Kejayaan Aceh dan Saat Keruntuhannya

Kejayaan Aceh dan Saat Keruntuhannya

Sebelum bicara Aceh , ada baiknya kita membahas terlebih dahulu tentang Indonesia. Indonesia merupakan negara kesatuan. Negara nan memiliki berjuta pesona dan keindahan. Baik dari kebudayaan sampai pada beraneka ragam suku nan tersebar dari sabang sampai merauke. Ditinjau dari posisinya, Indonesia terletak pada 60 LU - 110 LS dan 95 BT - 141 BT. Inilah letak indonesia secara geografis.

Indonesia nan merupakan negara kepulauan, dikelilingi oleh bahari nan begitu luas. Hal inilah nan menyebabkan indonesia memiliki kekayaan alam nan begitu melimpah dari hasil lautnya. Tanahnya nan fertile menyebabkan indonesia mampu menghasilkan berbagai macam bahan pangan buat dapat mencukupi kehidupan para penghuninya, sehingga mereka dapat hayati sejahtera sampai keturunan-keturunan nan selanjutnya. Oleh karena itu, Indonesia mempunyai sebutan gemah ripah loh jinawi.

Selain itu, secara geostrategis Indonesia terletak pada jalur persimpangan dunia, sehingga banyak dilewati oleh bangsa asing. Mereka sering sekali berlalu lalang melewati negara ini.. Bangsa asing nan datang ke Indonesia, berasal dari berbagai negara nan bhineka dan dengan kebudayaan nan bervariasi. Oleh karena itulah, kebudayaan Indonesia menjadi sangat beraneka ragam, sebab sedikit banyak terpengaruh oleh kebudayaan bangsa lain nan bersinggah cukup lama di negara kita.

Berbagai macam pengaruh nan muncul tentunya ada pengaruh posiitif dan ada juga pengaruh negatif. Untuk mengantisipasi pengaruh negatif nan muncul, maka kita harus dapat mengubah pengaruh asing tersebut menjadi suatu kekuatan nan dapat dikendalikan oleh negara kita.

Pulau-Pulau di Indonesia

Pulau-pulau di Indonesia tersebar dari ujung paling barat sampai paling timur. Hingga saat ini, setidaknya Indonesia memiliki sekitar 17000 pulau, baik besar maupun kecil. Pulau besarnya seperi Pulau Sumatra, Pulau Kalimantan, Pulau Jawa, Pulau Sulawesi, dan sebagian Pulau Papua. Pulau kecilnya sangat banyak, seperti Pulau Bali, Pulau Madura dan juga beberapa kepulauan, seperti Kepulauan Maluku san Kepulauan Seribu.

Suku-Suku di Aceh

Pulau-pulau di Indonesia memiliki berbagai macam kebudayaan dan suku. Salah satu nan cukup menarik perhatian ialah Suku suku Aceh. Suku suku ini terdapat di Pulau Sumatra, khususnya di Provinsi Aceh. Lebih tepatnya provinsi ini terletak pada 2 LU - 6 LU dan 98 BT. Wilayah ini kurang lebih memiliki luas 55,0 km2.

Karena di wilayah ini temperatur udaranya berkisar antara 12 - 230C, maka di daerah ini tumbuh berbagai macam tanaman perkebunan seperti tembakau, kopi dan sayuran. Sinar matahari nan cukup, juga sangat mendukung pertumbuhan tanaman ini.

Suku ini tersebar hampir di seluruh pelosok daerah daerah, seperti kawasan kota Sabang, Kabupaten Aceh Besar, Kota Banda Aceh, Kota Langsa, Kabupaten Aceh Timur, Kabupaten Aceh Barat, Kabupaten Aceh Selatan, Kabupaten Aceh Jaya, Kabupaten Nagan Raya dan beberapa kabupaten lain disekitarnya.
Di kawasan tersebut terdapat pula berbagai macam suku, yaitu Suku Kluet, Suku Tamiang, Suku Gayo, Suku Alas, Suku Haloban, Suku Julu , Suku Devayan, Suku Sigulai dan suku Aneuk. Berikut ini merupakan beberapa informasi tentang suku - suku di Aceh :

  1. Suku kluet tersebar di sebagian Kabupaten Aceh Selatan, yaitu terbagi menjadi kecamatan Kluet Utara, Timur, Selatan dan Barat.

