Borong Emas

Borong Emas

Sudah menjadi hal nan lumrah bahwa isu ekonomi akan selalu berkaitan dengan isu politik. Hal ini bisa terjadi di setiap negara. Begitu pula hanya dengan nan terjadi di negara Indonesia sendiri. Sebagai contoh planning redenominasi nan sebenarnya bertujuan sebagai penyederhanaan digit rupiah tapi dengan nilai nan tetap sama.



Isu Ekonomi

Isu ekonomi nan berkaitan dengan planning Bank Indonesia menerapkan redenominasi rupiah sudah cukup gencar. Berakibat pada tak sedikitnya para pelaku ekonomi nan mulai memikirkan akibat positif dan negatif planning pemerintah tersebut. Pihak BI sendiri sudah mulai efektif melakukan pengenalan redenominasi pada periode 2011-2012. Yang apabila tak ada halangan dipastikan penerapannya direncanakan pada 2018.

Isu tersebut memberi akibat secara langsung dan tak langsung kepada ekonomi rakyat pada umumnya. Hal ini menjadi hal nan wajar, sebab pada setiap kebijakan ekonomi nan diterapkan oleh BI sebagai salah satu forum ekonomi nan berkapasitas di dalam permasalahan ekonomi negara, niscaya akan memiliki dampak-dampaknya.

Meskipun kebijakan tersebut telah mulai diterapkan, ataukah masih bersifat rumor saja. Namun hal ini memang menjadi hal nan sangat lumrah diterima.



Definisi

Apa sebenarnya nan menjadi pengertian dari denominasi dan redenominasi itu sebenarnya? Agar Anda tak menjadi bingung dalam mengikuti kelanjutan dari artikel ini, maka simak definisi nan tepat buat kedua istilah tersebut.

Redenominasi ialah penyederhanaan pecahan mata uang dengan mengurangi digit angka nol tapi tak mengurangi nilai mata uang itu. Apa nan direncanakan oleh pemerintah ialah mengurangi tiga digit angka nol pada mata uang rupiah. Jadi, bila sekarang Anda memegang uang pecahan Rp50.000,00, pada saat penerapan denominasi, uang tersebut menjadi Rp50,00 saja.

Namun, dengan uang itu, Anda dapat membeli barang bernilai sama dengan Rp50.000,00. Dengan demikian, sekilas, program redenominasi ini tak ada masalah sama sekali. Malah memberikan keuntungan-keuntungan lain nan berkaitan dengan nilai-nilai kebangsaan dan harga diri bangsa.

Redenominasi biasanya dilakukan atau ditempuh, dengan pertimbangan, bahwa akan membuat tak seimbang persepsi masyarakat. Dan berikutnya ialah kemungkinan adanya penyiasatan nan tak bijaksana oleh sebagian orang nan mengambil laba dari hal perubahan ini.

Dan semua hal tersebut sangat tak jauh dari kemungkinan nan berhubungan dengan isu ekonomi . Dan juga berkaitan erat dengan isu politik. Bahwa mungkin saja dengan kebijakan ini, akan isu ekonomi nan ada akan berkembang luas menjadi isu politik nan lebih serius tentunya. Dan inilah nan sungguh tak diinginkan oleh pemerintah Anda.



Borong Emas

Bagi orang-orang nan mempunyai uang berlebih dan mempunyai kekhawatiran berlebih dalam menghadapi penerapan redenominasi rupiah, biasanya mulai sering membeli emas batangan dan menyimpan uang dalam bentuk dolar atau dinar. Cara ini dipandang efektif oleh mereka dalam mengantisipasi setiap perubahan konvoi ekonomi nan ada.

Ketakutan hiperbola seperti ini sebenarnya tak harus terjadi. Namun, kalau pembelian dinar dan emas batangan sebagai bentuk investasi biasa tanpa diembel-embeli ketakutan terhadap redenominasi rupiah, tak jadi masalah. Kalau semua orang berduit berpikir seperti ini, dapat jadi harga emas akan naik tidak terkendali. Kalau ini terjadi, mau tidak mau, keadaan ekonomi sedikit banyak akan terganggu.

Ada pula cara lain nan lebih bijaksana daripada memborong emas. Misalnya dengan membeli atau mengalokasikan harta Anda ke dalam saham. Hanya saja keluhan nan generik terjadi ialah keawaman publik terhadap global bursa saham dan sejenisnya. Dan di sisi lain memborong emas, kadangkala dipandang sebagai hal nan lebih mampu menjamin Anda buat tetap merasa kondusif dengan harta nan Anda miliki.



