Bahaya Ghibah bagi Manusia

Bahaya Ghibah bagi Manusia

Bahaya lisan bagi manusia sangatlah mengancam jiwa. Tidak hanya bisa merusak pikiran manusia, lisan juga bisa membunuh manusia baik secara langsung maupun secara perlahan.

Tentu bila dipikir secara logika, lisan nan artinya ucapan atau perkataan dari mulut tak mungkin dapat membunuh manusia. Akan tetapi, bila dilihat dari segi moralitas dan implementasinya dalam kehidupan, lisan kenyataannya lebih tajam dari sebuah parang sekalipun.

Lisan nan pada dasarnya terletak pada lidah memang menjadi satu hal nan banyak menjadikan manusia-manusia masuk ke dalam meraka jahanam. Lidah nan merupakan kreasi Allah Swt nan menjadi salah satu nikmat dan keajaiban bagi manusia. bentuknya nan kecil tetapi menjadi besar akibatnya bagi manusia.

Ketaatan atau kedurhakaan manusia bisa dengan mudah ditentukan oleh lidah. Hal ini dikarenakan lidah menjadi salah satu anggota tubuh manusia nan menjadi saksi kunci diri manusia antara kufur dan iman di hatinya.

Sedangkan keimanan dan kekufuran manusia sendiri merupakan suatu strata paling tinggi manusia dalam hal ketaatan dan kedurhakaannya.

Dengan anggota tubuh terkecil ini, seorang manusia dapat mengungkapkan segala isi hatinya dan juga mengekspresikan perasaannya. Melalui lidah, manusia dapat meminta orang lain buat mencukupi kebutuhannya, mengungkapkan kehendaknya, dan juga membela dirinya sendiri.

Dengan lidah juga manusia dapat menghibur teman atau saudaranya, menyapa saudara-saudaranya, dan berbicara sinkron nan dikehendakinya.Disamping itu, lidah juga mampu membuat seorang manusia jatuh, terhina, atau dapat membangkitkan kembali kehormatan seseorang.

Akibat-akibat dari lidah tersebut tentu menjadi bahan renungan bagi manusia buat terus menjaga lisannya. Sebagian orang mungkin akan diam sebab tak ingin lisannya menjadi alat nan menjerumuskannya ke dalam neraka. Sebagian lagi mungkin akan terus berbicara sinkron dengan keinginan hatinya.

Memang tak ada salahnya eseorang buat tetap diam agar lisannya tak membuatnya durhaka. Namun, seseorang nan diam dan tak mengungkapkan suatu kebenaran juga merupakan suatu hal nan durhaka .

Orang diam dan tak menggunakan lisannya buat mengungkapkan kebenaran, layaknya setan bisu dan bermaksiat kepada Allah Swt. Sebaliknya, orang nan menyampaikan kebohongan atau kedustaan dengan lisannya ialah orang nan bermaksiat kepada Allah Swt dan menjadi setan berbicara.



Bentuk-bentuk Bahaya dari Lisan Kita

Seperti nan sudah dijelaskan sebelumnya, lisan merupakan sebuah hal nan bisa dengan mudah menjerumuskan manusia ke dalam neraka sekaligus bisa loka ketaatan dan kekufuran manusia. Secara umum, lisan nan berbahaya terletak pada kesalahan dalam berbicara. Bahaya dari lisan ini dapat berupa:

  1. berbohong
  2. adu domba
  3. gosip atau ghibah
  4. munafik
  5. menyombongkan diri sendiri
  6. membicarakan hal-hal nan bhatil
  7. menebarkan permusuhan
  8. menyakiti orang lain
  9. berbicara koto
  10. memperdebatkan hal-hal nan tak penting
  11. mencemarkan kehormatan orang lain

Sikap nan baik dalam menghindarkan diri kita dari bahaya lisan ialah dengan tetap beriman kepada Allah Swt. Beriman dengan bersikap diamdengan tujuan buat mengumpulkan satu tekad, lebih mengutamakan ketenangan diri, fokus pada pikiran dan hati, selalu menjaga diri dengan dzikir kepada Allah Swt, beribadah setiap waktu dan tentunya selamat dari kemudharatan nan disebabkan oleh lidah.

Dalam banyak nya bentuk-bentuk kemudharatan nan disebabkan oleh lidah, ada baiknya setiap manusia selalu mawas diri dan berhati-hati dari berbagai bentuk bahaya dari lisan tersebut.

Hal ini dikarenakan, suatu hari nanti setiap manusia akan dihisab atau diperhitungkan segala amal perbuatannya oleh Allah Swt dan akan mendapatkan balasan atas perbuatannya tersebut. Hal ini dijelaskan dalam firman Allah Swt, Al-Quran Surat Qaaf: 18 nan artinya:

“Tidak ada suatu kata nan diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas nan selalu siap (mencatat).”