  2. Suku Tamiang, suku ini memiliki bahasa khas Tamiang, nan mirip seprti bahasa Melayu, suku ini khususnya tersebar di Kabupaten Aceh Tamiang, Kabupaten Aceh Timur dan Kota Langsa.

  3. Suku Gayo, memiliki bahasa khas Gayo, suku ini tersebar di wilayah Kabupaten Gayo Lues, Takengon dan Kabupaten Bener Merah.

  4. Suku Haloban, suku ini menempati kepulauan, kepulauan tersebut memiliki kabupaten nan bernama Kabupaten Aceh Singkil.

  5. Suku Julu, suku ini masih termasuk dalam bagian Suku pak pak boang dan suku ini berasal dari Sumatra Utara. Suku ini sebenarnya ialah penduduk orisinil Aceh singkil daratan dan Subulussalam.

  6. Suku Devayan, suku nan mendiami Palau Simeuleu, dimana pulau ini terbagi menjadi 5 kecamatan yaitu Kecamatan Teupah barat, Teupah Selatan, Salang, Simeulue Timur dan Simeulue Tengah.

  7. Suku Singulai, penduduknya menempati Kecamatan Simeulue Barat, Kecamatan Alafan, sebagian Kecamatan Salang, Kecamatan Teluk Dalam, dan Kecamatan Simeulue Tengah.

  8. Suku Aneuk atau lebih lengkapnya Aneuk Jamee, memiliki bahasa sehar hari bahasa Aneuk Jamee nan mirip seperti bahasa minang bila didengar. Penduduk suku ini menempati wilayah Kabupaten Aceh Selatan, yaitu di Kecamatan Labuhan Haji, Kecamatan Tapaktuan, Kecamatan Samadua, Kecamatan Kluet Utara, dan sebagian wilayah Aceh Barat Daya yaitu meliputi Kacamatan Susoh dan kecamatan Manggeng, dan beberapa lagi ada di wilayah Kabupaten Aceh Barat, meliputi Kecamatan Meureubo dan sebagian lagi ada di wilayah Kabupaten Aceh Singkil, Kabupaten Simeulue dan Kota Subulussalam.


Mengenal Seni dan Budaya Aceh

Kebudayaan juga sangat inheren erat dengan masyarakat di sana. Setiap harinya mereka selalu menggunakan bahasa nan khas yaitu bahasa Aceh, dengan pengucapan gaya nan khas. Misalkan saja suku Alas, suku Alas ini dengan jumlahnya 154 ribu penduduk. Merupakan suku orisinil dari penduduk Suku Alas nan Kabupaten Aceh Tenggara.

Sebagian besar orang Alas hayati di desa dan hayati dari bertani dan memelihara ternak. Daerah Alas dianggap sebagai lumbung padi (beras gudang) dari daerah Aceh. Produk pertanian lainnya termasuk karet, kopi, dan kemiri (bumbu lokal) serta hasil hutan lainnya seperti kayu, rotan, damar, dan dupa. Lingkungan atau desa Alas disebut Kute.

Satu Kute biasanya terdiri dari satu atau lebih marga nan disebut merge. Keluarga besar akan hayati dalam satu rumah dan tunduk kepada otoritas orang tua. Mereka ialah masyarakat patrilineal, nan berarti mereka mengukur keturunan melalui keluarga ayah.

Budaya mereka menekankan dua jenis hukum. Tipe pertama terdiri dari hukum agama nan diberikan oleh Allah dan tak bisa diubah. Tipe kedua terdiri dari hukum adat, nan mencakup anggaran nan telah dibuat oleh para pemimpin masyarakat dan bisa berubah sinkron dengan waktu.

Menyesuaikan diri dengan adat pernikahan, pertunangan berlangsung dari satu sampai tiga tahun sebab kebutuhan manusia nan harus mengusahakan mahar, dan wanita dengan harga pengantin pria. Ketika orang Alas menikah, mereka tinggal di dekat keluarga suami. Setelah mereka punya anak, keluarga muda biasanya akan bergerak dan hayati secara terpisah (jawe) dari orang tua tapi tinggal di daerah nan sama dan komunitas penggabungan.

Pernikahan poligami dibolehkan jika pernikahan itu telah menghasilkan anak laki-laki saja, perempuan saja, atau tak punya anak sama sekali (adak meu keu dueu). Umumnya, orang Alas ialah pengikut Islam, tapi mereka masih mencari donasi seorang dukun (dukun / tabib / okultis).

