Jablay - Banyak Jalan Menuju Roma

Jablay - Banyak Jalan Menuju Roma

Istilah jablay diperkenalkan oleh Titi Kamal dalam filmnya nan berjudul Mendadak Dangdut. Di film tersebut jablay menjadi lagu andalan nan juga soundtrack nan di sepanjang film sering diputar. Masih menurut versi film Mendadak Dangdut, istilah jablay ialah buat menggambarkan seorang wanita nan kurang mendapatkan afeksi seorang laki-laki (bisa istri nan tidak pernah mendapatkan afeksi suami) sehingga menjadi wanita nan berbuat asusila.

Istilah tersebut memang memiliki konotasi negatif. Jablay sangat identik dengan wanita gampangan nan dapat dibayar buat tujuan kenikmatan sesaat oleh lelaki hidung belang. Saat ini, baik secara langsung maupun tak langsung, seorang wanita terutama nan masih labil (remaja- dewasa nan belum menikah) dapat terjerumus buat menjadi wanita nan dapat berbuat asusila atau jablay.

Dunia seolah berputar. Dulu dianggap tabu sekarang dianggap biasa. Dulu dianggap menakutkan sekarang dianggap menyenangkan.



Jablay - Berawal dari Lingkungan Terkecil

Mengapa seorang wanita dapat terjerumus menjadi jablay? Salah satu alasannya nan juga berperan krusial ialah sebab kurangnya hal- hal positif nan ia terima dari keluarga. Tidak ada kehangatan, interaksi tak harmonis, atau korban keretakan rumah tangga, beberapa hal tersebut dapat menjerumuskan wanita dari segala usia buat menjadi wanita penyenang laki- laki hidung belang atau jablay.

Di kota- kota besar, kita akan dengan mudah menemukan wanita-wanita penghibur mulai dari nan kelas sederhana buat profesi kecil hingga menengah, sampai wanita penghibur kelas atas buat laki-laki hidung belang nan berkantong tebal. Dalam sebuah surat kabar suatu ketika diceritakan bahwa beberapa wanita nan kerap kali menamakan dirinya jablay tersebut terpaksa melakoni hal tak pantas tersebut sebab desakan ekonomi.

Alasan klise, tapi sahih memang seperti itu. Ada lagi nan sudah tak peduli dengan masa depannya toh keluarganya sudah hancur, kenapa tidak hancur saja sekalian.

Rumahku surgaku, setidaknya ungkapan itu memang sangat benar. Ibarat sebuah pondasi keimanan, rumah ialah salah satu loka atau markas kita memendam dan melampiaskan segala sesuatu. Ia juga merupakan pondasi nan menjadi penopang kehidupan kita. Coba, saat kita penat, apa nan kita ingat? Pulang ke rumah dan bersantai.

Saat kita dirundung masalah, apa nan ingin kita lakukan? Pulang ke rumah dan berkumpul bersama keluarga. Hal itu dengan asumsi, rumah menjadi lingkungan nan kondusif.

Namun, bila kondisinya sebaliknya, kita nan ketika itu sedang galau, tidak tahu harus ke mana. Sedangkan di rumah sendiri saja, kita sepertinya sudah ditolak. Meskipun tidak dapat dijadikan pembenaran, namun itulah alasan wanita-wanita nan dibenci banyak ibu-ibu sebab berkontribusi merusak rumah tangganya dengan menjadi jablay.



Jablay Dampak Pengaruh Lingkungan

Hari gini masih perawan? Wah… ketinggalan zaman.
Satu dasa warsa nan lalu, pertanyaan di atas ialah pertanyaan nan tabu. Namun zaman sekarang pertanyaan di atas ialah hal biasa ditanyakan oleh remaja wanita. Mereka tidak berniat buat menjadi jablay. Semua berlalu begitu saja. Semua berjalan seperti air nan mengalir.

Mereka seperti terbius, tidur, dan ketika bangun mereka sudah berada di global lain. Daripada kembali ke global sebelumnya nan belum tentu menjanjikan kebahagiaan, mengapa tidak mencoba bersenang-senang di global baru. Ya, begitulah kira-kira.

Di kala-kala tertentu, mereka (wanita jablay) juga menangis, sama seperti wanita-wanita pada umumnya nan akan merasa bersalah ketika melakukan dosa. Bila kita tahu lagu Titiek Puspa berjudul Kupu-Kupu Malam, kita akan mengerti perasaan mereka.

