Nishab dan Cara Perhitungan Zakat Penghasilan

Nishab dan Cara Perhitungan Zakat Penghasilan

Bagi umat Islam mengeluarkan zakat justru menjadi kebutuhan pribadi guna membersihkan harta bendanya. Anda nan memiliki harta dan telah mencapai nishabnya diwajibkan berzakat berdasarkan firman Allah, “Dan mereka bertanya kepadamu apa nan mereka nafkahkan. Katakanlah: ‘Yang lebih dari keperluan.’ Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berpikir.” (QS. Al-Baqarah: 219)

Hendaknya sebagian dari Anda perlu mengetahui bagaimana cara perhitungan zakat penghasilan , agar mampu menghitungnya sendiri dan tanpa ragu mengeluarkan zakat penghasilan tersebut sinkron dengan perintah Allah SWT.



Makna Zakat Penghasilan

Zakat Penghasilan ialah zakat atas harta (maal) nan dimiliki oleh perorangan ataupun Forum dengan syarat-syarat nan ditetapkan secara hukum (syara’). Maal dalam bahasa Arab ialah harta.

Sebagai umat Islam, baiknya pahami sahih makna dan perhitungan zakat penghasilan ini, buat menyempurnakan ibadah Anda.



Syarat-syarat Harta Untuk Zakat Penghasilan
  1. Milik Anda penuh.
    Artinya benar-benar milik penuh perseorangan/Lembaga nan berzakat.
  2. Harta nan berkembang.
    Ia memiliki potensi berkembang bila diusahakan/diikhtiarkan secara baik.
  3. Mencapai nishab.
    Telah mencapai ukuran/jumlah/nishab terendah sinkron dengan ketetapan Agama (syara’). Harta nan tak mencapai nishab tak wajib dikeluarkan zakatnya.
  4. Telah melewati dari kebutuhan primer Anda.
    Dalam arti bila berzakat hendaklah kebutuhan primer hayati Anda sudah terpenuhi terlebih dulu.
  5. Bebas Hutang. Seumpama ada hutang Anda nan dalam pelunasannya menyebabkan tak terpenuhinya nishab, dan akan dibayar pada waktu nan sama, maka ia bebas dari kewajiban berzakat.


Dalilnya ialah hadits Rasulullah SAW : “Tidak ada zakat atas harta, kecuali nan telah melampaui satu haul (satu tahun).” (HR.Tirmidzi, Ibnu Majah, dihasankan oleh Syaikh al Bani).



Kriteria Penerima Zakat

Allah SWT telah menyinggung dalam firmanNya pada QS At-Taubah ayat 60. Yakni mereka nan :

  1. Fakir : orang nan sengsara hidupnya. Tidak berharta dan tenaga buat memenuhi hajat hidupnya.
  2. Miskin : orang nan tak cukup dalam kehidupannya serta kekurangan.
  3. Pengurus Zakat (amil zakat): nan bertugas mengumpulkan dan membagikan zakat.
  4. Muallaf : nan baru masuk Islam dan imannya masih lemah, hingga perlu Anda rengkuh dalam dakwah bil haq, dengan cara membagikan zakat ini.
  5. Yang memerdekakan budak. Juga mereka nan melepaskan muslim tawanan orang kafir.
  6. Yang berhutang di jalan Allah SWT, buat kepentingan bukan maksiat serta tidak sanggup melunasinya.
  7. Yang berjuang di jalan Allah SWT (fisabilillah). Untuk keperluan kaum muslimin. Termasuk juga nan menyangkut maslahat umat. Seperti mendirikan rumah sakit, membangun madrasah/mesjid/pesantren ataupun sekolah.
  8. Musafir. Yang dalam perjalanan bukan buat bermaksiat.


Kriteria Yang Wajib Berzakat
  1. Beragama Islam
  2. Merdeka
  3. Berakal dan baligh
  4. Telah sampai nishab


Nishab dan Cara Perhitungan Zakat Penghasilan
  1. Emas
    Nishabnya 20 dinar Islam atau setara 85gr emas murni. Dalilnya berdasarkan HR.Abu Daud, Tirmidzi.

    Perhitungannya, diambil 2,5% atau 1/40 dari nishabnya. Contoh : 100gr emas murni Anda selama setahun, zakatnya yakni 1/40 x 100gr atau uang senilai harga emas tersebut.
  2. Perak
    Nishabnya ialah 200 dirham, setara 595gr perak. Perhitungannya, diambil 2,5% atau 1/40 dari nishab tersebut.
  3. Binatang Ternak
    1. Onta, nishabnya 5 ekor
    2. Sapi, nishabnya 30 ekor, bila kurang tak wajib berzakat.
    3. Kambing, nishabnya 40 ekor, bila kurang tak wajib berzakat.

