Kitab Islam di Indonesia

Kitab Islam di Indonesia



Belajar dari Yang Alim

Ketika seorang ulama meninggal dunia, sebenarnya bukan hanya satu jiwa nan telah pergi. Tetapi nan lebih krusial ialah keilmuannya juag hilang. Apalagi kalau tak ada penerus nan mempunyai keilmuan nan menyamai ulama nan mati tersebut. Ulama ialah pewaris nabi. Beliau ialah seseorang nan menjadi acum bagi banyak orang. Ketika ia meninggal, maka masyarakat kehilangan sosok nan dapat diharapkan mampu memberikan kedamaian hati.

Sulit buat menemukan sosok nan begitu hebat seperti Imam Ghazali, Ibnu Khaldun, dan para penulis hebat yang alim lainnya. Mereka tak hanya alim, mereka mempunyai kemampuan dan ketrampilan dalam bidang lain. Ibu Khaldun merupakan salah satu sosok nan cukup mempengaruhi pemikiran seorang gubernur Jawa Barat nan baru saja terpilih, Aher. Kata-kata Ibnu Khaldun mampu memberikan semangat kepada Aher buat mencalonkan diri lagi.

Seseorang itu akan lebih bermanfaat ketika ia mempunyai status sosial nan lebih tinggi. Ketika seseorang nan biasa saja mengatakan sesuatu nan baik, kemaslahatannya akan kalah dengan seseorang nan mempunyai status lebih tinggi dan ia pun berbuat baik. Imbas inilah nan membuat orang baik ingin mendapatkan jabatan. Jabatan itu akan digunakan buat terus memberikan kemaslahatan bagi banyak orang. Inilah salah satu pengaruh kitab nan dibaca oleh seseorang.

Selain Ibnu Khaldun, ada jug aIbnu Qoyyim. Beliau mengatakan bahwa satu maksiat menumbuhkan maksiat lain. Orang nan melakukan kejahatan akan terus melakukan kejahatan nan sama bahkan akan semakin meningkat frekwensinya hingga ia tak lagi mengenal kebaikan. Sebaliknya, seseorang nan melakukan kebaikan, akan merasa sangat ingin melakukan kebaikan lainnya hingga ia merasa tak hayati tanpa melakukan kebaikan.

Bahwa pengetahuan orang itu akan mempengaruhi caranya memandang hayati dan caranya memperlakukan dirinya dan orang lain. Orang nan tahu dan mau menjalankan ilmu nan ia ketahui, akan menjelma menjadi seseorang nan hebat dalam hal kebaikan. Tidak akan dilangkahkannya kakinya ke loka nan akan membawa kemaksiatan bagi dirinya. Ia akan ikhlas menerima fenomena nan terjadi padanya. Tanpa rasa ikhlas itu, ia tahu bahwa hatinya akan menjadi keras dan ia tak akan merasa bahagia.

Seorang istri nan dijanjikan kebaikan oleh suaminya, percaya kepada apa nan dikatakan oleh laki-laki nan telah berusaha sebaik mungkin menjadi seorang suami terbaik. Ia memang belum mampu memberikan nan dibutuhkan oleh istrinya. Tetapi paling tak ia akan berusaha menggunakan semua kekuatan nan ia punya buat membahagiakan istrinya. Dari mana seorang laki-laki biasa mampu berpikir seperti ini kalau bukan dari pengetahuan nan telah ia dapatkan.

Mencari ilmu itu tak boleh hanya kepada orang sembarangan. Berbeda ketika telah mempunyai ilmu nan mapan, maka boleh saja berdiskusi dengan siapapun. Tetapi kalau baru pada termin belajar, maka merupakan suatu kemutlakan mencari guru nan baik dan alim agar pembentukan karakter itu menjadi baik dan tumbuh sinkron dengan keimanan dan ketaqwaan. Tidak boleh asal dalam mencari guru. Pengetahuan ialah satu kekuatan nan dapat menghancurkan jiwa, raga, dan seluruh isi dunia.

Guru nan alim dan baik tak akan sembarangan dalam memberikan pedagogi kepada murid-muridnya. Pengaruh seorang guru juga pengaruh dari kitab nan sang guru baca. Inilah pentingnya mengetahui tentang kitab apa saja nan baik nan boleh dibaca dan menjadi pegangan nan baik.



Sumber Ilmu

Kitab atau buku Islam banyak merekam berbagai pengetahuan karya para ilmuwan dan ulama Muslim. Merupakan khazanah intelektual Islam nan berpengaruh pada perkembangan ilmu agama Islam. Khususnya ilmu-ilmu fiqih, kumpulan hadits-hadits, tafsir al-Quran, buku-buku aqidah, dan sebagainya. Kitab itu kini memang memasuki global digital. Namun, kekuatan kitab ini tetap ada dan harus dipelajari dengan saksama.

Berbagai kitab agama Islam banyak dipelajari di pesantren atau madrasah di seluruh belahan dunia. Istilah pesantren sendiri hanya berlaku bagi kaum Muslimin di Nusantara. Sebagai forum pendidikan orisinil Indonesia. Bentuk tradisi pesantren tak ditemukan dalam tradisi-tradisi pendidikan di negara lain. Inilah nan memberikan rona tersendiri dalam perkembangan pendidikan di Indonesia. Bahkan ada istilah pesantren modern dan pesantren tradisional. Kitab nan dibaca pun berbeda sinkron dengan jenis pesantrennya.

