Legenda dan Kehidupan

Legenda dan Kehidupan



Kota Terbesar Nomor Dua

Siapa nan tidak kenal dengan kota Surabaya? Kota nan mendapat julukan sebagai Kota Pahlawan ini berada di provinsi Jawa Timur, berdekatan dengan pulau Madura nan ada di timur bahari pulau Jawa. Kota ini menjadi kota terbesar nomor dua di Indonesia. Kota Surabaya nan menjadi ibu kota Jawa Timur ini merupakan kota metropolitan nan terkenal panas. Surabaya identik dengan karakteristik khasnya berupa Tugu Pahlawan, Jembatan merah, atau patung nan menjadi simbol kota Surabaya itu sendiri, yaitu patung ikan hiu dan buaya nan saling bergelut.

Kota ini terus menggeliat. Berbagai bentuk aktivitas masyarakat dapat disaksikan. Penamaan kota ini sendiri menjadi satu cerita rakyat nan banyak mengandung pelajaran hidup. Hampir di seluruh Indonesia sebenarnya nama-nama kota itu terkait dengan satu kisah nan dianggap pernah ada. Coba saja perhatikan nama kota Banyuwangi. Banyu itu ialah air dan Wangi artinya harum. Nama ini berkaitan dengan kisah seorang puteri nan baik hati tetapi dituduh oleh mertuanya telah membunuh anaknya.

Demi membuktikan kalau ia tak bersalah, ia terjun ke sungai. Ternyata air sungi itu menjadi harum walaupun sang puteri tak ditemukan lagi. Melihat fenomena itu, sang suami akhirnya sadar kalau sebenarnya sang istri tak bersalah dan sang ibunyalah nan bersalah. Nama kota Madura juga terkait dengan legenda. Orang Madura itu cukup bangga dengan lambang arit nan inheren pada kotanya. Arit itu bukannya lambang kekerasan, namun lambang kerja keras.

Orang Madura itu memang di antara etnik grup nan mempunyai pandangan hidup kerja luar biasa. Kota-kota lainnya di Indonesia juga mempunyai kisah tersendiri. Terkadang nama kota itu berkaitan dengan bentuk geografis. Misalnya, satu kabupaten di Sumatera Selatan, Muara Enim. Muara merujuk ke muara sungai dan Enim ialah nama sungainya. Kota ini terletak di muara sungai enim. Berbagai asal usul itu tentunya menarik buat diketahui sebagai bagian dari proses perkembangan suatu masyarakat.

Walaupun banyak nan mengatakan bahwa ada beberapa versi cerita mengenai satu nama kota, rakyat atau orang-orang nan tinggal di kota itu sepertinya tak terlalu memikirkannya. Bagi mereka ialah bahwa kehidupan terus berlangsung walaupun harga barang naik seperti saat ini. Apalah arti sebuah nama kalau nama itu tak dapat memberikan keberartian kepada masyarakatnya. Untuk itulah biasanya nama suatu loka itu menunjukan sesuatu.



Ragam Versi Nama Surabaya

Surabaya mempunyai beberapa versi cerita tentang nama kota tersebut. Masyarakat pun ada nan tahu semua versi, namun tak sedikit nan hanya tahu satu atau dua versi. Tidak menjadi masalah hanya tahu satu atau dua. Yang niscaya ialah bahwa orang-orang Surabaya ini mempunyai karakteristik khas tersendiri. Aksennya cukup medok dengan dialek bahasa Jawa nan khas. Orang akan tahu kalau seseorang itu berasal dari Surabaya atau arek Suroboyo.

Versi 1 : Ikan Hiu Sura dan Buaya
Dahulu hayati dua hewan nan begitu kuat, yaitu ikan hiu Sura dan buaya (dalam bahasa Jawa diucapkan sebagai Baya). Sura dan Baya ini digambarkan sebagai hewan nan sangat kuat, tak pernah mau mengalah satu sama lain, dan selalu berebut wilayah.

Kedua hewan ini akhirnya membuat suatu kesepakatan tentang wilayah agar mereka tak berkelahi lagi. Sura menguasai air, sedangkan Baya menjadi penguasa daratan. Tapi akhirnya terjadi kesalah pahaman di antara mereka saat Sura berburu mangsa di sungai. Baya menganggap sungai ialah air di atas daratan, nan berarti menjadi wilayah kekuasaannya, tapi Sura bersikeras kalau sungai hanyalah kumpulan air nan sama seperti lautan.

Akhirnya kedua hewan kuat itu kembali berkelahi tanpa henti, saling bergelut dan tak pernah ada nan menang atau kalah. Keduanya baru berhenti setelah saling menggigit ekor dan kelelahan. Dari peristiwa itu, akhirnya masyarakat menamai loka tinggal mereka dari nama-nama dua hewan kuat tersebut, yaitu Sura dan Baya, menjadi Surabaya.