Syarat wajib zakat binatang ternak sama dengan zakat penghasilan, ditambah dengan syarat lain, yakni digembalakan di padang rumput nan mubah. Dasarnya adalah, “Dan dalam zakat kambing nan digembalakan di luar, kalau sampai 40 ekor sampai 120 ekor…” (HR.Bukhari)

  1. Hasil pertanian
    Nishabnya adalah 5 wasaq, berdasarkan sabda Rasulullah SAW, bahwa “Zakat itu tak ada nan kurang dari 5 wasaq.” (HR. Muttafaqun ‘alaihi). Dalil lain berdasarkan firman Allah SWT di dalam firmanNya di Surat QS Al-An’am : 141.

    5 Wasaq sama dengan 900kg hasil pertanian. Dan zakat nan dikeluarkan adalah, 1/20 (5%) bila hasil pertanian tersebut dengan cara pengairan. Dan 1/10 (10%) jika dengan cara tadah hujan.

    Berdasarkan Sabda Rasulullah SAW : “Pada nan disirami oleh sungai dan hujan, maka sepersepuluh (1/10); dan nan disirami dengan pengairan (irigasi), maka seperduapuluh (1/20).” (HR. Muslim)
  2. Barang Dagangan
    Sama dengan nishab/ukuran emas. Plus 3 syarat lainya :
    1. Memilikinya tak dipaksa, seperti dengan membeli atau menerima hadiah.
    2. Berniat buat perdagangan.
    3. Telah sampai nishab.
      Perhitungan zakatnya : ( Kapital – Hutang + Keuntungan ) x 2,5%
  3. Harta Karun
    Nishabnya berdasarkan sabda Rasulullah Muhammad SAW : “Dalam harta temuan terdapat seperlima (1/5) zakatnya.” (HR. Muttafaqun ‘alaihi)


Hikmah dari Berzakat

Banyak para ahli ekonomi Islam nan menjelaskan tentang kegunaan luar biasa dari ibadah zakat ini. Zakat nan bisa berjalan secara paripurna di tengah masyarakat akan mempengaruhi kehidupan ekonomi dari kaum fakir dan miskin, serta membantu mereka nan mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan ekonominya. Sayangnya zakat belum menjadi sebuah anggaran nan resmi dari pihak pemerintah, sehingga harta nan seharusnya dimiliki oleh para mustahik tak tertahan pada sebagian orang di tengah kehidupan sosial.

Berzakat merupakan manifestasi dari ketaatan kepada Allah SWT, dengan menunaikan zakat maka seorang muslim telah melaksanakan salah satu kewajiban dalam agama. Tentu pahala nan diterima di akhirat sangat besar terutama bagi mereka nan ikhlas. Dan di global mereka akan mendapat balasan berlipat ganda. Ini memberikan pengertian kepada kita bahwa orang nan menahan harta mustahik juga akan mendapat balasan nan setimpal, selain dosa di kehidupan setelah wafat mereka akan mendapatkan kesempitan hayati dan penyakit hat.

Zakat akan bisa mempererat kebersamaan di tengah-tengah ummat. Kaum nan lemah akan merasakan persaudaraan dari para pemberi zakat. Berbeda halnya dengan kehidupan modern ini, jauh dari syariat Islam sehingga zakat dipandang sebelah mata. Maka tak mengherankan bila antara kaum miskin dan kaya saling berjauhan, timbulah kesenjangan sosial nan bisa mendorong terjadinya berbagai perselisihan dan kerusuhan antar anggota masyarakat.

Tidak semua orang diberikan rizki penghidupan nan cukup banyak oleh Allah SWT, hanya beberapa sebagian kecil dari masyarakat nan masuk dalam kategori pemberi zakat. Hikmah nan bisa diambil ialah kegiatan zakat akan membuat harta berputar dari sang kaya kepada kaum fakir. Sehingga sistem masyarakat nan getol zakat jauh dari Norma menimbun harta. Menimbun kekayaan merupakan perbuatan tercela dalam Ilslam.

Saat memberikan sedekah atau zakat kepada para penerima, seseorang akan merasakan momen nan latif yakni kebersamaan dalam satu akidah. Disparitas harta tak menjauhkan seorang saudara nan satu dengan lainnya, itulah ukhuwah islamiyyah nan kuat dibandingkan dengan ikatan lainnya. Mengetahui banyak nan membutuhkan donasi dari diri bisa memacu seseorang buat lebih bekerja secara ihsan.

Membiasakan diri buat bersedekah dalam kondisi nan sulit dan sempit bisa menghantarkan seseorang mudah dalam berzakat saat dia memperoleh banyak harta. Mulai sekarang jangan memandang sedekah ialah perbuatan nan sepele, tetapi amalan nan bernilai pahala dan menumbuhkan nilai positif dalam diri. Bersedekah ataupun berzakat merupakan aktivitas nan menunjukkan kecintaan kepada Allah lebih tinggi daripada kecintaan pada harta benda.