No More Saling Senggol! Kupas Tuntas Perbedaan Syiah dan Sunni Biar Pikiran Makin Terbuka

No More Saling Senggol! Kupas Tuntas Perbedaan Syiah dan Sunni Biar Pikiran Makin Terbuka

Pernah gak sih pas kalian lagi asyik scrolling di media sosial, tiba-tiba lewat video perdebatan hangat soal mazhab dalam Islam? Salah satu topik yang sering banget bikin netizen gagal paham dan berujung debat kusir adalah soal Syiah. Obrolan ini sebenernya makin ramai sejak meletusnya Revolusi Iran pada Februari 1979 silam. Momen bersejarah itu dipimpin oleh Ayatullah Khomeini, sosok yang dikenal sebagai salah satu tokoh revolusi islam paling berpengaruh di dunia karena sukses menggerakkan jutaan orang.

Sejak saat itu, banyak anak muda yang mulai kepo dan pengen tahu lebih dalam tentang dinamika ini. Tapi, biar gak gampang kemakan hoaks atau ikutan sebar kebencian, yuk kita bahas topik ini secara santai, objektif, dan tentunya tetap adem demi menjaga perdamaian dunia!

Mengenal Apa Itu Syiah Secara Objektif

Secara bahasa, kata "Syiah" itu berarti pembela atau pengikut. Mreka mendefinisikan diri sebagai kelompok yang mencintai dan membela keluarga Nabi Muhammad SAW (Ahlul Bait), khususnya Ali bin Abi Thalib. Dalam perspektif sejarah mereka, ada keyakinan bahwa kepemimpinan umat setelah Rasulullah wafat seharusnyaa jatuh ke tangan Ali bin Abi Thalib berdasarkan peristiwa di Gadir Khum.

Di tempat bernama Gadir Khum tersebut, ada sebuah riwayat yang diyakini oleh kaum Syiah sebagai isyarat penunjukan Ali sebagai pemimpin umat berikutnya. Namun, di sisi lain, mayoritas umat Muslim (Sunni) memiliki penafsiran yang berbeda mengenai peristiwa tersebut dan menganggap suksesi kepemimpinan pasca-Rasulullah lewat musyawarah adalah hal yang sah. Nah, dari sinilah awal mula adanya perbedaan Syiah dan Sunni yang kerap kita dengar sekarang.

Menilik Perkembangan Mazhab Ini dari Masa Ke Masa

Sama halnya dengan banyak pemikiran lain di dunia, dalam tubuh Syiah sendiri juga terdapat berbagai macam cabang yang berkembang sesuai sejarah kepemimpinan yang mereka ikuti. Biar gak overthinking, kita spill tipis-tipis dua aliran yang cukup populer dalam sejarah perkembangan Islam ini.

Pertama, ada Syiah Ismailiyah yang memegang garis keturunan imam ketujuh mereka. Kedua, ada Syiah Dua Belas Imam (Isna 'Asyariyyah) yang mempercayai dua belas imam, di mana mereka meyakini imam terakhir mereka, Muhammad al-Mahdi, menghilang secara misteriusss dan kelak akan kembali lagi ke dunia sebagai Imam Mahdi untuk menegakkan keadilan.

Meskipun ada banyak teori dan diskusi akademis seputar konsep keghaiban ini, hal yang paling penting untuk dipahami oleh kita sebagai generasi muda adalah menghargai sejarah perkembangan pemikiran ini tanpa harus saling menjelekkan di kolom komentar.

Akar Sejarah dan Kenapa Aliran Ini Bisa Muncul

Kalau ditarik ke belakang, munculnya polarisasi ini sebenernya dipicu oleh tensi pilitik yang cukup hangat setelah wafatnya Rasulullah SAW, terutama mulai memuncak pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan hingga masa Ali bin Abi Thalib. Bagi sebagian kelompok, ada kekecewaan mendalam terhadap konstelasi politik masa itu, sehingga mereka memfokuskan dukungan moral dan politik sepenuhnya kepada garis keturunan Ali dan Fatimah (putri Rasulullah).

Karna faktor sejarah yang panjang dan berliku ini, perbedaan tersebut perlahan-lahan merembet dari masalah politik praktis ke ranah teologi dan fikih. Tapi inget ya, memahami sejarah itu tujuannya buat memperluas wawasan, bukan buat bahan baku amunisi saling serang sesama muslim di grup WhatsApp keluarga!

Menjembatani Perbedaan Lewat Fondasi Iman yang Sama

Daripada fokus mencari celah perbedaan yang bikin kita makin jauh, mending kita fokus ke persamaan yang menyatukan. Baik Sunni maupun Syiah itu sebenernya punya fondasi keimanan yang sangat kuat pada konsep Tauhid (mengesakan Allah) dan meyakini Nabi Muhammad SAW sebagai nabi terakhir.

Di dalam ajaran Syiah, mereka mengenal konsep pokok agama yang disebut Ushuluddin (Tauhid, Keadilan Tuhan, Kenabian, Kepemimpinan, dan Hari Kiamat). Sementara di kalangan Sunni, kita sangat akrab dengan rukun iman dan rukun islam yang menjadi pedoman hidup sehari-hari. Kalau kita telaah lebih dalam, muara dari semua ajaran ini adalah mengesakan Allah yang Maha Esa dan bersaksi lewat kalimat syahadaat.

Di era digital yang serba cepat ini, menjaga toleransi umat beragama adalah kunci utama biar kita gak gampang diadu domba oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Tuhan menciptakan manusia berbeda-beda justru agar kita bisa saling mengenal, menghormati, dan berkolaborasi membuat dunia ini jadi tempat yang lebih aman dan damai. Jadi, yuk mulai sekarang kita kurangi kebiasaan jempol kita untuk mencibir, dan mari fokus menebarkan energi positif!