Macam-Macam Imunisasi

Macam-Macam Imunisasi

Secara generik Indonesia sudah dinyatakan bebas polio. Namun penyakit ini kembali mencuat sebab berbagai sebab. Selain faktor gizi dan semakin menipisnya lapisan ozon, minimnya pengetahuan ibu tentang imunisasi telah menyebabkan kasus polio terjadi lagi. Karena itulah pengetahuan ibu tentang imunisasi ini semakin dilecut lagi, posyandu pun tak semata loka penimbangan bayi dan pemberian vitamin tambahan, melainkan menjadi arena pengenalan dan peningkatan pengetahuan ibu tentang imunisasi.

Semestinya masalah imunisasi bukan lagi persoalan, sebab setiap badan dan rumah sakit, demikian pula di posyandu, senantiasa dicatatkan tentang aplikasi imunisasi ini. Imunisasi dapat dilakukan di bidan, puskesmas maupun rumah sakit dan dapat didapat dengan gratis. Mungkin sebab perdeo inilah kemudian seiring dengan perkembangan waktu, imunisasi sudah dianggap sebagai sesuatu nan biasa dan bukan menjadi kepentingan sebab menyangkut keselamatan dan kesehatan bayi khususnya dan umumnya anak-anak.

Dengan munculnya berbagai warta tentang kasus mencuatnya kembali penyakit polio, menjadi pekerjaan rumah bagi para petugas kesehatan terutama dalam hal mempormulasikan informasi agar tak dianggap sebagai sesuatu nan biasa-biasa lagi.

Kebanyakan masyarakat memang menganggap tak begitu krusial sesuatu nan telah menjadi kebiasaan. Baru merasa perlu dan dianggap krusial ketika terjadi sesuatu nan mengancam ketentraman dan keselamatannya. Tentu saja kenyataan seperti ini akan sangat merugikan terutama dalam mewujudkan masyarakat Indonesia nan sehat.



Efek Samping Imunisasi

Adakah imbas samping imunisasi? Ada tapi mungkin kecil. Namun, orang tua di Amerika dan beberapa negara lain mensinyalir bahwa imunisasi, terutama MMR (Mumps, Measles, Rubella), merupakan penyebab adanya epidemi autisme. Hal ini terbukti secara empirik walaupun secara ilmiah belum terbukti kebenarannya. Salah satu kesaksian di Oprah Winfrey mengatakan bahwa anaknya terlahir normal dan sangat sehat.

Perkembangan anak tersebut juga pesat dan tidak kurang apapun. Namun, setelah melakukan imunisasi MMR, terjadilah beberapa hal aneh. Anaknya mulai sulit diajak berkomunikasi. Terlihatnya agresivitas nan sangat berlebihan. Untuk mengatasi hal tersebut, anak itu harus diet beberapa jenis makanan, terutama nan berasal dari gandum. Teknik belajar spesifik buat anak-anak penyandang autisme pun akhirnya harus dijalani.

Selain kasus tersebut, adanya anak nan sakit panas, bahkan meninggal global setelah diberi imunisasi juga akhirnya membuat sebagian ibu malas buat memberikan imunisasi bagi bayinya. Imunisasi nan merupakan tindakan pemberian kekebalan terhadap agresi penyakit eksklusif dengan jalan memasukkan suatu zat antibodi ke dalam tubuh memang kadang menyebabkan reaksi tubuh, seperti panas dan rasa mual.

Tentu saja harus pula dijelaskan secara lebih detail bahwa imunisasi diberikan kepada anak nan sehat buat mencegah suatu penyakit eksklusif di masa nan akan datang. Tidak dapat dipungkiri dampak pemberian zat antibodi ini tubuhpun memberikan reaksi nan beragam, sinkron dengan keadaan dan kondisi masing-masing bayi, mulai dari demam, muntah bahkan ada nan muncul bintik-bintik merah di kulit.

Pada dasarnya zat antibodi nan disuntikkan kepada bayi tersebut berasal dari kuman penyakit nan sama nan telah dilemahkan, dimaksudkan buat melawan penyakit tersebut secara alami. Karena itulah reaksi tubuh bayi dan anak-anak pun majemuk dalam menanggapi kehadiran zat asing di dalam tubuhnya tersebut.



Macam-Macam Imunisasi

Bagaimanapun, imunisasi ialah sal satu cara mencegah banyak penyakit menular. Para ibu sebaiknya tahu apa dan kapan memberikan imunisasi kepada anaknya, mulai usia 0 hingga usia anak menginjak remaja. Berikut ini ialah imunisasi nan dapat diberikan kepada seorang anak.

