Kata-kata Latif nan Indah

Kata-kata Latif nan Indah

Seorang kakek selalu memberikan kata-kata latif cinta berupa pertanyaan, "Bagaimana kabarmu hari ini?" kepada sang nenek. Kalimat seperti itu selalu diucapkannya setiap hari. Padahal, si kakek juga sudah tahu keadaan nenek sebab mereka tinggal serumah. Namun, terasa ada nan kurang bila si kakek tidak memberikan kata-kata latif cinta berupa pertanyaan sederhana tersebut.



Kata-kata Latif nan Indah

Romantisme nan dimiliki oleh dua sejoli tidak tidak lagi muda itu mungkin tidak seindah kata-kata nan diucapkan oleh anak muda nan sedang dimabuk asmara. Namun, semua juga setuju bila dibilang, cinta kakek dan nenek itu sudah teruji dan lebih berarti.

Di belahan bumi lainnya, ada sepasang suami istri nan sudah menikah cukup lama. Sejak awal menikah hingga sekarang, sang suami tidak pernah memberikan kata-kata latif cinta. Ketika sang istri meminta suaminya buat memberikan sekali saja kata-kata latif cinta pada dirinya, sang suami tak mau memenuhinya dengan alasan apa nan ia lakukan sudah menunjukkan bahwa ia mencintai istrinya.

Namun ternyata, hal itu tidak cukup bagi sang istri. Apalagi ketika sang istri membanding-bandingkan kehidupan rumah tangganya dengan rumah tangga sahabatnya, ia jadi merasa semakin rendah diri. Suami sahabatnya selalu memberikan kata-kata latif cinta kepada sahabatnya tersebut. Sungguh berbeda dengan dirinya. Padahal, sang istri tersebut bukanlah termasuk istri nan cengeng nan haus akan pujian suami.

Namun, sebagai wanita apalagi istri ialah wajar bila ia ingin suaminya sesekali mengatakan kata-kata latif cinta. Adalah wajar juga ketika hatinya iri melihat sahabatnya diperlakukan seperti puteri kerajaan oleh suaminya. Sejak hari itu, sang istri membenci suaminya. Ia menganggap suaminya tidak mencintainya lagi. Ia juga merasa sebagai wanita paling malang di dunia.

Hingga suatu ketika, sang suami meninggal. Sang suami tersebut meninggalkan surat wasiat kepada istrinya, sebuah surat wasiat nan tidak disangka dan tidak diduga. Sang suami mengatakan bahwa ia bukanlah seorang laki-laki nan pandai bicara. Ia juga tak dapat memberikan istrinya kata-kata latif cinta. Mulutnya terasa kaku ketika harus mengatakan "Aku cinta padamu" kepada sang istri. Yang ia dapat lakukan hanyalah memberikan nan terbaik untuk sang istri dan anaknya.

Sang suami mengikuti asuransi jiwa sebab ia tahu usianya tidak lama lagi dampak penyakit kanker nan ia derita. Sang suami juga mengatasnamakan nama istrinya terhadap semua mal nan ia miliki agar ketika ia meninggal, sang istri tak kesusahan. Pokoknya, semua nan ia miliki itu atas nama istrinya. Perihal sang suami tak pernah menceritakan bahwa dia sakit kanker itu lantaran dia tidak mau istrinya menderita.

Setelah sang istri mengetahui semua kebenarannya, sang istri menyesal sebab detik-detik terakhir suaminya akan meninggal ia lalui dengan penuh kebencian pada suaminya. Kebencian dengan alasan nan tak masuk akal. Sang istri baru menyadari bahwa tidak ada laki-laki (selain ayahnya) nan dapat mencintainya sedemikian rupa selain suaminya. Kata-kata latif cinta tidak harus diungkapkan secara nyata.

Dua kisah di atas ialah kisah konkret tentang bagaimana hakikat dari kata-kata latif cinta. Banyak nan salah dalam memahami kata-kata latif cinta. Mereka menganggap setelah "I love you" atau nan sejenis, maka perkara lain habis sudah. Banyak juga nan salah dalam beropini bahwa bila pasangan sporadis mengatakan hal tersebut itu artinya tak cinta.

