mana mereka berasal. Sehingga saat ini banyak keturunan bangsa Ainu nan tak mengetahui garsi keturunan mereka.

Salah satu teori mengatakan, bangsa Ainu ialah keturunan migran Mongoloid nan memasuki kepulauan Jepang sebelum masa Jomon. Mereka kemudian mengungsi dan berasimilasi, ketika etnis Jepang mulai memperluas wilayah mereka. Ketika diadakan penelitian melalui DNA dengan teknologi tinggi melalui jejak dan peninggalan bangsa Ainu, diketahui pada kenyataannya mereka berasal dari nenek moyang suku Jomon antik nan tinggal terlebih dahulu di Jepang. Ada cerita nan berasal dari salah satu legenda bangsa Ainu nan menceritakan bahwa mereka sudah ada semnejak seratus ribu tahun nan lalu sebelum kedatangan bangsa Jepang sekarang ini.

Sejatinya dahulu, bangsa Ainu ialah petarung nan tangguh. Namun kala Jepang mulai memperluas wilayah ke utara dan mengambil alih tanah mereka, bangsa Ainu kerap menyerah tanpa perlawanan. Pada tahun 1457, 1669 dan 1789 memang sempat terjadi perang, namun selalu berahir dengan pihak bangsa Ainu nan kalah.Kebijakan Jepang buat mereformasi bangsa Ainu pun meluas pada periode Meiji (1868-1912). Kala itu, bangsa Ainu memperoleh status sebagai "mantan penduduk asli".

Tak hanya itu, Jepang juga melarang bahasa Ainu, membatasi huma bangsa Ainu, serta mempekerjakan sejumlah orang dari bangsa Ainu sebagai budak industri perikanan Jepang. Baru pada tahun 1997, sebuah undang-undang mengenai penyediaan dana buat penelitian dan kebudayaan bangsa Ainu disahkan. Dan bangsa Ainu pun dapat bernapas lega.



Tampilan Fisik Suku Ainu

Tampilan fisik bangsa Ainu pada umumnya lebih pendek dari orang Jepang. Tubuh mereka kuat, proporsional, dengan mata coklat gelap, tulang pipi tinggi, hidung pendek dan paras lebar, rambut lebat dan berombak. Karena para pria bangsa Ainu tidak mencukur kumis sampai umur tertentu, maka paras mereka pun lebat dengan jenggot dan kumis. Sementara rambut pria dan wanita bangsa Ainu sama-sama dipotong sebahu. Bedanya, para wanita bangsa Ainu kerap menato mulut, lengan, dan dahi mereka. Para peneliti pernaa mengadakan uji DNA dengan peralatan canggih buat mengetahui garis keturunan ssukau Ainu, anggapan nan mereka katakan sebelumnya tentang dari mana asalnya bangsa Ainu ialah dari daerah Kaukasus.

Tetapi setelah hasil penelitian keluar ternyata mereka sama sekali bukan dari daerah itu. Ada beberapa kaum dari bangsa Ainu nan minoritas pernah di perkirakan berasal keturunan genetik suku Nivkh nan memang pernah melakukan interaksi dengan bangsa Ainu dulunya. Namun berdasarkan penelitian melalui tulang tengkorak nan ada bangsa Ainu di perkirakan bukan dari keturunan suku Jomon tetapi lebih mendekati kepada seuku Okhotsk. Dan fenomena dari budaya nan ada pada bangsa Ainu merupakan pengabungan dari kebudayaan antar suku Okhotsk dan suku Satsumon

Pakaian tradisional bangsa Ainu ialah jubah pintal dari kulit pohon elm. Jubah dengan panjang hampir mencapai mata kaki ini juga berlengan panjang dan diikat dengan korset dari bahan sama. Pada musim dingin, mereka mengenakan kulit binatang, berupa legging dari kulit rusa atau sepatu bot dari kulit anjing atau salmon.

Baik pria maupun wanita bangsa Ainu getol mengenakan anting-anting. Dan bagi bangsa Ainu, perhiasan nan bernilai tinggi ialah tamasay , homogen kalung manik-manik.