  1. Imunisasi polio diberikan kepada anak mulai usia 0-6 bulan. Cara pemberiannya melalui mulut sebanyak 3 tetes.
  2. Usia 6-8 bulan diberikan imunisasi difteri, tetanus, dan batuk rejan.

Kedua imunisasi tersebut diberikan secara bergantian. Selain kedua imunisasi itu, ada pula imunisasi hepatitis. Untuk nan satu ini, harganya memang masih mahal. Namun, sepertinya pemerintah telah memberikan subsidi cukup besar agar penyebaran virus hepatitis bisa ditekan.

Ketika anak berusia 10-13 tahun, berikan imunisisasi tuberculosis . Penyebaran TBC memang agak menakutkan di beberapa loka Indonesia. Sampai beberapa tahun terakhir nan terkena penyakit TBC nan terjadi pada masyarakat Indonesia termasuk masih tinggi. Karena itulah pemerintah melalui Dinas Kesehatan menyediakan pengobatan perdeo TBC sampai sembuh selama kurang lebih enam bulan.

Salah karena penyakit TBC masih menjadi penyakit menular nan tinggi ialah sebab penderita nan telah dinyatakan positif mengidap TBC enggan mengobatinya secara tuntas selama minimal 6 bulan tersebut. Dapat dibayangkan betapa akan sengat membosankan bahkan mungkin merasa malu, harus monoton datang ke Puskesmas atau Rumah Sakit buat mengobati TBC padahal tubuhnya sudah merasa enak.

Setelah anak berusia 13-14 tahun, spesifik anak wanita, bisa diberikan imunisasi campak jerman. Penyakit campak dalam berbagai bentuknya juga termasuk penyakit nan sering dialami oleh masyarakat Indonesia, dengan berbagai sebab. Pengobatan nan tak tepat terhadap penyakit campak juga menyebabkan penyakit ini menjadi tahan terhadap beberapa antibodi.

Disamping itu ada nan juga asumsi galat di masyarakat bahwa penyakit campak ialah penyakit sebab roh halus, sehingga pengobatannya memerlukan cara-cara irasional seperti telanjang bulat kemudian sekujur tubuhnya dicambuk dengan sapu lidi. Ada pula di masyarakat eksklusif mengobati penyakit campak ini dengan cara diberi air doa nan harus dipakai mandi dan diminum.

Memang tak galat bahwa menghadapi berbagai macam penyakit langkah primer ialah meminta doa kepada Allah SWT buat kesembuhan penyakit, setelah itu baru dilakukan cara-cara nan sinkron dengan langkah-langkah medis. Langkah medis perlu dilakukan sebab telah ditemukan bentuk-bentuk pengobatan buat berbagai macam penyakit nan bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Gabungan antara doa dan tindakan medis inilah nan akan mempercepat kesembuhan penyakit. Begitu pula semestinay dilakukan saat ada seorang anak atau remaja nan terkena penyakit campak.

Campak jerman memang tak terlalu bahaya dan bisa sembuh dengan sendirinya bila imun tubuh bagus. Namun, virus ini menjadi sangat berbahaya ketika menulari ibu nan sedang hamil. Virus campak ini bisa menyebabkan kecacatan pada bayi. Untuk imunisasi MMR, bila masih meragukan imunisasi nan satu ini, sebaiknya tak dilakukan. Selain harganya nan masih mahal, imbas sampingnya cukup seram.

Pengetahuan ibu tentang imunisasi memang sangat diperlukan terutama buat mendapat informasi nan benar. Sebuah informasi nan sahih dapat saja menjadi tak sahih ketika informasi tersebut disampikan secara tak tepat, menggunakan media nan tak tepat dengan penyampai informasi nan tak atau belum teruji.

Bias di dalam komunikasi memang sesuatu nan alami, tapi dapat ditekan sedemikian rupa dengan senantiasa memperhatikan pola komunikasi, komunikator dan tentu saja memperhatikan dan memilih media nan tepat.

Kenyataan membuktikan bahwa banyak ibu nan tak memiliki pengetahuan nan baik tentang imunisasi, penyebabnya tak hanya sebab rendahnya latar belakang pendidikan, melainkan sebab galat dalam penyampaian informasi. Hal ini tentu saja harus menjadi perhatian para petugas kesehata, agar biaya nan tak sedikit buat mengkampanyekan imunisasi itu tak sia-sia.