Dari firman Allah Swt tersebut bisa diambil hikmahnya bahwa setiap apa-apa nan diperbuat oleh manusia, baik itu nan diucapkan oleh lisan atau mulutnya, diucapkan dalam hati, atau hanya dalam pikirannya selintas akan dicatat oleh malaikat nan selalau mengawasinya setiap saat.

Selain firman Allah dalam Al-Quran Surat Qaaf: 18 tersebut, ada firman Allah lain nan juga menerangkan mengenai bahaya dari lisan manusia, nan artinya;

“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu nan tak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (Al-Quran Surat Al-Israa`: 36)

Sama halnya dengan firman Allah Swt dalam Al-Quran Surat Qaaf: 18, dalam Surat Al-Israa: 36, Allah Swt berkata bahwa apa-apa nan didengar, dilihat, dan diketahui oleh hati nurani manusia, pada akhirnya akan dipertanggungjawabkan kelak.

Segala perbuatan manusia itu dicatat oleh malaikat nan selalu mengawasinya dan akan diminati pertanggungjawabannya. Hal inilah nan harusnya menjadi bahan renungan bagi manusia agar terus menjaga dirinya dari perbuatan maksiat, salah satunya dengan menjaga lisannya.

Dari kedua firman Allah swt nan menerangkan mengenai bahayanya lisan manusia membuktikan bahwa perhatian tentang adanya bahaya dari lisan ini memanglah suatu hal nan sangat krusial diperhatikan.

Betapa besar efek dari sebuah lisan dan perkataan nan keluar darinya, sehingga bisa menimbulkan dampak nan sangat besar pada kehidupan manusia, baik itu di global maupun di akhirat. Hal tersebut bahkan dipertegas oleh sabda Rasulullah SAW nan berbunyi;

“Sesungguhnya seorang hamba berkata, (bisa saja) dengan perkataan itu menyebabkannya terperosok ke dalam barah neraka, nan lebih jauh dari jeda antara timur dan barat.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dari hadits tersebut, tentu perkara mengenai bahaya dari lisan ini bukanlah hal nan mudah buat diabaikan. Keselamatan manusia di global dan di akhirat sangatlah bergantung pada konduite nan tercermin dalam lisannya, tentunya hal tersebut setelah seluruh ibada h manusia kepada Allah Swt terpenuhi.



Bahaya Ghibah bagi Manusia

Bagi manusia, endemi bahaya dari lisan atau lidah nan paling berbahay dan mudah sekali dilakukan oleh manusia ialah ghibah atau menggunjing. Ghibah merupakan suatu perbuatan manusia nan dilakukan dengan membicarakan hal-hal dari manusia lainnya nan tentunya tak ia sukai.

Sederhananya, ghibah ini bisa dikatakan sebagai konduite manusia nan membicarakan orang lain baik itu kekurangan pada fisik orang lain, mengenai akhlak perbuatannya, ucapannya, pakaiannya, dan lain sebagainya nan orang tersebut tak akan menyukai bila mendengarnya.

Bergunjing sendiri merupakan konduite nan haram dilakukan oleh manusia, khususnya kaum muslimin. Allah Swt berfiman, bahwa;
“…Dan janganlah ada di antara kamu nan menggunjing sebagian nan lain. Apakah ada di antara kamu nan suka memakan daging saudaranya nan sudah mati? Tentu kamu merasa jijik.…” (QS. Al-Hujuraat: 12)

Dalam firman tersebut, Allah Swt menyebutkan bahwa menggunjingkan orang lain sama halnya dengan memakan bangkai atau daging saudaranya sendiri. hal tersebut tentunya menjijikan bila dilakukan. Keburukan-keburukan dari orang lain menjadi bahan pembiacraan diri sendiri nan tentunya tak lebih kudus dari orang nan digunjingkan.

Oleh sebab itulah mengapa manusia tak dibolehkan buat saliang menggunjingkan sesamanya. Semua manusia di muka bumi ini sama dan saling bersaudara. Maka sangat tak baik jia keburukan-keburukan saudara kita menjadi bahan perbincangan kita dengan orang lainnya.

Dalam pelaksanaannya, perbuatan menggunjing ini tak sebatas pada ucapan manusia saja. Menggunjing juga dapat berupa perbuatan, isyarat dengan kedipan mata, tulisan-tulisan, sindiran, atau pun gerakan.

Pada intinya, segala sesuatu nan dilakukan dengan maksud menggunjing orang lain maka hal tersebut termasuk ke dalam perbuatan ghibah nan haram hukumnya.

Begitu besar dampak nan ditimbnulkan oleh bahaya lisan tersebut. sudah sepantasnya kita sebagai manusia memohon kepada Allah Swt buat menyucikan lidah-lidah kita dari segala bahaya nan ditimbulkannya.Memohon kepada Allah Swt buat menjadikan lidah kita ini selalu dalam ketaatan kepada-Nya.