Mereka melakukan upacara sehingga tanaman mereka akan makmur dan dilindungi dari wabah. Dukun membaca mantra dan menggunakan ramuan ajaib dari daun dan kembang nan dianggap ampuh buat menangkal malapetaka.

Adapun terkait kesenian nan paling khas ialah Dabol dan Sama Gayo. Keduanya memiliki persamaan yaitu dimainkan oleh beberapa orang. Bedanya adalah, buat Dabol dipimpin oleh seseorang nan disebut khalifah dan diiringi irama gendang, sedangkan Sama Gayo biasanya dimainkan oleh laki-laki dan cenderung berbau kesenian, seperti seni tari dan suara.

Pengetahuan nan mereka miliki berasal dari orang tua adat, dukun dan keujuren, pengetahuan tersebut tentang hewan, tumbuhan, bagian-bagian tubuh manusia, gejala alam dan waktu. Sebagian penduduknya memeluk agama Islam, sehingga tak mempercayai adanya dewa-dewa.



Kejayaan Aceh dan Saat Keruntuhannya

Indonesia merupakan negara nan memiliki majemuk kekayaan alam dan kekayaan budaya. Salah satunya ialah wilayah Aceh, sekarang lebih dikenal dengan Nanggroe Aceh Darussalam. Aceh memiliki sejarah nan sangat kompleks dalam perjalanan pembentukan negara Republik Indonesia (RI).

Sebelum RI terbentuk, Aceh merupakan negara nan sangat kaya, yaitu pada zaman kekuasaan Sultan Iskandar Muda Meukuta Perkasa Alam pada abad ke-16. Pada masa itu, Aceh telah memiliki interaksi dagang dengan global barat, termasuk Inggris, Ottoman, dan Belanda.

Banyak negara barat nan ingin menguasai Aceh sebab tergiur dengan kekayaan dan kemakmurannya. Oleh sebab itu, sejak awal abad-16, Aceh selalu berkonflik dalam kudeta dengan negara-negara barat, di antaranya Portugal, Britania Raya (Inggris), dan Belanda. Pada akhir abad ke-18, Aceh terpaksa menyerahkan wilayahnya di Kedah dan Pulau Pinang di Semenanjung Melayu kepada Britania Raya.



1. Kesultanan Aceh

Kesultanan Aceh merupakan lanjutan dari Kesultanan Samudra Pasai nan runtuh pada abad ke-14. Ibu kota kesultanan Aceh berada di Kutaraja atau sekarang dikenal dengan Banda Aceh. Kesultanan Aceh telah mengukir sejarah nan megah pada masa lampau terutama sebab kemampuannya dalam mengembangkan pola dan sistem pendidikan militer, perjuangannya dalam mengusir penjajahan dan imperialisme bangsa Eropa di tanah Aceh, sistem pemerintahan nan teratur dan sistematik, pusat-pusat pengkajian ilmu pengetahuan nan berkembang pesat, dan kemampuannya menjalin interaksi diplomatik dengan negara lain.

Tahun 1873, Belanda menyatakan perang dengan Aceh sehingga pecahlah Perang Aceh. Awalnya, Belanda melancarkan ancaman diplomatik, tetapi tak berhasil. Kesultanan Aceh melakukan perlawanan kepada Belanda sehingga mereka gagal merebut wilayah ini. Perang kembali pecah tahun 1887, tetapi tetap gagal sebab mendapat perlawanan gigih. Tahun 1892 dan 1893, Belanda dianggap telah gagal merebut Aceh.



2. Keruntuhan Aceh

Kemudian, Belanda mengutus seorang pakar buat mempelajari Aceh. Dia bernama Dr.Christiaan Snouck Hurgronje. Snouck Hurgronje berpura-pura masuk Islam. Dia sukses mendapatkan kepercayaan dari para pemimpin Aceh.

Dia pun memberikan saran kepada Belanda buat mengarahkan agresi kepada para ulama sebab kekuatan Aceh terletak pada para ulamanya. Saran ini berhasil. Belanda sukses menguasai Aceh dengan diangkatnya Johannes Benedictus van Heutsz sebagai gubernur Aceh tahun 1898 dan merebut sebagian besar wilayah Aceh. Tahun 1903, Sultan M Dawud menyerahkan diri kepada Belanda setelah anak beserta ibunya ditangkap oleh Belanda. Tahun 1904, hampir seluruh wilayah Aceh jatuh ke tangan Belanda.