Penyakit-penyakit pada Tanaman Cabai nan Sering Menyerang

Penyakit-penyakit pada Tanaman Cabai nan Sering Menyerang

Tahukah Anda penyakit pada tanaman cabai ? Ada berapa banyak jenis penyakit pada tanaman cabai? Cabai ialah salah satu bahan kuliner nan dibutuhkan oleh hampir seluruh orang di muka bumi ini. Apalagi bagi masyarakat Indonesia nan getol kuliner bercita rasa pedas, maka cabe ialah bahan nan bisa diolah menjadi bumbu dasar majemuk menu masakan. Alhasil, permintaan cabai di pasaran akan semakin meningkat.

Tingginya permintaan cabai di pasaran memang menguntungkan bagi para petani cabai. Namun, hal itu terasa menguntungkan apabila cabai nan ditanam sukses dipanen dengan kualitas cabai nan baik dan dapat dijual ke pasar dalam negeri maupun di ekspor ke luar negeri. Permasalahannya ialah ketika petani cabai harus berhadapan dengan kondisi gagal panen. Kualitas cabai nan dihasilkan jelek dampak adanya penyakit pada cabai tersebut.



Penyakit-penyakit pada Tanaman Cabai nan Sering Menyerang

Memang, sekilas menanam cabai terbilang mudah. Namun, bila dilakukan dalam jumlah besar, tantangan akan hama dan penyakit pada cabai semakin besar dan semakin merugikan petani . Bila tak diatasi, bisa-bisa kesejahteraan petani akan merosot, ketersediaan cabai di pasaran menipis, dan pada akhirnya berpengaruh pada harga cabai nan akan melonjak drastis.

Oleh sebab itu, petani cabai harus tahu penyakit seperti apa nan sering menyerang tanaman cabai dan jenis hama seperti apa nan dapat merusak kualitas tanaman cabai itu sendiri. Sebagai informasi, berikut penyakit-penyakit nan generik menyerang tanaman cabai.



1. Phytopora atau Penyakit Busuk pada Tanaman Cabai

Banyak petani mengeluhkan tanaman cabainya nan tiba-tiba membusuk. Padahal frekuensi penyiraman dan pemberian pupuk telah dilakukan dengan teratur. Tanpa disadari petani, busuknya tanaman cabai nan mereka keluhkan dikarenakan penyakit busuk phytopora . Gejala penyakit ini ditandai dengan adanya bintik atau bercak cokelat kehitaman pada buah, batang atau daun tanaman cabai. Bercak tersebut lama-kelamaan akan semakin pekat dan akhirnya membusuk.

Untuk mengatasi penyakit busuk phytopora agar tak meluas, perlu dilakukan tindakan penyemprotan fungisida. Fungisida nan dibutuhkan ialah fungisida dengan fungisida Kocide 77 wp dengan takaran 1,5-3 kg/ hektar. Lalu, bergantian dengan fungisida Victory 80 WP bertakaran 2-4 gram per liter dikombinasikan dengan fungisida sistemik Starmyl 25 wp bertakaran 0,8-1 gram per liter.



2. Penyakit Cendawan Cerocospora Capsici

Ternyata bukan makanan saja nan dapat bercendawan, tanaman cabai pun ternyata dapat bercendawan. Cendawan pada cabai disebabkan oleh jamur homogen cerocospora capsici . Gejala penyakit nan menyerang cabai ini ditandai dengan bercak nan berbentuk cincin berwarna cokelat kehitaman pada bagian tepinya dan putih pada bagian tengahnya.

Sebelum gejala seperti ini menyerang tanaman cabai, sebaiknya lakukan langkah pencegahan dini dengan cara melakukan penyemprotan fungisida. Cairan fungisida nan dibutuhkan ialah jenis Kicide 54 WDG dengan kosentrasi 1,5-3 gram/liter dan dikombinasikan secara bergantian dengan fungisida Victory 80 WP berkosentrasi 2-4 gram/liter dengan interval per tujuh hari.



3. Penyakit Virus Gemini

Penyakit virus Gemini atau nan dikenal dengan penyakit virus kuning ini ialah virus nan dibawa oleh serangga homogen kutu (di kalangan petani diberi nama kutu kebul). Kutu akan menempel pada bagian bawah daun sampai kutu bertelur dan meninggalkan telurnya di lapisan bawah daun.

Fase telur kutu mencapai tujuh hari hingga akhirnya menetas dan berbentuk serangga mikro bertungkai nan digunakannya sebagai kaki buat merangkak pada seluruh bagian tanaman selama 2-6 hari. Lama kelamaan, serangga akan membesar membentuk pupa bulat telur nan agak pipih, berwarna putih kekuning-kuningan, dan paling bahagia menggerogoti bagian bawah daun cabai.