Perkelahian kedua hewan ini tak dapat disamakan dnegan sifat orang Surabaya nan keras dan tak mau mengalah. Walaupun ada nan mengaitkannya dengan menyaksikan beberapa orang Surabaya nan seperti itu, sepertinya mengcap suatu etnik grup dengan sifat eksklusif juga bukan sesuatu nan baik. Setiap orang memang mempunyai kekurangan dan kelebihan masing-masing. Tidak dapat menyamaratakan semuanya. Jadi, cukup berhati-hatilah dalam mengeneralisasi atau memberikan label eksklusif pada etnis tertentu.

Kesalahpahaman dapat saja terjadi kalau belum kenal terlalau jauh tapi sudah menghakimi dengan pikiran dan berpretensi nan buruk. Waspada dan tak mudah percaya memang sine qua non di setiap hati manusia. Tetapi hal ini bukannya menutup dirinya dari pergaulan nan lebih luas. Orang Surabaya itu memang pekerja keras. Namun, tak mungkin mereka mau menang sendiri terus kalau mereka mau maju. Kemajuan nan ditunjukan membuktikan kalau mereka memang dapat bekerja sama dengan orang lain.

Versi 2: Sura dan Baya ialah Jelmaan Manusia
Legenda Surabaya nan lain menyebutkan, bahwa dahulu di khayangan hayati seorang putri bernama Widuri. Di lain pihak, ada Ambarukmo nan ingin membalas dendam pada raja dan ratu nan dulu pernah mengusirnya dari khayangan. Akhirnya Ambarukmo menjatuhkan tusuk konde emas milik putri Widuri ke bumi.

Tusuk konde itu lalu menciptakan genre sungai di bumi dengan air nan berwarna keemasan dan disebut dengan Kalimas (sungai emas). Putri Widuri akhirnya turun ke bumi buat mengambil tusuk kondenya, tapi sayangnya ia tak dapat menemukan benda nan ia cari. Widuri pun lalu menetap di bumi sebab ia tak dapat kembali lagi ke khayangan.

Usaha Ambarukmo buat mengusir Widuri berhasil, tapi ia menginginkan tusuk konde emas milik sang putri. Ambarukmo akhirnya menyuruh kedua muridnya bernama Rangin dan Panji buat mengambil tusuk konde emas nan ada di bumi dengan memberi iming-iming kalau mereka sukses mendapatkan tusuk konde itu, mereka berdua akan mendapatkan cinta dari Widuri.

Rangin dan Panji nan suka sekali bersaing ini akhirnya turun ke bumi dan menemukan tusuk konde emas. Ambarukmo dengan licik lalu mengubah Rangin dan Panji menjadi ikan hiu bernama Sura dan buaya (Baya). Keduanya lalu diadu domba, bergelut habis-habisan memperebutkan tusuk konde emas.

Tapi akhirnya kedua murid ini sadar telah diperalat, mereka pun akhirnya menyerang guru mereka dengan buas. Sang guru tewas mengenaskan, sedang Sura dan Baya nan kelelahan ikut tewas setelah sukses menyerahkan tusuk konde emas pada sang Putri Widuri. Karena itu, demi mengingat jasa kedua murid nan telah menemukan tusuk konde emas tersebut, kota itu akhirnya memakai nama Sura dan Baya.

Itu ialah dua versi tentang legenda Surabaya nan sangat inheren di hati rakyat Kota Pahlawan itu. Tapi ada beberapa juga nan menyebutkan bahwa nama kota Surabaya bukan diambil dari nama hewan ikan hiu dan buaya.

Versi 3 : Surabaya berarti Selamat dari Bahaya
Legenda kota Surabaya nan lain menyebutkan bahwa nama kota itu sendiri diambil setelah terjadi perang besar. Sura berarti selamat, sedangkan baya ialah bahaya, jadi kota Surabaya berarti selamat dari bahaya. Hal ini menggambarkan peristiwa lampau saat ada sekelompok pasukan Tar-Tar nan menyerang raja Jawa bernama Jayakatwang. Tapi akhirnya pasukan Tar-Tar ini dikalahkan oleh Raden Wijaya. Dari kemenangan itulah akhirnya muncul nama Surabaya nan berarti selamat dari bahaya.



Legenda dan Kehidupan

Orang boleh saja percaya dan konfiden bahwa legenda itu ada dan mungkin saja memang sahih terjadi. Namun, satu hal nan niscaya ialah bahwa legenda itu tak dapat menjadikan seseorang hebat dan merasa ia bagian dari legenda atau malah mau meniru legenda. Meniru watak yag baik, mungkin masih boleh. Tetapi meniru cara menyelesaikan masalah dengan berkelahi, rasanya kurang pas.