Sisi Positif Planning Redenominasi Rupiah

Bandingkan salah satu mata uang asing dengan rupiah. Ambil contoh mata uang Malaysia. Mengapa Malaysia? Negara tetangga ini seringkali mengobok-obok rasa nasionalisme bangsa. Satu ringgit Malaysia sama dengan Rp2.900,00. Lihatlah angka itu (1:2900). Terlihat sekali bahwa ringgit jauh lebih perkasa dibanding rupiah. Coba kalau 3 digit angka nol dihilangkan, nan terlihat ialah 1:2,9. Lumayanlah, tak terlalu jauh. Rasa kebanggaan sebagai orang Indonesia dapat tumbuh lagi.

Selain itu, kesalahan penulisan atau pengetikan dapat dikurangi sebab angka nan ditulis tak banyak. Perlu diingat bahwa ini cuma masalah psikologis dan pembiasaan. Toh , nilai mata uangnya tak berkurang. Memang, bagi sebagian orang, menyebutkan gaji 5 juta rupiah lebih keren daripada Rp500.000,00. Kesannya banyak. Namun, apa kurangnya apabila didenominasi? Bukankah Rp500.000,00 itu pada akhirnya sama dengan 5 juta rupiah?

Rasanya, rakyat Indonesia tidak perlu terlalu merisaukan planning redenominasi ini. Bukankah BI juga tak langsung menerapkan program ini tanpa pengenalan nan cukup buat membuat rakyat siap menerima penerapannya.



Trauma Denominasi Rupiah Zaman Orde Lama

Mau tidak mau, trauma denominasi rupiah pada zaman Orde Lama nan menyederhanakan mata uang rupiah tanpa menurunkan harga barang telah menyulut emosi sebagian rakyat Indonesia, termasuk Megawati nan berkomentar negatif terhadap planning tersebut. Bila planning redenominasi sekarang sama dengan saat Orde Lama, itu berarti sama saja dengan membunuh rakyat dan penerapan kebijaksanaan nan amat tak adil.

Akan tetapi, redenominasi nan sekarang berbeda. Nilai mata uang tak berkurang, hanya penyederhanaan penyebutan saja. Jadi, nantinya penyebutan nilai mata uang rupiah sama dengan dolar Amerika atau mata uang negara maju lainnya.



Mendidik Masyarakat Ekonomi Indonesia

Menerapkan kebijakan redenominasi sebenarnya memiliki akibat positif dan negatif tentunya. Semua tergantung kepada kebijakan pemerintah bagaimana cara menerapkan hal ini. Sehingga hal nan masih bersifat perencanaan penerapan kebijakan tak berujung pada isu ekonomi nan justru meresahkan masyarakat ekonomi Indonesia.

Seharusnya buat meredam kelabilan masyarakat ekonomi Indonesia dalam menghadapi planning tersebut. Dan agar rakyat juga merasa siap menerima kebijakan tersebut, seharusnya ada upaya dan usaha buat mendidik dan memberi pengertian pada rakyat tentang hal ini.

Hal nan bisa dilakukan secara sederhana, misalnya dengan memberikan pengenalan tentang perencanaan ini. Sebagai contoh ialah dengan menyampaikan informasi tentang tujuan dari redenominasi tersebut, dan biarkan rakyat berpikir akan akibat positif dan negatifnya dari planning tersebut. Dan mendidik agar masyarakat ekonomi Indonesia bisa bersikap bijaksana dan dewasa.

Tujuan dari redenominasi itu sendiri sebenarnya adalah: menyederhanakan pecahan nominal uang agar lebih efisien dan efektif serta nyaman dalam bertransaksi. Dan tujuan secara general kebangsaan ialah mengembalikan gambaran bangsa agar kesenjangan nilai rupiah tak terlalu menyolok dibandingkan dengan nilai nominal mata uang negara lain.

Dan akibat positif dari pemberlakuan redenominasi nantinya adalah: daya beli masyarakat tetap sama, sebab sama sekali tak terindikasi kerugian atas proses redenominasi tersebut.

Sedangkan akibat negatifnya disinyalir hampir tak ada. Karena penyederhanaan tersebut juga diberlakukan pada harga-harga barang nan disesuaikan, dan proses tersebut sama sekali tak mengubah daya beli masyarakat luas.

Demikian sedikit ulasan tentang redenominasi sebagai kebijakan nan kelak akan diberlakukan oleh Bank Indonesia. Dan nan terpenting dari semua hal tersebut adalah, setiap isu ekonomi nan ada memang harus selalu dibarengi dengan pembelajaran kepada masyarakat ekonomi Indonesia. Bahwa harus dilakukan proses pematangan persepsi agar kebijakan ini pada akhirnya bisa diterima dan rakyat Indonesia siap menerimanya, tanpa perlu adanya gejolak nan berarti.

Semoga!