Pupa hanya sanggup bertahan hingga 6 hari dan bertumbuh menjadi serangga dewasa/kutu berukuruan kecil berwarna putih dan mudah terlihat oleh mata telanjang pada bagian permukaan daun. Kutu ini bisa bertahan hayati selama 20-38 hari.

Adapun gejala nan ditimbulkan dampak virus Gemini ini ialah daun cabai akan mengeriting dan bahkan akhirnya bergelung serta ukuran cabai jauh lebih kecil daripada umumnya. Sampai saat ini, penyakit nan disebabkan oleh virus Gemini ini belum ada tersedia pestisidanya.

Namun cara penanggulangannya nan perlu dilakukan ialah dengan cara memgubah bibit cabai nan lebih baik lagi (Misalnya cabai keriting Bukittinggi nan terkenal jauh lebih kuat dari agresi hama dan penyakit), penggiliran tanaman, dan menanam tanaman cabai dengan jeda nan agak berjauhan. Bila kondisi kutunya telah parah, langkah nan paling tepat dilakukan ialah membakar atau mencabut akar tanaman tersebut.



4. Penyakit Rebah Semai

Penyakit rebah semai atau dumping off terjadi ketika persemaian tanaman dilakukan. Penyebabnya ialah jamur Phytium sp . Tindakan penanggulangan nan harus dilakukan para petani cabai apabila mendapati tanaman cabainya mengalami rebah semai adalah melakukan penyemprotan fungisida saat proses persemaian dan pindah tanam. Untuk fungisida nan dibutuhkan ialah fungisida jenis Starmyl 25 WP dengan kosentrasi 0,5-1 gram/liter dan Saromyl 35 SD.



5. Penyakit Antrchnose Buah

Penyakit antrchnose buah hampir sama nan terjadi padapenyakit busuk phytopora . Pada awalnya, penyakit ini tak menunjukkan gejala-gejala nan berarti. Hanya saja bila dilihat secara saksama, rona buah cabai akan terlihat lebih mengkilap. Baru lama-kelamaan muncul bercak hitam satu per satu sampai akhirnya meluas dan membuat tanaman cabai busuk.

Untuk penanggulanagn penyakit antrachnose ini, para petani biasanya melakukan penyemprotan fungi seperti pada penyakit- penyakit tanaman cabai lainnya. Untuk membasmi penyakit antrchnose, dibutuhkan fungisida Kocide 54 WDG dengan kosentrasi 1-2 gram/liter air dan dikombinasikan secara bergantian dengan fungisida Victory 80 wp dengan kosentarsi 1-2 gram/ liter air.



6. Penyakit Layu Furasium

Untuk tanaman cabai nan tengah memasuki fase generatif, penyakit layu furasium sering kali menyerang. Layu tanpa karena nan jelas ini lama kelamaan akan membuat tanaman cabai layu dan mati. Untuk penanggulangannya, perlu dilakukan dengan cara penyemprotan fungisida jenis Kocide 77WP pada lubang tanaman dengan dosis 5 gram/ liter per lima tanaman. Penyemprotan bisa dimulai saat tanaman cabai menjelang berbunga dengan interval waktu penyemprotan 10-14 hari.



Hama pada Tanaman Cabai

Hama ialah musuh bebuyutannya para petani. Tidak sedikit petani nan dibuat kesal dengan adanya hama nan kerap merusak habis tanaman mereka. Apalagi bila jumlah hama nan begitu banyak dan sulit dibasmi. Untuk tanaman cabai sendiri, hama-hama nan paling sering menyerang ialah sebagai berikut.

  1. Lalat buah ( bactrocera dorsalis ). Lalat buah seringkali merusak tanaman cabai. Teknisnya, lalat buah akan menempel pada buah cabai dan menusukkan ovipositornya serta telurnya. Nantinya, telur akan menetas menjadi larva dan menggerogoti daging cabai dari dalam.
  1. Thrips. Nah, ini dia rajanya hama cabai nan paling dibenci petani. Thrips ialah serangga berukuran snagat kecil (kira-kira 1mm) namun kemampuannya menggerogoti daun muda dan bunga. Bahkan, thrips juga meninggalkan virus penyakit nan berbahaya buat tanaman cabai.
  1. Ulat Grayak. Ulat Grayak homogen ngengat nan sangat rakus melahap daun-daun cabai. Hanya dalam waktu singkat, daun-daun cabai bolong-bolong, rusak, dan akhirnya layu/mati.
  1. Hama Mite. Hama Mite ialah hama nan mengisap cairan daun sehingga rona daun akan menguning. Bentuknya menggelung ke bawah dan akhirnya membuat pucuknya mengering dan layu.

Itulah beberapa jenis penyakit pada tanaman cabai nan paling sering terjadi berikut pula hama nan paling sering ditemukan para petani. Semoga para petani senantiasa bersemangat membasmi penyakit dan hama tersebut.