Macam-macam Kultur Jaringan

Macam-macam Kultur Jaringan

Kultur jaringan, mungkin istilah ini terdengar asing bagi orang awam. Kultur jaringan sendiri sebenarnya ialah sebuah cara atau metode nan digunakan buat mengembangkan atau membudidayakan jaringan tumbuhan secara vegetatif. Kultur jaringan bukanlah hal nan mudah, diperlukan persiapan dan tahapan kultur jaringan buat menggunakan metode ini. Sebelum kita memelajari pengertian dan tahapan kultur jaringan, alangkah baiknya kita mengetahui sejarah inovasi dan pengembangan kultur jaringan tersebut.

Teknik kultur jaringan ini sendiri ada nan menyebutkan menggunakan teori Totipotensi nan ditemukan oleh Schleiden & Schwan pada 1838 lalu. Teknik budidaya tumbuhan secara vegetatif dengan teknik kultur jaringan ini pertama kali digunakan pada 1902 oleh Gottlieb Haberland. Teknik kultur jaringan ini digunakan oleh Gottlieb Haberland buat melakukan kultur jaringan terhadap jaringan mesofil nan ada pada daun tanaman monokotil.

Sayangnya, usaha pertama Gottlieb Haberland menggunakan teknik kultur jaringan ini gagal. Kegagalan teknik kultur jaringan nan dilakukan oleh Gottlieb Haberland ini disebabkan oleh sel-sel tumbuhan monokotil nan jadi percobaan teknik kultur jaringan ini tak mengalami pembelahan dan proliferasi, serta induksi embrio .

Meski gagal, usaha penerapan teknik kultur jaringan ini terus berkembang. Hannig sukses melakukan teknik kultur jaringan dengan melakukan penanaman embrio nan diisolasi pada tahun 1904. Kemudian pada tahun 1922, Robbin dan knudson melakukan percobaan teknik kultur jaringan secara terpisah buat usaha mengecambahkan biji anggrek buat penanaman anggrek.

Perkembangan teknik kultur jaringan ini terus berkembang pesat. Pada 1934, Gautheret mencoba melakukan teknik kultur jaringan pada tanaman perdu berkayu, sayangnya usaha tersebut gagal. Pada tahun nan sama, White melakukan teknik kultur jaringan buat pada akar tomat dan berhasil, sayangnya hal tersebut memakan waktu nan cukup lama.

Pada 1941, Overbeek menggunakan air kelapa buat melakukan teknik kultur jaringan buat menumbuhkan kultur embrio pada tanaman nan disebut dengan nama Datura. Keberhasilan penerapan kultur jaringan ini terjadi pada tahun 1948 oleh Skoog besrama rekannya, Tsui, dalam membentuk tunas dan akar adventif dari tanaman tembakau menggunakan teknik kultur jaringan.

Kemudian pada 1960, Morel sukses melakukan teknik kultur jaringan buat budidaya anggrek menggunakan teknik kultur meristem. Pada era modern seperti sekarang ini, teknik kultur jaringan ini digunakan buat perkembangan rekayasa metabolik dan genetik pada tumbuhan. Tak hanya itu, pemasaran produk dari hasil rekayasa genetik juga sudah mulai marak.



Pengertian dan Konsep Kultur Jaringan

Berdasarkan surat keterangan nan relevan saat ini, pengertian kultur jaringan ialah sebuah teknik buat membudidayakan atau memperbanyak jaringan pada suatu tumbuhan atau tanaman menjadi tanaman nan lebih kecil dan mewarisi sifat induknya. Jika dilihat dari arti per kata, kultur memiliki arti budidaya atau budaya, sedangkan jaringan dalam ilmu biologi ialah sekelompok sel nan mempunyai bentuk dan fungsi nan sama serta saling berhubungan.

Menurut Suryowinoto, teknik kultur jaringan sendiri kabarnya berasal dari dua kata dalam bahasa asing, yakni tissue culture. Secara umum, teknik kultur jaringan ialah suatu teknik atau metode buat memperbanyaktumbuhan atau tanaman secara vegetatif dengan cara mengisolasi bagian-bagian pada tumbuhan dan menumbuhkan bagian-bagian tersebut dengan metode aseptik.

Bagian nan diisolasi secara saptik tersebut nantinya akan bisa tumbuh menjadi sebuah tanaman lengkap nan mewarisi atau memiliki sifat nan sama dengan induknya. Bagian-bagian tumbuhan nan bisa digunakan dalam teknik kultur jaringan antara lain ialah mata tunas, akar, daun, dan bagian tumbuhan lainnya.



