Media Komunikasi Publik

Media Komunikasi Publik

Tumbuhan dan hewan saja berkomunikasi apalagi manusia. Bukti tumbuhan berkomunikasi ialah adanya penularan hama penyakit. Kecenderungan gen dan struktur tanaman membuat tumbuhan dapat berkomunikasi. Hewan berkomunikasi dengan bahasa tubuh dan suara-suara khasnya. Manusia dengan berbagai media komunikasi berusaha buat mendapatkan pengertian nan lebih baik dalam berhubungan dengan manusia lainnya.



Efektivitas Sebuah Media Komunikasi

Facebook dianggap sebagai salah satu media komunikasi nan paling banyak digunakan oleh umat manusia di seluruh dunia. Fasilitas nan disediakan Facebook termasuk keleluasaan menyingkirkan teman nan tak disukai ataupun meremove komen nan tak disukai, membuat Facebook semakin disuka. Ajang promosi dan pencitraan diri pun dapat dilakukan di media jejaring sosial ini. Setelah Facebook, ada Twitter, Email, telepon, TV, koran, dan lain-lain.

Keefektifitasan media komunikasi tersebut tergantung bagaimana membahasakan pesan nan akan disampaikan. Kasus Koin Untuk Prita, dapat dikatakan berhasil mengaduk-aduk emosi masyarakat dan momennya pada saat kampanye Presiden juga sangat pas. Hal inilah nan membuat gerakan tersebut meraih tujuan nan dicita-citakan.

Gerakan Mendukung Susno Duaji melalui Facebook, ternyata kurang sukses. Terbelahnya pendapat masyarakat menjadi salah satu penyebab tak berlanjutnya gerakan tersebut. Koin Untuk Presiden, buru-buru terbungkam oleh peraturan perundang-undangan nan tak memperbolehkan rakyat menghina Presidennya. Gerakan Koin Untuk Presiden tersebut dikategorikan menghina Presiden sehingga dilarang walaupun gerakan ini sebagai kritik terbuka untuk Bapak Presiden sendiri.



Media Komunikasi Keluarga

Berlatih berkomunikasi dengan efektif dan efisien dapat dimulai di rumah. Cukup dengan menyediakan selembar Papan Komunikasi di mana masing-masing anggota keluarga dapat menuliskan agenda kegiatan harian, planning tamasya keluarga, atau pun curhat dan uneg-uneg nan dirasakan oleh masing-masing anggota keluarga.

Kemahiran menyusun kata-kata nan tidak menyinggung perasaan orang lain, tapi tetap menyentuh akar permasalahan bisa terbentuk dengan rajinnya membuat tulisan nan ditempelkan di Papan Komunikasi. Media ini ternayata dinilai cukup sukses oleh banyak keluarga nan telah mempraktikkannya.

Mereka mengakui bahwa menyatakan pendapat dengan cara menulis terasa lebih mengena daripada hanya diucapkan. Tentunya tulisan tersebut ditindaklanjuti oleh nan bersangkutan dengan pendampingan dari orangtua.

Bila masalah nan ada berkaitan dengan orangtua, anak perlu diajak bernegosiasi dan berkompromi. Dari aktifitas ini tak sporadis terlahir ide-ide jenius bagaimana menyikapi masalah nan berkaitan dengan orang lain di luar anggota keluarga.

Bukannya tak mungkin suatu saat kelak anak akan menjadi seorang negosiator ulung nan mahir menyusun kata-kata meyakinkan. Suatu kemampuan nan pernah dimiliki oleh Haji Agus Salim dan para diplomat ulung Indonesia lainnya.



Media Komunikasi Publik

Koran dan buletin spesifik nan diterbitkan oleh pemerintah juga dapat menjadi media komunikasi antara rakyat dan pemimpinnya. Penyebaranluasan suatu peraturan akan lebih efektif bila dilakukan dengan banyak cara.

Tentunya koran atau bulten tersebut bukan sebagai alat pelanggengan kekuasaan. Tapi semata-mata sebagai saluran atau jembatan komunikasi nan akan memperlancar pembangunan dan penciptaan kesejahteraan rakyat.