Kehidupan Suku Ainu

Rumah orang Ainu terbuat dari buluh-jerami. Dengan luas mencapai 20 kaki, rumah bangsa Ainu tak bersekat dan memiliki tanur di tengah. Ada cerobong asap berupa lubang di sudut atap, ada satu ventilasi di sisi timur dan ada dua pintu. Rumah itu hanya punya sedikit mebel. Alih-alih menggunakan kursi atau meja, mereka duduk di lantai beralaskan dua lapis tikar. Saat tidur, mereka menggantung tikar pada dua tiang.

Orang Ainu tak pernah makan daging atau ikan mentah. Meski berburu daging beruang, rubah, serigala, musang, sapi, kuda, ikan, dan unggas, mereka selalu merebus atau memanggangnya dengan sayur, akar dan rempah-rempah sayuran, rempah-rempah, dan akar. Saat makan, para pria menggunakan sumpit, sementara para wanita menggunakan sendok kayu. Orang-orang Ainu membagai-bagai wilayah mereka menajdi beberapa huma nan di gunaka buat berbagai keperluan seperti loka buat berburu hewan, menncari ikan-ikan dan juga buat mengumpulkan berbagai kebutuhan hayati dari hutan seperti kayu bakar dan juga buah-buahan.



Kepercayaan Bangsa Ainu

Tidak ada literatur rinci tentang sejarah orang Ainu, namun ada warisan nan kaya dari kisah-kisah lisan, nan disebut Yukar . Orang Ainu percaya bahwa bumi mengambang dan bahwa "Ainu Mosir", atau tanah dari manusia (sebagai versus "Kamui Mosir", tanah para dewa), terletak di punggung ikan nan gerakannya dapat menyebabkan gempa bumi. orang Ainu juga percaya bahwa segala sesuatu di alam memiliki "Kamui" (roh atau dewa) di dalam. Karena tak memiliki imam spesifik serta kuil buat upacara, maka kepala desalah nan melakukan upacara keagamaan apa pun nan diperlukan.

Dalam kehidupan orang Ainu mempunyai keyakinan mereka selalu dilindungi oleh Dewa-dewa nan berwujud roh nan mengembara di muka bumi. Kepercayaan mereka seperti halnya kepercayaan di loka lain nan mewujudkan benda sebagai pelindung, orang Ainu juga tak jauh beda. Mreka beranggapan Dewa pelindung mereka itu dapat berwujud dalam bentuk benda nan bisamereka puja seperti dalam pisau, senjata tajam, rumah mereka dan lainnya. Untuk menhormati Dewa nan mereka percayai, orang Ainu selalu mengadakan upacara persembahan dengan memberi kan sesaji berupa makanan dan memenjatkan doa bagi Dewa nan mereka percayai.

Orang-orang Ainu selalu berdoa sebelum makan, dan berdoa kepada dewa barah saat mereka jatuh sakit. Mereka percaya roh mereka abadi, juga mempercayai konsep surga dan neraka. Karena mereka juga percaya surga dan neraka berada jauh di kedalaman bumi, maka bagi mereka, neraka berada di bawah gunung berapi. orang Ainu juga mempunyai kepercayaan adanya Surga dan neraka, menurut mreka neraka itu ada dibwah gunung berapi dan Surga itu ada diatas awan. Dan mereka juga percaya kalaupun mereka wafat roh mreka tetap abadi.

Bahasa Bangsa Ainu

Bahasa nan digunakan suku Aini sama sekali beda dengan nan digunakan oleh bangsa Jepang pada umumnya, Memang ada beberapa penyerapan kata tetapi tak banyak. Karena sebelumnya adalarangan mengunakan bahasa Ainu bagai orang Ainu kala itu dari Pemerintah Jepang. Maka penutur bahas ini tinggal sedikit dan hanya orangtua nan sudah berusia lanjut saja nan masih dapat mengunakan. Sehingga menurut UNESCO di tahun 2009, bahasa Ainu termasuk bahasa nan terancam punah seiring habisnya generasi tua diantara mereka.