Ibaratnya, mereka mungkin akan senang selama sehari, namun menderita selama sebulan. Atau senang sebulan, namun menderita selama setahun. Di hati kecil mereka tahu, bahwa menjalani profesi sebagai jablay bukanlah hal nan menyenangkan. Bilapun menyenangkan itu hanya semu.

Pengaruh lingkungan nan jelek memang dapat membawa seseorang pada lembah kehancuran. Jangan pernah merasa menjadi manusia nan kuat, sebab manusia pada dasarnya lemah dan mudah terpengaruh. Namun, jadilah manusia nan selalu berusaha buat menjadi kuat.



Jablay - Banyak Jalan Menuju Roma

Ingin duit cepat dalam waktu singkat dan kebetulan memiliki paras cantik? Mengapa tidak memanfaatkan kecantikan tersebut buat mengeruk uang sebanyak-banyaknya dari laki- laki tidak bertanggung jawab? Toh mereka pantas buat diperas hingga ke akar-akarnya. Begitulah kira-kira prinsip para wanita jablay.

Dalam pekerjaan nan kasat mata katanya halal, juga mungkin masih tercampur hal nan haram, jadi mengapa tidak sekalian nyemplung ke hal-hal nan berwarna hitam. Cantik dan sehat, hanya itu nan diperlukan.

Maka, jangan pernah sekalipun kita berpikir tentang hal itu. Ingatlah global ialah perhiasan dan sebaik-baiknya perhiasan ialah wanita sholehah. Itulah salah satu riwayat dalam sebuah hadits shahih. Pada hadits lain juga diriwayatkan, ketika wanita itu keluar rumah, semua setan akan mengerubutinya buat mempermalukan dirinya. Pun semisal kita bukan orang nan beragama, berbuat hal- hal seperti di atas, dapat berakibat fatal pada kesehatan.

Coba cari di mesin pencarian, berapa banyak wanita-wanita nan terserang HIV AIDS dan penyakit kelamin lainnya. Ketika cantik mereka memang dipuja, namun ketika sudah tidak ada nan dapat dipuja, mereka dibuang begitu saja. Sungguh tragis nasib para wanita nan terjerumus ke dalam global jablay .

Kata mereka nan sudah terjerumus ke dalam global jablay, sebenarnya awalnya juga merasa berdosa dan takut terjadi sesuatu nan berhubungan dengan kesehatannya. Namun, lama- lama tak peduli. Toh semua orang juga akan mati, entah itu nan berbuat baik atau tidak. Sikap apatis tersebut mengubah pola pikir mereka menjadi skeptis terhadap hal-hal nan seharusnya tak dilakukan.



Jablay - Masih Ada Waktu buat Kembali

Ada nan bilang katanya menjadi mantan wanita jablay daripada menjadi mantan wanita baik-baik. Meskipun bila boleh memilih tentu semua orang akan memilih kudus dari lahir hingga kembali lagi ke dalam tanah. Bagaimana bila sudah telanjur menjadi wanita nan sudah dicap jablay? Seburuk apapun masa lalu kita dan sesakit apapun hati kita terhadap masa lalu, kita dapat memilih jalan mana nan akan kita tempuh buat rute selanjutnya, jalan nan bertambah terjal atau jalan nan lurus.

Dengan keyakinan nan mantap bahwa Allah itu Maha Pengampun, maka kita tidak akan pernah lagi menoleh ke hal-hal nan negatif. Termasuk menjadi seorang jablay.



Jablay - Jauhi Hal-hal Negatif

Ketika seorang wanita sudah dapat lepas dari cengkraman lingkungan nan merusak, saat itulah dunianya berubah dari nol kembali. Kondisi tersebut justru sangat rentan bila si wanita nan sebelumnya pernah berada di lembah hitam atau global jablay kurang kuat dalam memegang prinsip.

Bila ingin meninggalkan global hitam seperti global jablay itu, tinggalkanlah semuanya termasuk lingkungannya. Berteman dengan penjual minyak wangi menjadi wangi, pun ketika berteman dengan penjual kayu bakar juga akan tercium baunya. Siapapun pernah berbuat salah, nan krusial ialah tak mengulangi kesalahan.

Dan bagi nan belum pernah bergumul di global hitam, jangan sekali-sekali berniat buat mencoba, walau hanya sedetik. Kita tidak pernah tahu dalam keadaan nan bagaimana kita kembali ke hadapan- Nya.