Manfaat, Kelebihan, dan Kekurangan Teknik Kultur Jaringan

Teknik kultur jaringan ini memiliki banyak kegunaan dan beberapa kelebihan. Meski demikian, bukan berarti teknik kultur jaringan ini paripurna tanpa kekurangan, teknik kultur jaringan juga memiliki kelemahan atau kekurangan. Manfaat dari teknik kultur jaringan ini ialah mampu menghasilkan tumbuhan atau tanaman nan memiliki sifat nan sama dengan induknya, hal ini juga bermanfaat buat melestarikan sifat tanaman induknya.

Teknik kultur jaringan ini mampu menghasilkan banyak tanaman baru dalam waktu nan nisbi singkat dan bebas dari penyakit serta virus . Salah satu kelebihan teknik kultur jaringan ini ialah prosesnya tak bergantung pada musim sehingga bisa dilakukan kapanpun saat diperlukan.

Tak hanya itu, teknik kultur jaringan ini juga mempu menghasilkan bibit nan banyak dan seragam. Selain itu, proses pembibitan menggunakan teknik kultur jaringan ini juga nisbi bebas dari gangguan hama. Namun, teknik kultur jaringan ini juga memiliki kekurangan, antara lain ialah biaya awal nan nisbi mahal.

Selain itu, teknik kultur jaringan ini termasuk teknik nan rumit sehingga hanya orang-orang eksklusif nan memiliki keahlian saja nan bisa melakukannya. Selain itu, bibit nan dihasilkan menggunakan teknik kultur jaringan ini diperlukan proses aklimitasi sebab sejak awal telah terbiasa dengan kondisi nan aseptik.



Macam-macam Kultur Jaringan
  1. Kultur polen, teknik ini memanfaatkan serbuk sari.
  2. Kultur protoplas nan menggunakan sel jaringan hayati pada tumbuhan.
  3. Kultur kloroplas nan menggunakan klorofil atau kloroplas buat membuat varietas tanaman baru.
  4. Kultur anter nan memanfaatkan kepala sari tumbuhan.
  5. Kultur meristem nan menggunakan jaringan tumbuhan nan masih muda, baik dari akar, daun atau batang.
  6. Kultur embrio memanfaatkan embrio buat kultur jaringan.


Tahapan Kultur Jaringan

Ada beberapa tahapan kultur jaringan . Adapun tahapan nan dimaksud ialah sebagai berikut.



1. Pemilihan Sumber Eksplan Tanaman Induk

Pada termin ini, kita akan memilih tanaman nan akan dijadikan sumber eksplan buat penerapan kultur jaringan. Tanaman sumber eksplan atau induk harus memenuhi beberapa sarat agar hasi kultur jaringan nanti memuaskan dan bisa meminimalisir kegagalan. Tanaman nan menjadi sumber eksplan harus bebas dari penyakit, hama, atau virus, serta juga harus jelas jenis dan varietasnya. Persiapan ini lebih baik dilakukan di rumah kaca.



2. Termin Inisiasi Kultur Tanaman

Tahap inisiasi kultur tanaman atau tumbuhan ini memiliki tujuan agar penerapan teknik kultur jaringan ini bebas dari gangguan mikroorganisme nan tidak diinginkan sehingga meminimalisir gangguan dan hal nan tidak diinginkan. Termin ini menggunakan istilah aseptik dan aksenik nan berarti bebas dari mikroorganisme nan tidak diinginkan.



3. Termin Sterilisasi

Tahap sterilisasi pada teknik kultur jaringan ini dilakukan dengan steril dan dilakukan di loka nan juga steril. Hal ini juga termasuk pada peralatan nan digunakan pada proses kultur jaringan nan juga harus steril. Peralatan nan digunakan selama proses harus disemprot dengan cairan antiseptik atau etanol agar menjaganya tetap steril.



4. Termin Multiplikasi

Tahap multiplikasi pada kultur jaringan ini berupa memperbanyak atau membudidayakan tanaman dengan cara melakukan penanaman eksplan pada media. Termin iniharus dilakukan dengan hati-hati agar bisa meminimalisir terjadinya kegagalan pertumbuhan eksplan tanaman atau tumbuhan.



5. Termin Pengakaran

Tahap pengakaran dalam teknik kultur jaringan ini ialah pembentukan akar pada calon tanaman nan sedang dilakukan kultur jaringan. Pembentukan akar ini krusial agar tanaman cukup kuat dan mampu bertahan hayati ketika ditempatkan di lingkungan luar.



6. Termin Aklimatisasi

Tahap aklimatisasi ini ialah termin terakhir dari proses budidaya tanaman secara vegetatif dengan menggunakan teknik kultur jaringan. Proses aklimatisasi ini dilakuklan dengan cara mengkodisikan tunas tanaman di lingkungan baru dengan media tanah nan aseptik. Jika tanaman sukses bertahan pada proses aklimatisasi ini, maka proses kultur jaringan ini dapat dikatakan sukses dan bisa dipindahkan di lingkungan luar.

Nah, itulah klarifikasi mengenai tahapan kultur jaringan. Semoga bermanfaat.