Santri ialah istilah buat peserta didik di lingkungan pesantren. Mereka setiap hari mempelajari kitab kitab Islam dengan tekun. Dipelajari juga berbagai ilmu pendukung agar mampu mempelajari kitab-kitab tersebut, yaki berbagai ilmu bahasa atau ilmu gramatika bahasa Arab. Ilmu perangkat bahasa itu, banyak merujuk pada ilmu nahwu dan ilmu sharaf sebagai pintu masuk. Bahasa Arab harus dipahami dengan baik agar memiliki kemampuan buat membaca, menganalisi, dan memahami isi kandungan dalam kitab tersebut.

Kitab Gundul
Kitab kitab Islam banyak ditulis dan dicetak tanpa harakat atau syakl. Syakl ialah istilah buat tanda baca atau baris dalam tulisan bahasa Arab. Kitab nan ditulis dengan mengunakan bahasa Arab tanpa tanda baris atau berbentuk huruf-huruf nan gundul. Maka disebut dengan “Kitab Gundul”.

Pada masa sekarang. Pengetahuan ilmu Islam banyak ditulis dan dicetak dengan menggunakan kertas berkualitas. Tulisan huruf Arab telah banyak menggunakan tanda baca. Perubahan ini dilakukan buat memudahkan umat Islam dalam mempelajari agamanya. Secara fisik kitab berubah, didesain dengan baik dan berjilid istimewa.


Di daerah Timur Tengah, kitab agama Islam dikenal dengan istilah al-kutub al-qadamiyyah, atau kitab-kitab klasik. Pengistilahan ini digunakan buat membedakannya dengan kitab-kitab nan ditulis pada masa modern, atau al-kutub al-asriyyah.

Kitab itu menjadi satu tuntunan nan baik. Namun, ketika ada nan berpendapat bahwa ada kitab nan memberikan pelajaran bagaimana menjadi kebal, hal ini tentunya bukan merupakan ajaran Islam. Kalau ada nan mengatakan bahwa satu pesantren dapat membuat santrinya tahan api, maka pesantren itu telah mengajarkan sesuatu nan tak benar. Rasulullah saja pernah terluka, bagaimana mungkin ada umatnya nan tak terluka ketika disabet pedang. Jangan terpedaya oleh setan nan berusaha menjerumuskan manusia ke dalam kesesatan.

Yang diajarkan di pesantren nan sahih itu ialah tata cara meraih ridho Allah Swt. Bagaimana menghormati orangtua dan bagaimana orangtua juga menghargai anak-anaknya. Orangtua tak boleh arogan dan anak pun tak boleh tinggi hati dengan orangtua agar interaksi mereka menjadi baik.



Kitab Islam di Indonesia

Berikut ini nama-nama kitab nan banyak digunakan oleh berbagai forum pendidikan di Indonesia, khususnya pesantren, di antaranya:
1. Kitab Minhaj at-Thalibin, tentang metode bagi penuntut ilmu karya Imam Nawawi Banten (wafat 676).
2. Kifayah al-Akhyar, sebuah kitab nan mengulas fiqih madzhab Imam Syafi’i. Karya dari Ad-Dimasyqi (wafat 829).
3. Kitab Musnad Imam Ahmad bin Hanbal.
4. Kitab Al-Itqan fi ‘Ulum Al-Quran.
5. Kitab Shahih Al-Bukhari, kitab kumpulan hadits shahih karya Imam Bukhari (wafat 870).
6. Kitab Shahih Muslim, kitab hadits karya Imam Muslim (wafat 875).
7. Kitab Fath al-Qarib, kitab fikih karya Ibnu Qasim (wafat 918).
8. Kitab Fath al-Wahhab, kitab fiqh karya Ansari (wafat 926).
9. Kitab Fath al-Muin, karya Malibari (wafat 975).
10. Kitab Tafsir al-Kasysyaf, kitab tafsir Al-Quran karya Az-Zamakhsyari (wafat 1170).
11. Kitab Al-Waqarat fi Usul al-Fiqh, uraian tentang ushul fiqih karya Abdul Ma’ali al-Juwaini (1085).
12. Kitab Ihyaa ‘Ulumuddin atau “Menghidupkan Ilmu-Ilmu Agama”, karya Al-Ghazali (wafat 1111).
13. Kitab Bidayah al-Mujtahid atau “Awal bagi Seorang Mujtahid”, karya Ibnu Rusyd (wafat 1198).
14. Kitab Hasyiyah, karya Baijuri (wafat 1277).
15. Kitab I’anah at-Taalibiin atau “Bantuan bagi Penuntut Ilmu”, karya Sayyid Bakri (wafat 1300).
16. Kitab Tarsyih al-Mustafidin, sebuah kitab tentang fiqih karya dari Alwi as-Sagaf (wafat. 1300).
17. Kitab Lata’if al-Isyarat atau “Petunjuk-Petunjuk nan Mudah”, karya al-Quddusi (wafat 1916).


Penjelasan dan keterangan tentang ajaran-ajaran Islam banyak tersimpan dalam kitab-kitab tersebut. Usaha penerjemahan masih giat dilakukan agar semua orang dapat mempelajarinya. Menambah ilmu bagi setiap Muslim. Menjadi penerang bagi orang non-Islam tentang keagungan Islam. Wallahu a’lam.