Memang, sebagai manusia ialah wajar bila kita menginginkan orang nan kita cintai mengeluarkan kata-kata latif cinta . Kita juga sering membanding-bandingkan pasangan kita walau mungkin dalam hati saja, dengan pasangan teman atau saudara kita. Akibatnya, kita menggerutu sendiri. Misalnya, "Kok suamiku gak pernah bilang gitu ya!""Ehm.... seandainya suamiku bilang gitu!""Ah, beruntung sekali si Fulan sebab suaminya begitu romantis!", dll

Dalam sebuah hadits dikatakan bahwa sebagai seorang wanita (istri) hendaknya kita harus sering-sering bersedekah dan mengucapkan istighfar. Kenapa? Karena ternyata penghuni neraka kebanyakan ialah wanita. Kenapa wanita nan paling banyak masuk neraka? Karena banyak wanita nan sering lupa dengan kebaikan nan diberikan oleh suami. Ketika suami selalu memberikan hal-hal nan baik, lalu sesekali suami khilaf dan memberikan nan tak baik, maka dengan entengnya banyak istri nan berkata bahwa suaminya tidak pernah berbuat baik kepada dirinya walau hanya sekali.

Dan mungkin membanding-bandingkan pasangan kita dengan pasangan sahabat kita ialah salah satu bentuk dari kurangnya rasa syukur. Memang, salah satu nan membuat rumah tangga menjadi retak ialah ketika suami atau istri tidak lagi dapat mengungkapkan kata-kata latif cinta. Atau dengan istilah lain tidak ada penghargaan. Di sisi lain, pasangan nan lainnya begitu sensitif dan kurang berwawasan luas. Ketika tidak ada satupun di antara keduanya nan dapat menerima apa adanya, maka timbullah konflik nan berakibat pada perpecahan rumah tangga.

Beberapa hal nan dapat kita lakukan sebagai istri berkaitan dengan hal tersebut adalah:



1. Jangan cengeng

Sifat dasar wanita memang lembut. Namun, lembut tak berarti cengeng. Bila mungkin pasangan kita kurang dapat memberikan kata-kata latif cinta jangan menuntutnya terus menerus sebab hal itu hanya akan membuat jengah. Teruslah berpikiran positif sebab hanya pikiran positiflah nan dapat membuat kita bahagia.



2. Sering-seringlah membaca kisah-kisah ketegaran seorang wanita

Bisa jadi seorang istri menjadi cengeng sebab buku bacaannya juga cengeng atau melow. Itu sebabnya, lebih baik ubah buku bacaan dan film nan biasanya kita tonton. Buku-buku tentang ketegaran seorang wanita misalnya atau tentang perjuangan seorang wanita. Biasanya buku-buku nan sifatnya tentang perjuangan dan ketegaran juga akan membuat kita tegar dan kuat. Bukan sebaliknya.



3. Jangan membandingkan

Seperti pada contoh di atas, sang istri tak senang sebab ia selalu membanding-bandingkan kehidupan rumah tangganya dengan rumah tangga temannya. Jangan membandingkan kenapa suami sahabat kita suka sekali memberikan kata-kata latif cinta pada sahabat kita dan kenapa suami kita tidak.

Ingatlah bahwa setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Sesungguhnya sang Maha Pencipta sudah mendesain dan memasangkan dengan begitu latif dan baik. Kunci motor bila dipergunakan buat mengunci mobil atau rumah juga tak akan bisa. Mungkin dengan karakter kita nan seperti ini, kita cocok mendapatkan suami nan seperti suami kita. Begitu pula sebaliknya.



4. Carilah kesibukan nan positif

Teman nan positif akan membuat kita positif. Sama halnya dengan kesibukan. Kesibukan nan positif juga akan membuat kita positif dan produktif. Jadi, kenapa tidak dicoba saja. Daripada menuntut pasangan ini dan itu, lebih baik kita menggeluti hal-hal positif. Biasanya, suami akan lebih bersimpati dengan istrinya nan lembut, tapi berdikari daripada nan lembut, tapi cengeng dan ingin selalu diperhatikan. Buktikan saja sendiri.

Kata-kata latif cinta memang dapat merekatkan interaksi dua orang berbeda jenis nan sudah menikah. Namun, ada kalanya pasangan tidak dapat mengungkapkannya. Jangan langsung cepat menuduh dan membandingkan. Bila memang pasangan kita tak dapat berkata-kata, kitalah nan harus mengajarinya secara tak langsung dengan memulainya terlebih dahulu.