Bila rakyat melek peraturan dan perundangan, korupsi dapat diminimalisir. Apa nan dilakukan oleh KPK dengan membuat website nan dapat diakses oleh siapa pun dan pengaduan nan bersifat rahasia, telah cukup sukses mengungkapkan banyak kasus termasuk kasus mutakhir nan menyibak pemerasan sebesar Rp50 juta nan dilakukan oleh seorang jaksa terhadap seseorang nan tengah tersandung masalah penyalahgunaan keuangan.



Terobosan Media Komunikasi Kampus

Kampus nan memiliki ribuan mahasiswa niscaya akan memiliki persoalan. Menampung usulan para mahasiswa dalam bentuk saran dan kritik perlu media. Media komunikasi nan tepat akan menentukan saluran aspirasi nan cepat. Kampus biasanya mempunyai forum buat mengurus hal ini.

Akan tetapi, forum itu seringkali konvensional dan bertindak konservatif. Sementara itu, komunikasi selalu bergerak dinamis. Bentuk aspirasi mahasiswa pun kian majemuk dan variatif. Ini urgensi terobosan media kampus.



1. Konvensional

Penyumbatan aspirasi nan masuk sering disebabkan media komunikasi. Penanganan konvensional dan ortodok akan membuat aspirasi mahasiswa kian mengecil. Angka menurun ini bukan tanda tak ada aspirasi, melainkan keengganan mahasiswa menyalurkan aspirasi. Berikut ini cara-cara konvensional nan tak menguntungkan.

  1. Kotak saran. Menggantungkan asa pada kotak saran bagai pungguk merindukan bulan. Sedikit mahasiswa nan berani menyampaikan aspirasi ke kotak saran. Kotak saran mengutamakan metode menunggu bola. Belum lagi, jika pengenalan kotak saran tak menyeluruh.

  2. Birokrasi. Birokrasi kampus kerap menghambat aspirasi nan diterima. Perlu ke sini dulu, ke bagian itu dulu, dan sebagainya. Aspirasi sifatnya perlu responsif, bukan reaktif. Birokrasi kampus berkebalikan dari hal ini. Birokrasi kampus justru mengelak ketika kritikan datang.

  3. Diancam. Nah, ini justru sudah kacau. Tidak sporadis aspirasi nan muncul bukan diselasaikan, melainkan ditambah permasalahan baru. Si pelapor diancam dan diteror. Hal ini bukan imbasan jempol semata. Terutama, menyangkut isu sensitif, misalnya korupsi dan jual nilai.


2. Terobosan

Media komunikasi kampus harus dibuat terobosan. Metode out of dat e (konvensional) harus diganti dengan out of box (terobosan). Berikut ini langkah terobosan nan dapat dilakukan.

  1. Teknologi. Penggunaan teknologi dalam media komunikasi dapat diterapkan, seperti SMS, forum, dan sebagainya. Metode ini, selain friendly user, bisa efisien. Terutama, bagi para mahasiswa nan doyan gadget . Misalnya, handphone , laptop, dan sebagainya. Pemakaian teknologi dapat memudahkan saluran aspirasi mahasiswa.

  2. Emosional. Lupakan metode konvensional nan sarat birokrasi. Kenapa para pejabat kampus menyambangi mahasiswa secara langsung atau bertatap muka? Apakah pernah terpikir rektor mengajak salat berjamaah? Sentuhan emosional ini akan membuat media komunikasi kian lancar. Tidak ada jeda nan menganga lebar. Egaliter.

  3. Informal. Media komunikasi mahasiswa sering dalam bentuk informal, seperti gosip, isu, atau desas desus. Kampus perlu arif menyikapi hal ini. Mouth of mouth ialah media komunikasi terampuh mahasiswa. Jika bersandar pada metode formal (kotak saran), pasti akan terus kosong melompong. Lebih baik kampus melacak saluran aspirasi informal tersebut. Toh, tak akan ada asap jika tak ada api.


Media Komunikasi Tradisional

Di berbagai daerah di Indonesia, media komunikasi tradisional tampil dalam berbagai bentuk dan sifat, sejalan dengan variasi kebudayaan nan ada di daerah-daerah itu. Misalnya, tudung sipulung (duduk bersama), ma